بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me


Haloo :D

Sudah hampir dua tahun saya bekerja, dan mengenai tulisan sebelumnya, saya merasa harus banyak melakukan update. Banyak berdiskusi dan mengamati membuat saya punya beberapa sudut pandang baru saat ini.

Ketika saya membaca lagi paragraf ini:


“Iya, sesungguhnya seni yang paling sulit dalam TKD adalah menentukan keinginan. TKD ibarat titik percabangan di mana kita harus memutuskan ke mana arah dan tujuan hidup kita selanjutnya. Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun—kecuali kalau kita penyuka tantangan dan berani untuk membentuk titik percabangan lain di usia kita yang 30 atau 40; mungkin dengan keluar dari Kementerian Keuangan dan meloncat ke ladang amal yang lain.”



“Lokasi kerja di pusat berarti strukturnya itu-itu aja, kantornya itu-itu aja, jadi jenjang karier juga gitu-gitu aja. Tapi lokasi kerja di pusat juga bisa bermakna lain: kepastian. Kepastian adalah mata uang yang sulit didapat kalau kita berbicara menyoal pemerintah.”

Saya merasa menggambarkan organisasi sebagai sesuatu yang ajeg dan jarang sekali mengalami perubahan. Padahal, kenyataannya, organisasi pemerintahan—khususnya Kemenkeu—adalah organisasi yang sangat dinamis. Sangat, sangat dinamis. Di pusat atau di daerah, semuanya dinamis.

Kita akan banyak melihat orang datang dan pergi. Datang ke dan pergi dari kubikel-kubikel di kanan-kiri-depan-belakang kita, maupun ruangan-ruangan atasan di kantor kita. Dan dinamisnya organisasi itu terbukti juga dengan pola penempatan anak STAN yang berubah-ubah. Angkatan yang (per 2016 ini) lagi magang saja, memilih penempatannya sudah bukan lagi memilih “eselon satu Kemenkeu mana yang ingin ditempati”, tetapi memilih “Kementerian mana yang ingin ditempati”.

“Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun…”

Nope. Not really.

Dari tempat saya berdiri sekarang, saya melihat TKD dan pemilihan instansi awal sebagai titik yang sangat kecil—meski titik yang sangat kecil itu cukup berpengaruh banyak khususnya ke pola pikir kita. Jadi, di manapun penempatannya, bertemanlah dengan banyak orang-orang baik dan punya sudut pandang luas. Bertemanlah dengan orang-orang yang tidak cuma bisa mengajak jalan-jalan atau traveling, tetapi juga orang yang tahu, kondisi negara, misalnya. Orang-orang yang sebenarnya punya excuse untuk menginap di Sofitel Bali, tetapi memilih di tempat yang standar saja karena tahu keuangan negara lagi cekak. Orang yang bisa diajak ngobrol kebijakan terbaru kayak amnesti pajak, roadmap cukai rokok, dan sebagainya. Bukan karena sok pintar atau apalah, tetapi karena hal-hal yang seperti itu dapat memperluas sudut pandang kita. Selain karena ngobrol bareng orang yang sudut pandangnya luas itu tidak pernah membosankan, sudut pandang dan pola pikir itu sifatnya jangka panjang. Makanya, bentuk sedini mungkin :)

Lagi pula, ke depannya, ada banyak sekali lelang jabatan, kebutuhan pegawai di luar rekrutmen PNS, dan sebagainya, yang apabila kita mau berusaha untuk mengikuti persyaratannya, bisa membuat kita tidak duduk bekerja di situ-situ saja. Sehingga, instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD/kocokan penempatan, tidak menentukan kita akan pensiun di mana.

Di kantor saya juga banyak sekali kesempatan untuk mencicipi rasanya bekerja di luar Kemenkeu. Bukan hal yang mustahil untuk bekerja dan belajar di kantor IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya, selama dua atau tiga tahun untuk nanti kembali lagi ke “rumah”. Bahkan secondment ke pemerintahan/lembaga di Australia pun bisa.

