بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Nemu spot ini akibat nyasar *anaknya nyasaran*. Tokyo Tower, 2016

Mark Twain pernah berkata, "Never let schooling interfere with your education." Yang saya terjemahkan sebagai: Jangan pernah biarkan ijazah mengganggu proses belajarmu.

Kata-kata Mark Twain, selain nasihat-nasihat dan inspirasi dari orang di sekeliling, menjadi salah satu semangat saya untuk mendorong diri sendiri agar bisa melewati batas kemampuan. It helps me pushing myself beyond limit. Menguatkan tekad untuk menghapus pagar-pagar "tidak mungkin" yang tercipta karena tingkat pendidikan yang masih diploma III dan belum boleh kuliah.

Sebenarnya di tahun ini, dari angkatan saya, bukan saya saja yang berkesempatan keluar negeri membawa/karena nama kantor. Ada beberapa teman lain yang sudah terlebih dahulu ke luar negeri. Di pusat saya, ada Mas Zul sudah duluan ke Singapura untuk short course IMF (yang ini saya apply ga tembus-tembus, yodah kumenyerah). Dan setahu saya, ada Agung, Dina, dan Tutus yang sudah ke Malaysia atau Vietnam dalam rangka dinas/kerja sama dengan LN (sebenarnya saya lupa siapa pergi ke mana hahaha *sungkem). Kemudian ada Mas Abi dan saya yang berkesempatan ke LN karena apply tulisan. Ini dari dua event berbeda ya. Mas Abi berkesempatan ke Shanghai. Saya berkesempatan ke Jepang.

Berjalan kaki dari hotel ke kampus. Keio University adalah gedung berwarna merah bata.
Perjalanan saya ke Jepang sendiri bermula dari disposisi atasan untuk mengikuti e-learning yang diselenggarakan oleh ADB Institute. Awal-awal mengikuti e-learning, tidak ada sama sekali klausul pemberangkatan ke Jepang. Keterangannya hanya e-learning selama sebulan dengan tema krisis ekonomi di Asia, di mana di akhir kursus peserta akan diminta tulisan/paper dengan memilih subtema yang ada di video lecture. Subtemanya cukup beragam, seperti fintech, kemiskinan, perumahan, urbanisasi, dan lain-lain yang sering memicu krisis.

Ada belasan (16 kalau tidak salah) video lecture berdurasi rata-rata satu hingga satu setengah jam yang harus ditonton dan beberapa paper rujukan yang harus dibaca untuk melengkapi e-learning tersebut. Ini ampun banget deh mengingat kerjaan di kantor sudah cukup padat dan melelahkan (dan mikir). Saya juga lagi sering lembur. Tiba-tiba jadi berpikir ulang tentang S-1. Mengambil S-1 sambil bekerja pasti berat banget ya. Apalagi S-1 membutuhkan kehadiran fisik.

Di dalam kampus. Saya belajar di lantai 3 di gedung yang putih itu :D
Sebagai strategi menyelesaikan e-learning tersebut, saya mengunduh semua video dan paper yang disyaratkan dan saya transfer semua file e-learning tersebut ke ponsel. Video lecture-nya saya tonton dengan menyicil sedikit-sedikit di kereta, di angkot, dan menjelang tidur. Agak ngenes sih, di saat mbak-mbak commuters yang lain senyum-senyum nonton drama korea di hape, aku kuliah virtual :(

Untuk paper rujukannya sendiri, tidak semuanya saya baca. Dari beberapa paper yang saya baca, itu juga saya hanya memilih membaca abstrak, permasalahan/tujuan penelitian, dan kesimpulannya saja. Efisien :D


Lagi musim gugur masuk ke musim dingin.
Entah di hari ke berapa, ada email masuk dari ADB Institute yang menyatakan bahwa orang-orang yang mengumpulkan paper akan dikirimkan sertifikat. Dan bagi sepuluh orang yang paper-nya lolos penilaian, akan diberangkatkan ke Jepang untuk mempresentasikan tulisannya. Respons pertama: terbelalak. Kemudian: bersorak. Hyaaaay \o/

Pengumuman tersebut tentu saja bikin lumayan terpacu untuk lebih serius mengikuti e-learning, meski jika terpilih (kepedean banget emang gue) saya agak takut juga karena lumayan terkendala di bahasa Inggris. Bahasa Inggris saya cenderung pasif sebenarnya. Bisa mendengar dan menulis dengan cukup baik, tetapi agak kurang di verbal.

Tapi ya sudah sih ya. Di kantor kan lumayan banyak bule, para bule itu Alhamdulillah bisa mengerti aku ngomong apa. Lagipula, presentasi dan tanya jawab hanya dua puluh menit. Insya Allah nggak bikin mati :')

Mengikuti workshopPardon my narcissism.
Sejak awal muncul persyaratan menulis paper, saya sudah tertarik untuk menulis mengenai urbanisasi. Saya memang suka dengan tema-tema urban, atau tema-tema yang menjelaskan dinamika kota dan manusianya. Jadi, untuk tema, pointers, dan flow penulisan, sudah ada di bayangan sekitar tiga minggu sebelum paper dikumpulkan.

Nah, karena penulisan paper ini seringnya tidak sempat dikerjakan di kantor, dan kalau sempat pun hanya bisa maksimal dua paragraf sebelum ada disposisi lagi, pengerjaan paper ini tidak bisa disambi. Beberapa weekend juga habis untuk kondangan, mengumpulkan mood, dan malas-malasan hiahaha *self toyor*. Pada akhirnya saya pun memakai strategi Bandung Bondowoso buat menulis. Agak enggak sehat sih. Tetapi mau bagaimana lagi. Saya gunakan 36 jam di weekend-terakhir-sebelum-deadline-Senin-besoknya untuk intensif menulis (termasuk menyarikan referensi, mencari data, dsb). Saya bahkan minum kopi untuk mencegah kantuk, meski saya dan kopi adalah musuh.

Selalu sarapan ini di hotel. Anaknya enggak berani makan macam-macam hahaha.
Pengumpulan paper itu deadline-nya hari Senin pukul 17.00 waktu Jepang (yang artinya pukul 15.00 waktu Indonesia). Dan ternyata, 36 jam yang saya gunakan untuk menulis (sebelum akhirnya menyerah dan tidur) belum cukup untuk menyelesaikan paper tersebut. Masih ada bab penutupan dan grafik-grafik yang belum ditata. Maka hari Senin saya izin untuk menunda pengerjaan yang didisposisikan ke saya karena mau fokus finishing paper. Tapi tetap saja negara api menyerang dan habislah 3-4 jam waktuku yang berharga untuk menyelesaikan kekacauan negara api, sebelum saya bisa fokus di paper lagi. 

Paper terkirim pukul 14.59 WIB. Sikap saya: kirim, lega, lupa c':

Pemandangan di perjalanan dari kampus ke hotel
Seminggu setelah penyelesaian paper, tepatnya 31 Oktober 2016, saya menerima email dari ADBI yang menyatakan bahwa paper saya lolos seleksi. Saya baca berkali-kali-kali-kali lagi takut salah mengartikan. Dan baca berkali-kali lagi untuk mencoba menemukan kata "sorry", "apologize", "failed", "NOT in our criteria", "have NOT been selected", dan lainnya. Tetapi Alhamdulillah tidak ketemu :D

Waktu di ADBI, saya diberitahu kalau paper yang masuk ada sekitar 30-40-an. Dan sepuluh orang terpilih berasal dari Thailand, Srilanka, Uzbekistan, Georgia, Maldives, Armenia, Pakistan, Papua Nugini, Bhutan, dan Indonesia. Terbayarlah semua lelah, ngantuk, masuk angin, pulang malam, dan begadang selama sebulan.

Got me heart attack.
Sesudah memastikan bahwa saya benar-benar lolos, saya dan Bu Shiho dari ADBI saling berkirim email. Memastikan jadwal keberangkatan, tiket pesawat, dokumen pendukung untuk visa, dan sebagainya. Sejak pengumuman, saya punya waktu kurang dari sebulan untuk mengurus semuanya, termasuk mengurus izin dari kantor dan menyusun bahan presentasi saya nanti (serta acara utama: jalan-jalan!). Waktu yang cukup singkat sebenarnya untuk persiapan ke luar negeri pertama kali.

Pertama kali? Yes.

Saya sebenarnya anaknya tidak berminat keluar negeri dulu sebelum menginjakkan kaki ke Makkah. Tetapi apa boleh buat hahaha.

Saya pun hanya memutuskan perpanjangan waktu dua hari untuk jalan-jalan di Tokyo. Pertama karena saya sendirian dan berlama-lama solo-traveling di Tokyo adalah pemborosan, dan kedua karena saya diminta untuk masuk kantor segera.

Lobi Keyaki Restaurant, lantai 35 Gedung Kasumigaseki.

Bagaimana Tokyo?

Kesan pertama: modis. Benar kata Kak Ika bahwa melihat penampilan orang-orang di Tokyo itu menyenangkan.

Kesan kedua: they really have to put up with aging population. Pekerja-pekerja di sana kebanyakan orang tua. Yang bersih-bersih di dua hotel yang saya tempati adalah orang-orang tua, yang survei para turis ketika di bandara adalah orang tua, yang menjadi petugas bongkar-pasang jalan kebanyakan orang tua. Yang ada di kereta kebanyakan orang tua.