Tinggal sekeras apa usaha dan doa kita saja.

Jadi, meski penempatannya kurang sesuai dengan keinginan, atau ternyata pilihan kita realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi, jangan berlama-lama kecewa dan menatap nanar rumput tetangga. Siapkan tenaga untuk perjuangan baru: kuliah, banyak berdiskusi (yang bukan gosip), menambah skill baru, dan mengikuti dinamika yang ada. Tetap berbuat yang terbaik untuk negara ini. Bekerja, kalau diniatkan ibadah, jatuhnya ibadah juga kan?

Tetap bergerak. Karena, air yang diam mengendap lama itu sumber penyakit. Karena, hanya ikan mati yang ikut saja ke mana air mengalir.

Turki :)

Awalnya ini:
http://islamedia.id/sholat-shubuh-di-turki-ramai-seperti-sholat-jumat-di-indonesia/

Kemudian dibawa angin, berubah bentuk menjadi seperti ini:
http://kabar-netizen.blogspot.co.id/2016/01/turki-berjaya-dahsyatnya-shalat-subuh.html


.


.


.


.


.


*nangis*

Saya salah satu pengagum Turki. Saya ingiiiiin sekali backpackeran ke sana, menghirup udara sebuah negara yang berada di perbatasan Eropa, Asia, dan sering disangka bagian dari Timur Tengah (atau jangan-jangan memang termasuk yang bisa dijuluki negara Timur Tengah?).

Saya ingin ke Masjid Biru. Ingin berdiri di Hagia Sophia.

Dan saya mengagumi keberanian Erdogan serta manuver-manuver politiknya.

Tetapi ketika masyarakat mulai berlebihan...

Saya tiba-tiba jadi memikirkan di mana anak-cucu para "penggenggam bara" akan menyembunyikan wajahnya jika tahu bahwa nenek-kakek buyutnya adalah... seseorang yang suka menyebarkan "fakta mencengangkan" yang... ternyata tidak benar.

Satu saja, satu saja poin keanehan di artikel pada link-link tadi:
Turki tidak punya utang.

Turki tidak punya utang?
Utang Turki masih lebih besar dibandingkan Indonesia. Dan utang Indonesia ngga sampai masuk lima besar.
http://www.tradingeconomics.com/turkey/external-debt
http://www.tradingeconomics.com/indonesia/external-debt
(Trading Economics datanya terpercaya, angkanya sama kayak Bloomberg, dan Bloomberg sumbernya dari otoritas negara yang bersangkutan)

Saya tak hendak menemukan kesalahan lain (tiga pilar pembangunan Turki? Peningkatan ekonomi 10% per tahun?). Hanya saja, saya sedang mengungkapkan kesedihan karena... begitulah.

Turki sendiri sebenarnya, dalam tataran ekonomi, tidak begitu wah perubahannya. Kalau tidak salah, Turki masih termasuk negara Fragile Five (di saat Indonesia sudah keluar dari kelompok itu sekitar tahun 2013-2014). Nilai tukarnya masih payah buat melawan dolar. Dan apabila pertumbuhan ekonominya sampai 10%, kantor berita akan ramai-ramai mengganti headline-nya dengan berita-berita dari Turki. Bukan berita-berita dari China seperti yang sekarang terjadi.

Coba ya, aktivis-aktivis yang ingin membuktikan/mencari hubungan antara, misal, shalat subuh dan pembangunan ekonomi, rujukannya pakai data-data yang ilmiah. Yang confirmed. Landasannya pakai makalah-makalah terakreditasi bahkan jurnal internasional semacam "Religion and Economic Growth across Countries" terbitan Harvard atau bahkan universitas Islam kebanggaan. It'd be really really good on my newsfeed.

Tapi kalau ngga bombastis, siapa yang mau ngeshare hahaha :')
Indonesia, 2015


Assalamu'alaikum!

Hai bloggie.

Merasa sudah sangat lama tidak menulis di sini. Apalagi masalah kehidupan pribadi (lah).

Jadi, sudah sekitar satu tahun dua bulan saya bekerja di instansi tercinta. Alhamdulillah, harus banyak bersyukur karena penempatan di sini memiliki ritme yang membuat saya bisa cepat menyesuaikan diri. Saya akhirnya enggak jadi anak Kopaja P20 yang menunggu di trotoar busway. Alhamdulillah, tinggal di tempat yang sekarang, selain lingkungannya lebih nyaman dan terdidik, saya juga punya banyak alternatif untuk berangkat ke dan pulang dari kantor.

Saya naik kereta. Dan di samping desak-desakannya tiap peak hours yang macam ajang pencarian bakat untuk jadi tribute hunger games, saya bersyukur karena dengan naik kereta, rumah ke kantor bisa ditempuh dengan waktu tiga puluh menit hingga satu jam saja. Tak pakai transit pula. Akhir-akhir ini saja, saya berangkat kerja sekitar pukul 7. Walaupun akibatnya, absen saya di kantor memang selalu mepet. Paling rekor, saya absen pukul 08.00.56 :p

Melihat rekam jejak P20 yang semakin membahayakan keselamatan umat manusia, sudahlah, fix. Saya sudah cenderung dengan KRL.

Selain itu, saya setahun ini juga ikut sebuah Ma'had. Belajar bahasa Arab lagi, menunaikan janji pada diri sendiri. Walaupun sampai sekarang, karena kemalasan, ujiannya belum lulus-lulus *nangis di pojokan*

Kemudian, beberapa bulan lalu, saya juga dijorokin sama Pak Fir untuk masuk ke sebuah kepengurusan ikatan ekonomi Islam. Sebagaimana yang segelintir orang tahu, si Bos adalah ketua dari ikatan tersebut, jadi beberapa orang dari instansi saya juga dimasukkan ke dalam tim untuk mem-back up kinerja beliau (ini terdengar keren walaupun, percayalah, kontribusi saya tidak sekeren itu).

Nah, dengar-dengar, tahun depan akan ada forum internasional ekonomi Islam. Berharap banget bisa ikut, tapi apalah arti harapan kalau kenyataannya aku hanya tukang surat (mulai drama).

Ngomong-ngomong soal forum internasional, awal Desember kemarin, saya mengikuti forum internasional mengenai ekonomi dan kebijakan publik. Momen itu adalah forum internasional pertama bagi saya *tears*. Mendengar akademisi, praktisi, dan expertise level dunia di bidang ekonomi dan kebijakan publik benar-benar bisa membuka mata. Bagaimana agar bahan bicaramu tidak lagi bermuara pada Jokowi vs Prabowo. Bagaimana sebuah kebijakan itu dilihat benar-benar dari substansi atau kajian akademisnya, bukan dari pemerintahan siapa yang menelurkannya. Walaupun ada satu kali ketika senator dari negeri kanguru maju, saya sama sekali tidak bisa menangkap apa yang dibicarakan karena dialeknya tidak tertangkap telinga T_T

Pokoknya, berjuta terima kasih pada Bapak atasan yang memperjuangkan agar saya dapat ikut.

***

Let me tell you, Bloggie, bekerja di sini dengan hanya bertitel Ahli Madya itu tidaklah mudah. Butuh persisten tingkat tinggi, kemauan belajar, dan resistansi terhadap rasa lelah. Kadang ada sesuatu yang "kasih saya waktu, saya bisa belajar dan menyelesaikannya," tetapi sayang, tidak ada cukup waktu untuk kita belajar dan menyelesaikannya, sehingga kita dicap tidak bisa.

Harus kebal dengan stereotip itu. Apalagi untuk mereka yang terbiasa jadi nomor satu, dicap "tidak mampu" itu bukanlah perkara yang mudah.