Kesan ketiga: kehidupan baru dimulai pukul 9-10 pagi, dan mulai sepi di jam 7-8 malam. Life is so much easier.

I'll tell you more about Tokyo in my perspective in the next posting.

Berkesempatan makan siang di Keyaki Restaurant, ditemani pemandangan menakjubkan Tokyo di balik jendela-jendela besarnya.

Dua hari pertama saya habiskan dengan mengikuti workshop di Keio University. Dari hotel ke kampus bisa ditempuh dengan jalan kaki 15 menit. Jepang ini memang ramah pejalan kaki ya. Saya selalu melihat trotoar yang ramai dan jalanan yang sepi. Mungkin juga pengaruh dari mahalnya biaya transportasi di sana. Jadi mending jalan kaki atau bersepeda.

And surprisingly enough, most of the women I've seen in Tokyo are using high heels. Me? I surrender wearing my 5-cms high heels in the middle of day two *elus-elus sepatu teplek*

Masih dari jendela Keyaki Restaurant. Bagian tengah ini tidak boleh dibangun gedung tinggi.

Dua hari mengikuti workshop di Keio, secara substansi saya jadi menyadari bahwa saya lemah di kategori moneter dan keuangan. Secara relasi pertemanan, saya mempromosikan jamu Indonesia dengan memberikan Tolak Angin ke teman dari Maldives yang terserang radang tenggorokan karena adaptasi cuaca (Maldives yang sangat panas dan Tokyo yang masuk musim dingin). Secara kuliner, saya merasakan banyak makanan enak yang saya tidak tahu apa namanya sehingga kalau ke sana dan mau cari lagi susah T_T

Oh ya, soal makanan, panitia memang menanyakan dietary restriction masing-masing peserta. Saya sendiri mendaftarkan bahwa saya hanya makan makanan halal. Tentang makanan halal ini, saya banyak ditanya makanan halal itu apa baik oleh pengajar maupun teman-teman lainnya ketika sesi informal. 

Apakah daging sapi halal? Apakah hanya pork dan alkohol yang haram? Pusing juga ya menerangkan konsepnya. Ketika ayam bisa jadi haram, ketika pork (dalam situasi yang sangat-sangat-sangat darurat yang mungkin tidak akan saya temui) bisa halal. Haha.

Ini ikan mentah semua. And I never thought that these raw things tasted delicious.
Setelah workshop hari pertama yang bikin mabok, kami diajak Gala Dinner di NEC Building. Hidangannya ada pork, ayam, dan sushi atau sashimi alias potongan ikan mentah. Saya memilih hidangan terakhir, tanpa dikasih soyu. Minumnya ada berbagai macam sake, bir, wine, dan saya tidak tahu lagi apa. Kondisi ini tidak asing-asing banget bagi saya sebenarnya. Karena kantor sendiri banyak berurusan dengan investment bank dan pihak asing yang pada beberapa kesempatan jamuan makan yang saya ikuti, memang minum-minuman itu menjadi sajian wajib. Alhamdulillah masih ada jus jeruk dan air putih :)

Di Gala Dinner sendiri, saya beberapa kali diajak ngobrol dan ditanya sama orang Jepang mengenai kereta cepat Jakarta-Bandung yang kontroversial itu (yang proyeknya jatuh ke Tiongkok). Apalagi gosipnya Jepang sudah lebih lama mengkaji mengenai kereta cepat ini. It was a though moment. Untungnya saya sudah belajar ngeles dan memberi jawaban normatif.

Selain itu, saya juga sharing dengan teman-teman dari beberapa negara ASEAN yang hadir di sana mengenai kondisi media sosial masing-masing negara yang memang sangat tidak keruan. Jadi, kericuhan media sosial tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Filipina dengan presidennya yang kontroversial, misal, yang memberi dilema sendiri bagi pegawai-pegawai negeri untuk berpendapat.

Memang sulit bagi orang-orang pemerintahan yang semi akademisi ini mengatakan tidak setuju. Untuk mengatakan, "I work for the sake of my country, not for whoever the hell the president or the minister is." Sebaiknya saya tidak bicara ke sana lebih jauh lagi hahaha.

Hari kedua workshop berjalan sama melelahkannya seperti hari pertama. Hingga tibalah hari ketiga: presentasi. Saya di urutan terakhir. Deg-degan seharian.