Ada banyak kegalauan yang menghinggapi angkatan saya. Mungkin juga angkatan atas-atas saya. Terkait dengan aturan dilarang bersekolah dalam jangka waktu tertentu, aturan yang merupakan sumber demotivasi manusia. Aturan tersebut mungkin memang bagus untuk pengaturan SDM di satu instansi, tetapi menjadi tidak sehat untuk instansi lainnya.

Ini bukan soal ambisius, obsesif, atau keinginan untuk fast track agar segera bisa keluar dari instansi.

Saya tidak tahu, tetapi dari pengamatan subjektif saya, saya seringkali merasa "Gue harus cepat-cepat S-1," bukan karena hanya mengejar ijazah atau status. Tetapi ada materi-materi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan ketika saya sudah S-1. Beberapa kali dikasih tugas, saya mengerti tujuan dan akhirnya akan seperti apa, tetapi selalu terhambat di proses sehingga pekerjaan selesai lebih lama dari seharusnya. And it is kinda frustrating.

Beberapa orang menyarankan untuk membangkang aturan saja, bahwa organisasi ini dinamis, dan suatu hari, apa yang kita bangkang hari ini, bisa jadi bukan sebuah pembangkangan di masa depan. Namanya juga buatan manusia. Tidak konsisten.

Tetapi entahlah.

Kalau para orang-orang terkait tidak dapat meng-handle "kebetahan bertahan para pegawai" saya tidak heran banyak orang pintar keluar dari pemerintahan.
***

Let me tell you, Bloggie, bekerja di sini penuh dengan stereotip. Pemberlakuan merit sistem masih sangat jauh.

Saya menilai diri saya bukan sebagai orang yang cakap administrasi, saya bukan seseorang yang punya kemampuan manajerial yang baik. Ketika penempatan di pusat-pusat, saya dan teman-teman dites profilnya menggunakan DISC. Dan hasilnya, saya cenderung establisher.

Establisher/Developer/Visionary: High ego strength, high standards; approaches issues alone rather than drawing others into the process; can be manipulative, controlling; has vision of “big picture”; very direct, forceful; goal is new challenges, opportunities; fears loss of control, lack of challenge.
Source

Bayangkan orang seperti itu ditaruh di pekerjaan yang membutuhkan kemampuan mengatur hal secara presisi dan butuh banyak berhubungan dengan orang. Sutres nanti dia :')

Dulu, pertama sekali, ketika masuk ke pusat saya hendak di tarik ke sebuah seksi yang membutuhkan tiga kemampuan itu: manajerial, presisi, dan berhubungan dengan banyak orang. Sebab? Feeling saya, hanya karena kerudung saya typical anak pengajian, Dan beliau yang menarik saya juga memiliki identitas yang setipe.

"Maaf bu, kalau bisa memilih, saya enggak mau. Saya menolak di situ."
Sampai sekarang, saya masih enggak percaya saya mengatakan hal tersebut ketika ditawari di seksi tersebut. Anak piyik baru masuk, ditawari previlege ke sebuah seksi, dan menolak. Kalau instansi saya punya kantor vertikal, mungkin sekarang saya sedang di Muko-Muko.

"Kenapa?" Saya masih ingat ekspresi si ibu, campuran kecewa dan terluka.


Coba bagaimana menjawabnya? "Bu, berdasarkan tes psikologi, saya enggak cocok di situ. Kalau secara Feng Shui saya sih, saya belum tes." Masa jawab seperti itu.

Iya, kadang jawaban yang terlalu psikologis susah untuk diterima. Budaya di sini adalah: kita mesti menerima dan bersyukur atas nasib, atas penempatan di mana pun. Buktinya, sang Ibu melanjutkan, "Di sini, kamu harus belajar menerima ditempatkan, di mana pun. Banyak kok yang penempatan tidak sesuai passion-nya."