Saya tidak dapat berkata bahwa presentasi saya sukses besar. Bahkan, saya mungkin yang terburuk di antara mereka saking gugupnya. Dan entah karena berada di urutan terakhir atau karena tema yang saya angkat memang challenging (mulai lagi kepedeannya), saya mendapat banyak sekali pertanyaan, 6-7 pertanyaan, sementara peserta yang lain 2-3 pertanyaan. Kejaaaaaaaaaaaaam T_T

Tetapi dari pengalaman presentasi tersebut, saya belajar memaafkan diri sendiri.

Sungguh, kata-kata orang tua dan sahabat bisa benar-benar jadi penyemangat diri. Orang tua di rumah langsung video call saya. Ibu komen di facebook: "Tetap semangat nak, masih banyak waktu untuk belajar. Insya Allah." Fira nge-chat: "Seharusnya mereka yang malu, Ki" (sayang, whatsapp ke-reset, sehingga aku lupa kata-kata persisnya).  

Apalagi ketika curhat ke peserta dari Thailand (me: "terrible, terrible presentation"), dia berkata, "You are still so young, Rizki. I am 29 years old, has a master degree and I'd been living for 2 years in Edinburgh. And I think, mostly, the other candidates have master degree too. You are doing really good. Your english is good. And you still have many, many times to learn. Be proud of yourself."

Langsung pengin peluk, tapi kemudian sadar kita belum sedekat itu hahaha.

Saya tidak pernah merasakan bahwa kata-kata memiliki efek sebesar itu. Cuma kata-kata. Cuma kata-kata. Tetapi efeknya kuat sekali sehingga saya bisa move on dan langsung jalan-jalan ke Tokyo Tower di malam harinya (untuk nyasar ketika pulang).

Kemudian Pak Wawan (dulu orang BKF), yang kebetulan jadi moderator di presentasi itu bilang ke Mas Bram (senior di kantor) tentang saya: "Kasihan anak kecil dikasih pertanyaan banyak" :')

Ten of us. Delegasi dari Thailand yang baik sekali adalah perempuan yang paling tengah.

Oh ya, saat presentasi, sewaktu istirahat, kami diajak makan siang di Keyaki Restaurant yang ada di lantai 35 Gedung Kasumigaseki. Saya duduk di dekat Ibu Yan Zhang, pengajar tema urbanisasi; di depan Pak Naoyuki, Dean ADBI; serta salah satu delegasi dari Papua Nugini. Saya belajar banyak dari percakapan tersebut. Dan satu hal, restauran tersebut cantik sekali dengan jendela-jendela tinggi, penataan meja yang elegan, dan pemandangan yang rapi khas Tokyo. Sayang saya tidak memfoto interior di dalamnya.

 Restauran Keyaki (Source)
Ini pertama kalinya saya berada di forum internasional, di luar negeri. Ini pertama kalinya saya presentasi di tahun ini (atau mungkin di dua tahun terakhir) dan bukan menjadi petugas administrasi di sebuah event. Pelajaran yang bisa saya share: senyum adalah bahasa yang universal, berceritalah dengan jujur, dan siapkanlah banyak-banyak pakaian hitam kalau ingin menghadiri acara formal/conference macam ini.

Mohon doa, semoga kali kedua, ketiga, dan seterusnya, bisa lebih baik dan lebih bermanfaat lagi. Aamiin.


Haloo :D

Sudah hampir dua tahun saya bekerja, dan mengenai tulisan sebelumnya, saya merasa harus banyak melakukan update. Banyak berdiskusi dan mengamati membuat saya punya beberapa sudut pandang baru saat ini.

Ketika saya membaca lagi paragraf ini:


“Iya, sesungguhnya seni yang paling sulit dalam TKD adalah menentukan keinginan. TKD ibarat titik percabangan di mana kita harus memutuskan ke mana arah dan tujuan hidup kita selanjutnya. Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun—kecuali kalau kita penyuka tantangan dan berani untuk membentuk titik percabangan lain di usia kita yang 30 atau 40; mungkin dengan keluar dari Kementerian Keuangan dan meloncat ke ladang amal yang lain.”



“Lokasi kerja di pusat berarti strukturnya itu-itu aja, kantornya itu-itu aja, jadi jenjang karier juga gitu-gitu aja. Tapi lokasi kerja di pusat juga bisa bermakna lain: kepastian. Kepastian adalah mata uang yang sulit didapat kalau kita berbicara menyoal pemerintah.”

Saya merasa menggambarkan organisasi sebagai sesuatu yang ajeg dan jarang sekali mengalami perubahan. Padahal, kenyataannya, organisasi pemerintahan—khususnya Kemenkeu—adalah organisasi yang sangat dinamis. Sangat, sangat dinamis. Di pusat atau di daerah, semuanya dinamis.