Bahkan, saya juga sangat tahu, banyak orang yang ditempatkan tidak sesuai dengan keahliannya.

Prinsip saya: "ubah dulu status quo segigih mungkin, kalau tidak berubah, itu baru namanya nasib" langsung terciderai gara-gara nasihat si Ibuk (halah halah).

See? See? Masa saya harus mencopot kerudung dan menjadi anak dugem biar si Ibu alergi sama saya dan tidak ingin menempatkan saya di dekat beliau. Si Ibu adalah orang baik, baik banget malah. Jauh dari sosok antagonis. But it'd be really good for me if professional decision depends on professional considerations.

Saya tidak tahu bagaimana saya menolaknya dulu, bahkan, apakah penolakan saya membuat si Ibu salah pengertian, tetapi akhirnya saya tidak jadi ditempatkan di tempat beliau.

Dan hingga sekarang, saya amat sangat bersyukur bahwa dulu saya tidak pernah menjawab penawaran si Ibu seperti orang kebanyakan, "Saya ikut saja ditempatkan di mana pun."

Jadi, sidang pembaca yang terhormat (kayak ada yang baca aja), berani menolak adalah penting.

Mengubah keadaan, memperjuangkan hidup segigih mungkin, semaksimal mungkin, adalah penting.

Berani menyerahkan sisanya kepada Allah, adalah penting.

***

Sudah setahun, dan banyak yang terjadi. Salah satunya lagi, saya berusaha jadi Kompasianer (dan sepertinya gagal :p). Kalau mau baca, silakan, ini tulisan pertama saya di sini.

Iya, sudah setahun lebih bekerja dan sangat banyak yang telah terjadi. Doakan saya semoga makin dewasa, semoga makin bijaksana, semoga berkah segala pilihan hidupnya.


Tabik,

Saputri


Akhir-akhir ini melihat wajah MUI yang jadi tampak bodoh karena media. Kemarin soal BPJS, dan sekarang tentang seseorang bernama Tuhan.
Saya pernah mengikuti kuliah/ceramahnya Adiwarman Karim (Kalau tidak salah beliau ketua DSN MUI) dan KH Ma'ruf Amin (Petinggi PBNU, MUI juga). Dari sana bisa saya simpulkan bahwa beliau-beliau amat luar biasa berilmu.
Seandainya orang-orang bisa menyimak bagaimana Pak Karim memperkenalkan sistem syariah kepada para stakeholders, menyimak bagaimana beliau mengelaborasi fiqih ekonomi zaman Rasulullah, zaman Umar ibn Khaththab, hingga pemikiran Imam Asy Syafi'i, serta bagaimana MUI mengadopsinya di Indonesia... Atau mendengarkan doa dan penjelasan-penjelasan agama dari KH. Ma'ruf Amin....
Betapa bebal kita kalau tidak merasa bodoh dan ingin terus belajar.
Tetapi di media dan yang mengomentarinya, MUI ujug-ujug jadi bahan lelucon massal. Di berita tentang BPJS syariah, tone-nya lawak. Di berita yang tentang nama Tuhan baru-baru ini pun begitu.
Saya sih ngebaca beritanya "MUI Jatim akhirnya buka suara..." which means mereka yang tadinya ngga mau berkomentar, tiba-tiba mau berkomentar (karena mungkin didesak wartawan).
Kau tahu kalau wartawan Indonesia mendesaknya bagaimana? Kemarin waktu kru IM "lolos" dari kecelakaan Trigana Air, nanya-nanya "Bagaimana perasaannya, Pak?" aja sampai telpon-telpon.
Dan ketika pertanyaan yang diajukan wartawan terkait nama Tuhan adalah, "Bagaimana menurut Bapak soal nama tersebut?" dan dijawab oleh pihak terkait, "Kami imbau untuk mengganti namanya," emang kenapa? Toh yang ditanya pendapat. Hak asasi dong mau berpendapat apa. Toh cuma imbauan/permintaan. Toh memang Islam mengenal pedoman pemberian nama. Toh ngga lantas bilang kalau namanya ngga diganti, kemudian si Tuhan jadi kafir.
Dan soal KTP-KTP itu, setahu saya yang mengungkapkan per orangan, bukan fatwa resmi. Bagaimana bisa itu jadi penghakiman atas MUI, sementara kelakuan Sitok ga bisa jadi penghakiman atas geng jahat Salihara dan sekitarnya?
Orang-orang MUI memang tak maksum. Tetapi saya masih yakin banyak dari mereka yang berilmu. I saw it with my own eyes.
Saya masih berharap dan berpegang kepada MUI. Oleh karenanya, saya tak sampai hati "memperingatkan/menasehati" mereka dengan bahasa-bahasa sok lelucon yang sok menyindir maupun sok kasar.
Semoga kita semua dapat bersikap lebih baik kepada para ulama.