Kita akan banyak melihat orang datang dan pergi. Datang ke dan pergi dari kubikel-kubikel di kanan-kiri-depan-belakang kita, maupun ruangan-ruangan atasan di kantor kita. Dan dinamisnya organisasi itu terbukti juga dengan pola penempatan anak STAN yang berubah-ubah. Angkatan yang (per 2016 ini) lagi magang saja, memilih penempatannya sudah bukan lagi memilih “eselon satu Kemenkeu mana yang ingin ditempati”, tetapi memilih “Kementerian mana yang ingin ditempati”.

“Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun…”

Nope. Not really.

Dari tempat saya berdiri sekarang, saya melihat TKD dan pemilihan instansi awal sebagai titik yang sangat kecil—meski titik yang sangat kecil itu cukup berpengaruh banyak khususnya ke pola pikir kita. Jadi, di manapun penempatannya, bertemanlah dengan banyak orang-orang baik dan punya sudut pandang luas. Bertemanlah dengan orang-orang yang tidak cuma bisa mengajak jalan-jalan atau traveling, tetapi juga orang yang tahu, kondisi negara, misalnya. Orang-orang yang sebenarnya punya excuse untuk menginap di Sofitel Bali, tetapi memilih di tempat yang standar saja karena tahu keuangan negara lagi cekak. Orang yang bisa diajak ngobrol kebijakan terbaru kayak amnesti pajak, roadmap cukai rokok, dan sebagainya. Bukan karena sok pintar atau apalah, tetapi karena hal-hal yang seperti itu dapat memperluas sudut pandang kita. Selain karena ngobrol bareng orang yang sudut pandangnya luas itu tidak pernah membosankan, sudut pandang dan pola pikir itu sifatnya jangka panjang. Makanya, bentuk sedini mungkin :)

Lagi pula, ke depannya, ada banyak sekali lelang jabatan, kebutuhan pegawai di luar rekrutmen PNS, dan sebagainya, yang apabila kita mau berusaha untuk mengikuti persyaratannya, bisa membuat kita tidak duduk bekerja di situ-situ saja. Sehingga, instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD/kocokan penempatan, tidak menentukan kita akan pensiun di mana.

Di kantor saya juga banyak sekali kesempatan untuk mencicipi rasanya bekerja di luar Kemenkeu. Bukan hal yang mustahil untuk bekerja dan belajar di kantor IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya, selama dua atau tiga tahun untuk nanti kembali lagi ke “rumah”. Bahkan secondment ke pemerintahan/lembaga di Australia pun bisa.

Tinggal sekeras apa usaha dan doa kita saja.

Jadi, meski penempatannya kurang sesuai dengan keinginan, atau ternyata pilihan kita realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi, jangan berlama-lama kecewa dan menatap nanar rumput tetangga. Siapkan tenaga untuk perjuangan baru: kuliah, banyak berdiskusi (yang bukan gosip), menambah skill baru, dan mengikuti dinamika yang ada. Tetap berbuat yang terbaik untuk negara ini. Bekerja, kalau diniatkan ibadah, jatuhnya ibadah juga kan?

Tetap bergerak. Karena, air yang diam mengendap lama itu sumber penyakit. Karena, hanya ikan mati yang ikut saja ke mana air mengalir.

Turki :)

Awalnya ini:
http://islamedia.id/sholat-shubuh-di-turki-ramai-seperti-sholat-jumat-di-indonesia/

Kemudian dibawa angin, berubah bentuk menjadi seperti ini:
http://kabar-netizen.blogspot.co.id/2016/01/turki-berjaya-dahsyatnya-shalat-subuh.html


.


.


.


.


.


*nangis*


Saya salah satu pengagum Turki.

Saya ingiiiiin sekali backpackeran ke sana, menghirup udara sebuah negara yang berada di perbatasan Eropa, Asia, dan sering disangka bagian dari Timur Tengah (atau jangan-jangan memang termasuk yang bisa dijuluki negara Timur Tengah?).

Saya ingin ke Masjid Biru. Ingin berdiri di Hagia Sophia.

Dan saya cukup menyukai Erdogan serta beberapa manuver-manuver politiknya.

Tetapi ketika masyarakat mulai berlebihan...

Saya tiba-tiba jadi memikirkan di mana anak-cucu para "penggenggam bara" akan menyembunyikan wajahnya jika tahu bahwa nenek-kakek buyutnya adalah... seseorang yang suka menyebarkan "fakta mencengangkan" yang... ternyata tidak benar.

Satu saja, satu saja poin keanehan di artikel pada link-link tadi:
Turki tidak punya utang.

Turki tidak punya utang?
Utang Turki masih lebih besar dibandingkan Indonesia. Dan utang Indonesia ngga sampai masuk lima besar.
http://www.tradingeconomics.com/turkey/external-debt
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/external-debt
(Trading Economics datanya terpercaya, angkanya sama kayak Bloomberg, dan Bloomberg sumbernya dari otoritas negara yang bersangkutan)

Saya tak hendak menemukan kesalahan lain (tiga pilar pembangunan Turki? Peningkatan ekonomi 10% per tahun?). Hanya saja, saya sedang mengungkapkan kesedihan karena... begitulah.

Turki sendiri sebenarnya, dalam tataran ekonomi, tidak begitu wah perubahannya. Kalau tidak salah, Turki masih termasuk negara Fragile Five (di saat Indonesia sudah keluar dari kelompok itu sekitar tahun 2013-2014). Nilai tukarnya masih payah buat melawan dolar. Dan apabila pertumbuhan ekonominya sampai 10%, kantor berita akan ramai-ramai mengganti headline-nya dengan berita-berita dari Turki. Bukan berita-berita dari China seperti yang sekarang terjadi.

Coba ya, aktivis-aktivis yang ingin membuktikan/mencari hubungan antara, misal, shalat subuh dan pembangunan ekonomi, rujukannya pakai data-data yang ilmiah. Yang confirmed. Landasannya pakai makalah-makalah terakreditasi bahkan jurnal internasional semacam "Religion and Economic Growth across Countries" terbitan Harvard atau bahkan universitas Islam kebanggaan. It'd be really really good on my newsfeed.

Tapi kalau ngga bombastis, siapa yang mau ngeshare hahaha :')
Indonesia, 2015


Assalamu'alaikum!

Hai bloggie.

Merasa sudah sangat lama tidak menulis di sini. Apalagi masalah kehidupan pribadi (lah).

Jadi, sudah sekitar satu tahun dua bulan saya bekerja di instansi tercinta. Alhamdulillah, harus banyak bersyukur karena penempatan di sini memiliki ritme yang membuat saya bisa cepat menyesuaikan diri. Saya akhirnya enggak jadi anak Kopaja P20 yang menunggu di trotoar busway. Alhamdulillah, tinggal di tempat yang sekarang, selain lingkungannya lebih nyaman dan terdidik, saya juga punya banyak alternatif untuk berangkat ke dan pulang dari kantor.

Saya naik kereta. Dan di samping desak-desakannya tiap peak hours yang macam ajang pencarian bakat untuk jadi tribute hunger games, saya bersyukur karena dengan naik kereta, rumah ke kantor bisa ditempuh dengan waktu tiga puluh menit hingga satu jam saja. Tak pakai transit pula. Akhir-akhir ini saja, saya berangkat kerja sekitar pukul 7. Walaupun akibatnya, absen saya di kantor memang selalu mepet. Paling rekor, saya absen pukul 08.00.56 :p

Melihat rekam jejak P20 yang semakin membahayakan keselamatan umat manusia, sudahlah, fix. Saya sudah cenderung dengan KRL.

Selain itu, saya setahun ini juga ikut sebuah Ma'had. Belajar bahasa Arab lagi, menunaikan janji pada diri sendiri. Walaupun sampai sekarang, karena kemalasan, ujiannya belum lulus-lulus *nangis di pojokan*

Kemudian, beberapa bulan lalu, saya juga dijorokin sama Pak Fir untuk masuk ke sebuah kepengurusan ikatan ekonomi Islam. Sebagaimana yang segelintir orang tahu, si Bos adalah ketua dari ikatan tersebut, jadi beberapa orang dari instansi saya juga dimasukkan ke dalam tim untuk mem-back up kinerja beliau (ini terdengar keren walaupun, percayalah, kontribusi saya tidak sekeren itu).

Nah, dengar-dengar, tahun depan akan ada forum internasional ekonomi Islam. Berharap banget bisa ikut, tapi apalah arti harapan kalau kenyataannya aku hanya tukang surat (mulai drama).

Ngomong-ngomong soal forum internasional, awal Desember kemarin, saya mengikuti forum internasional mengenai ekonomi dan kebijakan publik. Momen itu adalah forum internasional pertama bagi saya *tears*. Mendengar akademisi, praktisi, dan expertise level dunia di bidang ekonomi dan kebijakan publik benar-benar bisa membuka mata. Bagaimana agar bahan bicaramu tidak lagi bermuara pada Jokowi vs Prabowo. Bagaimana sebuah kebijakan itu dilihat benar-benar dari substansi atau kajian akademisnya, bukan dari pemerintahan siapa yang menelurkannya. Walaupun ada satu kali ketika senator dari negeri kanguru maju, saya sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dibicarakan karena dialeknya tidak tertangkap telinga T_T

Pokoknya, berjuta terima kasih pada Bapak atasan yang memperjuangkan agar saya dapat ikut.