I was just in a random blogwalking when I remembered an article from a blog that went viral several weeks or months ago. Here is the link.

Well, I replied the article with a comment (and I applied some appreciative inqury approach taught by Bu Evi, IM), but up until now, my comment (dated June 28) is still awaiting for a moderation.

Anyway, this post is existed just to have my writing documented (and published, haha). Here is my reply.



Halo Mbak Sari,
Dapat blog ini dari Kaskus dan senang bisa mampir ke blog ini. Semoga kita bisa berdiskusi secara keren.
Sebelumnya, saya termasuk pembaca buku-buku semacam risalah pergerakan, tapi semoga hal tersebut tidak membuat Mbak Sari subjektif dalam menangkap substansi atas apa yang ingin saya sampaikan :)
Pertama, saya setuju dengan pendapat Mbak terkait demo penggulingan Jokowi. Belum ada setahun, mau digulingin? Kajian macam apa yang melatarbelakangi mahasiswa zaman sekarang sehingga bisa segegabah itu dalam memutuskan tuntutan apa yang akan mereka bawa pas demo? Padahal, argumen yang sama juga jamak digunakan oleh mereka–termasuk saya–untuk menolak penggulingan Mursi.
Kedua, saya setuju atas poin bahwa: dolarlah yang menguat, bukan rupiah yang melemah (melemah dalam arti kinerja buruk rupiah). Dan menguatnya dolar justru jadi masalah di AS karena ekspor mereka jadi anjlok. Jadi di dua sisi, yang mata uangnya menguat maupun yang melemah, memang keadaannya sama-sama jadi masalah. Bisa ditarik simpulan kalau: perekonomian global memang lagi mobat-mabit.
Terkait melemahnya rupiah, Profesor dari Boston pernah berkata kalau ini adalah momentum yang baik bagi Indonesia untuk mendongkrak ekspor. Dan Pak JK, setahu saya, juga pernah mengampanyekan poin tersebut kepada para eksportir. Tapi, benar seperti kata Mbak, Trade Balance kita buruk. Surplus sih. Tapi bukan karena ekspor yang menguat, melainkan karena ekspor dan impor sama-sama melemah dengan penurunan lebih besar di impor. Jadi nyatanya, Indonesia tidak bisa memanfaatkan momentum melemahnya rupiah tersebut. Which is bad.
Ketiga, saya juga setuju bahwa masyarakat Indonesia lagi hobi membagikan hal yang sesuai sudut pandangnya, tapi tidak otoritatif dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Benih-benihnya sudah terlihat dari zaman sms sih, saat banyak sms di ponsel yang berbunyi “Sebarkan ke 10 orang kalau tidak Anda akan celaka…” Hal ini jadi PR kita semua yang “melek” untuk mulai memarahi tukang share berita/artikel ngga otoritatif. Untuk itu, saya suka bahasa Mbak Sari yang galak dan to the point hahaha :)
Dan terakhir, terkait opini Mbak bahwa status Indonesia biasa-biasa saja, di sini yang saya tidak setuju.
Dilihat dari jangka panjang, Indonesia memang sangat punya harapan. Penghapusan subsidi BBM, pembangunan infrastruktur secara merata, dll gebrakan pemerintah semoga bisa dirasakan manfaatnya 2-3 tahun lagi. Kita sama-sama menggenggam harapan itu.
Tapi secara jangka pendek, yang dibutuhkan bukanlah info bahwa “Indonesia sedang biasa-biasa saja”, melainkan info bahwa “Memang ada yang salah dengan perekonomian Indonesia, tapi yuk cari jalan keluar yang solutif, yang bukan menggulingkan presiden”.
Leading indicator yang saya pakai untuk menyatakan bahwa Indonesia tidak sedang baik-baik saja adalah penjualan mobil, motor, semen, serta perkembangan kredit (leading indicator ini juga yang sering dipakai oleh ekonom-ekonom Bloomberg atau The Economist dalam melihat sektor riil). Empat indikator tersebut pergerakannya cenderung drop. Yang artinya apa? Artinya daya beli masyarakat sedang turun. Belum lagi, menjelang lebaran ini ada gelombang PHK massal karena perusahaan menghindari pemberian THR.
Beberapa komentar yang sekilas saya baca di postingan ini, mengeluhkan apa-apa yang mulai terasa mahal. Boleh jadi, itu adalah cerminan banyaknya indikator (dan bukan cuma inflasi) yang berkombinasi untuk menggerus daya beli. (Kalimat terakhir ini opini saya, masih sangat bisa tertolak).
Chatib Basri pada kesempatan Regional Economics Outlook (acara IMF) menjelaskan transmisi risiko dari penurunan ekspor sekaligus penurunan daya beli dalam bahasa yang gamblang. GDP memiliki 4 komponen: konsumsi, investasi, government spending, dan ekspor-impor. Dari empat tersebut, tiga komponennya kurang bisa diutak-atik dengan cepat. Konsumsi: daya beli lagi anjlok, seperti yang saya jelaskan. Investasi: masih butuh waktu untuk jalan dan mengalami beberapa kendala. Ekspor-impor: masih bermasalah seperti yang telah dijelaskan di atas. Jadi ruang gerak kesejahteraan kita memang lagi bergantung sama government spending, sama pemerintah, sama kebijakan-kebijakan fiskal. Jadi kalau ada yang mengatakan titik kritis ekonomi Indonesia ada di pemerintah, ya mereka benar. Gamblangnya: Indonesia dalam jangka pendek memang sedang tidak baik-baik saja dan yang punya ruang gerak cukup besar untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah pemerintah. Ini intisari yang saya dapat dari paparannya Pak CB. Jadi kalau ada yang ngomel sama pemerintah, dia belum tentu jonruiyah dan salah.
Kita harus terima bahwa jangka pendek yang mengkhawatirkan ini, bisa mempengaruhi hal-hal yang sifatnya jangka panjang. Memberi kabut bagi harapan-harapan kita.
Poin yang ingin saya sampaikan adalah: semoga kaum terdidik Indonesia bisa mengajak masyarakat untuk melihat Indonesia secara rasional, realistis, dan menyeluruh. Tanpa optimisme berlebihan. Tanpa pesimisme berlebihan. Tanpa pujian berlebihan. Tanpa hujatan berlebihan.
Karena opini “status Indonesia biasa-biasa saja” menurut saya belum cukup rasional dan realistis untuk dipakai sebagai kacamata dalam meneropong Indonesia.
Semoga petuah dari Chris Sowton: “Be rational. If you are not prepared to change your view about a subject, you should not be studying at university,” bisa mengendap di hati kita semua.
Semoga sukses dengan studinya ya Mbak.
Selamat menunaikan ibadah Ramadhan dan salam hangat dari Tanah Air,
Saputri :)