***

Let me tell you, Bloggie, bekerja di sini dengan hanya bertitel Ahli Madya itu tidaklah mudah. Butuh persisten tingkat tinggi, kemauan belajar, dan resistansi terhadap rasa lelah. Kadang ada sesuatu yang "kasih saya waktu, saya bisa belajar dan menyelesaikannya," tetapi sayang, tidak ada cukup waktu untuk kita belajar dan menyelesaikannya, sehingga kita dicap tidak bisa.

Harus kebal dengan stereotip itu. Apalagi untuk mereka yang terbiasa jadi nomor satu, dicap "tidak mampu" itu bukanlah perkara yang mudah.

Ada banyak kegalauan yang menghinggapi angkatan saya. Mungkin juga angkatan atas-atas saya. Terkait dengan aturan dilarang bersekolah dalam jangka waktu tertentu, aturan yang merupakan sumber demotivasi manusia. Aturan tersebut mungkin memang bagus untuk pengaturan SDM di satu instansi, tetapi menjadi tidak sehat untuk instansi lainnya.

Ini bukan soal ambisius, obsesif, atau keinginan untuk fast track agar segera bisa keluar dari instansi.

Saya tidak tahu, tetapi dari pengamatan subjektif saya, saya seringkali merasa "Gue harus cepat-cepat S-1," bukan karena hanya mengejar ijazah atau status. Tetapi ada materi-materi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan ketika saya sudah S-1. Beberapa kali dikasih tugas, saya mengerti tujuan dan akhirnya akan seperti apa, tetapi selalu terhambat di proses sehingga pekerjaan selesai lebih lama dari seharusnya. And it is kinda frustrating.

Beberapa orang menyarankan untuk membangkang aturan saja, bahwa organisasi ini dinamis, dan suatu hari, apa yang kita bangkang hari ini, bisa jadi bukan sebuah pembangkangan di masa depan. Namanya juga buatan manusia. Tidak konsisten.

Tetapi entahlah.

Kalau para orang-orang terkait tidak dapat meng-handle "kebetahan bertahan para pegawai" saya tidak heran banyak orang pintar keluar dari pemerintahan.
***

Let me tell you, Bloggie, bekerja di sini penuh dengan stereotip. Pemberlakuan merit sistem masih sangat jauh.

Saya menilai diri saya bukan sebagai orang yang cakap administrasi, saya bukan seseorang yang punya kemampuan manajerial yang baik. Ketika penempatan di pusat-pusat, saya dan teman-teman dites profilnya menggunakan DISC. Dan hasilnya, saya cenderung establisher.

Establisher/Developer/Visionary: High ego strength, high standards; approaches issues alone rather than drawing others into the process; can be manipulative, controlling; has vision of “big picture”; very direct, forceful; goal is new challenges, opportunities; fears loss of control, lack of challenge.
Source

Bayangkan orang seperti itu ditaruh di pekerjaan yang membutuhkan kemampuan mengatur hal secara presisi dan butuh banyak berhubungan dengan orang. Sutres nanti dia :')

Dulu, pertama sekali, ketika masuk ke pusat saya hendak di tarik ke sebuah seksi yang membutuhkan tiga kemampuan itu: manajerial, presisi, dan berhubungan dengan banyak orang. Sebab? Feeling saya, hanya karena kerudung saya typical anak pengajian, Dan beliau yang menarik saya juga memiliki identitas yang setipe.

"Maaf bu, kalau bisa memilih, saya enggak mau. Saya menolak di situ."
Sampai sekarang, saya masih enggak percaya saya mengatakan hal tersebut ketika ditawari di seksi tersebut. Anak piyik baru masuk, ditawari previlege ke sebuah seksi, dan menolak. Kalau instansi saya punya kantor vertikal, mungkin sekarang saya sedang di Muko-Muko.

"Kenapa?" Saya masih ingat ekspresi si ibu, campuran kecewa dan terluka.


Coba bagaimana menjawabnya? "Bu, berdasarkan tes psikologi, saya enggak cocok di situ. Kalau secara Feng Shui saya sih, saya belum tes." Masa jawab seperti itu.

Iya, kadang jawaban yang terlalu psikologis susah untuk diterima. Budaya di sini adalah: kita mesti menerima dan bersyukur atas nasib, atas penempatan di mana pun. Buktinya, sang Ibu melanjutkan, "Di sini, kamu harus belajar menerima ditempatkan, di mana pun. Banyak kok yang penempatan tidak sesuai passion-nya."

Bahkan, saya juga sangat tahu, banyak orang yang ditempatkan tidak sesuai dengan keahliannya.

Prinsip saya: "ubah dulu status quo segigih mungkin, kalau tidak berubah, itu baru namanya nasib" langsung terciderai gara-gara nasihat si Ibuk (halah halah).

See? See? Masa saya harus mencopot kerudung dan menjadi anak dugem biar si Ibu alergi sama saya dan tidak ingin menempatkan saya di dekat beliau. Si Ibu adalah orang baik, baik banget malah. Jauh dari sosok antagonis. But it'd be really good for me if professional decision depends on professional considerations.

Saya tidak tahu bagaimana saya menolaknya dulu, bahkan, apakah penolakan saya membuat si Ibu salah pengertian, tetapi akhirnya saya tidak jadi ditempatkan di tempat beliau.

Dan hingga sekarang, saya amat sangat bersyukur bahwa dulu saya tidak pernah menjawab penawaran si Ibu seperti orang kebanyakan, "Saya ikut saja ditempatkan di mana pun."

Jadi, sidang pembaca yang terhormat (kayak ada yang baca aja), berani menolak adalah penting.

Mengubah keadaan, memperjuangkan hidup segigih mungkin, semaksimal mungkin, adalah penting.

Berani menyerahkan sisanya kepada Allah, adalah penting.

***

Sudah setahun, dan banyak yang terjadi. Salah satunya lagi, saya berusaha jadi Kompasianer (dan sepertinya gagal :p). Kalau mau baca, silakan, ini tulisan pertama saya di sini.

Iya, sudah setahun lebih bekerja dan sangat banyak yang telah terjadi. Doakan saya semoga makin dewasa, semoga makin bijaksana, semoga berkah segala pilihan hidupnya.


Tabik,

Saputri


Akhir-akhir ini melihat wajah MUI yang jadi tampak bodoh karena media. Kemarin soal BPJS, dan sekarang tentang seseorang bernama Tuhan.
Saya pernah mengikuti kuliah/ceramahnya Adiwarman Karim (Kalau tidak salah beliau ketua DSN MUI) dan KH Ma'ruf Amin (Petinggi PBNU, MUI juga). Dari sana bisa saya simpulkan bahwa beliau-beliau amat luar biasa berilmu.
Seandainya orang-orang bisa menyimak bagaimana Pak Karim memperkenalkan sistem syariah kepada para stakeholders, menyimak bagaimana beliau mengelaborasi fiqih ekonomi zaman Rasulullah, zaman Umar ibn Khaththab, hingga pemikiran Imam Asy Syafi'i, serta bagaimana MUI mengadopsinya di Indonesia... Atau mendengarkan doa dan penjelasan-penjelasan agama dari KH. Ma'ruf Amin....
Betapa bebal kita kalau tidak merasa bodoh dan ingin terus belajar.
Tetapi di media dan yang mengomentarinya, MUI ujug-ujug jadi bahan lelucon massal. Di berita tentang BPJS syariah, tone-nya lawak. Di berita yang tentang nama Tuhan baru-baru ini pun begitu.
Saya sih ngebaca beritanya "MUI Jatim akhirnya buka suara..." which means mereka yang tadinya ngga mau berkomentar, tiba-tiba mau berkomentar (karena mungkin didesak wartawan).
Kau tahu kalau wartawan Indonesia mendesaknya bagaimana? Kemarin waktu kru IM "lolos" dari kecelakaan Trigana Air, nanya-nanya "Bagaimana perasaannya, Pak?" aja sampai telpon-telpon.
Dan ketika pertanyaan yang diajukan wartawan terkait nama Tuhan adalah, "Bagaimana menurut Bapak soal nama tersebut?" dan dijawab oleh pihak terkait, "Kami imbau untuk mengganti namanya," emang kenapa? Toh yang ditanya pendapat. Hak asasi dong mau berpendapat apa. Toh cuma imbauan/permintaan. Toh memang Islam mengenal pedoman pemberian nama. Toh ngga lantas bilang kalau namanya ngga diganti, kemudian si Tuhan jadi kafir.
Dan soal KTP-KTP itu, setahu saya yang mengungkapkan per orangan, bukan fatwa resmi. Bagaimana bisa itu jadi penghakiman atas MUI, sementara kelakuan Sitok ga bisa jadi penghakiman atas geng jahat Salihara dan sekitarnya?
Orang-orang MUI memang tak maksum. Tetapi saya masih yakin banyak dari mereka yang berilmu. I saw it with my own eyes.
Saya masih berharap dan berpegang kepada MUI. Oleh karenanya, saya tak sampai hati "memperingatkan/menasehati" mereka dengan bahasa-bahasa sok lelucon yang sok menyindir maupun sok kasar.
Semoga kita semua dapat bersikap lebih baik kepada para ulama.