بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

secangkir kopi

By 5:16 PM

malam itu saya duduk di beranda rumah. bau hujan masih tercium jelas. memandangi anak-anak kecil yang memainkan kembang api sambil memperhatikan langit yang cuma ditemani satu-dua bintang, tidak lebih. hari ini daerah rumah saya mendapat giliran mati lampu, akhir2 ini sering banget gara-gara katanya gardu PLN meledak. saya iseng-iseng membuka facebook dari hp yang udah sekarat, ngeliatin status orang yang sepertinya selalu mengeluh tentang pemadaman listrik lalala. ngata ngatain PLN (a.k.a ngata-ngatain Indonesia juga ya kan?). just the same means with different words. jadi bikin males. akhirnya saya off setelah ganti status 'watching fireworks, it really explodes the dark!' lalu entah kenapa saya masuk ke dapur, terus mencoba membuat sesuatu dg pencahayaan ala kadarnya. teh kesukaan saya abis, susu sereal (etdah energen aja ngapa) juga ngga ada. ngga ada tanda tanda ada minuman yang bikin saya hangat di malam itu. tapi saya tetep ngorek ngorek kayak ayam dan gelatakan ria kayak tikus, lalu menemukan bungkusan plastik bening berisi bubuk hitam.

aha! coffe time!
batin saya senang. sebenernya saya juga ngga suka suka banget sama kopi item gitu, cuma kayaknya oleh oleh dari somewhere yang gue ngga inget itu sangat cocok nemenin perbengongan malam saya waktu itu. saya cuma buat secangkir kecil, lalu duduk2 lagi didepan. di sebelah saya ada gitar nganggur tidak berdaya yang minta dibetot betot. tergoda, saya coba maenin lagu you're not alone nya mika jeksen dengan hanya dentingan senar yang amplitudo dan frekuen~EHEM stopstopstop, pokoknya sok sok akustikan dengan senandung yang hanya saya yang bisa dengar. tapi belum nyampe abis lagu saya stop. angin terlalu lenjeh memainkan jilbab saya, mistis aja gitu.

saya mulai menyeruput kopi saya yang puah, ternyata PAHIT BANGET saudara saudara. ada aja penggemar minuman kayak gini. a minute later i felt silent inside, so i started wandering through my mind. dan saya menemukan INDONESIA dipikiran saya, lalu juga ada SEJARAH, lalu mulai berpikir tentang global. bahwa sebenarnya saya tinggal di negeri yang sangat Subhanallah indah, bahkan bandung diibaratkan dibuat Allah dalam keadaan tersenyum.

mengutip sebuah artikel yang saya lupa darimana, si penulis berpesan
'jangan sampai kekayaan kita menguruk negeri kita sendiri'
see? betapa kayanya negeri kita. tapi sayangnya kita tidak cinta sama indonesia. dan ketika kita tidak mencintai apa yang kita miliki, ketika kita malu bahwa kita orang indonesia, malu kalo belajar bahasa jawa, maka kita tinggal menunggu kehancuran salah satunya, kita atau negeri kita. sayangnya ketika bicara cinta, masyarakat kita sudah jauh tidak mengenalnya, kita kebanyakan hanya mengenal cinta sama pacar, banter banter sama orang tua. kita sudah rusak dari atasnya, kalo hirarki ini ibarat piramida, maka sudah tidak berbentuk piramida lagi. dan yang bisa merenovasinya hanya generasi kita, jangan mengandalkan golongan tua atau mengharapkan generasi peradaban mendatang. tapi sepertinya ketika pagi hari atau siang hari saya melihat sekeliling, ketika lagi ujian dan saya memperhatikan sekeliling, saya bertambah pesimis tentang ibu pertiwi.
"kulihat ibu pertiwi.. sedang bersusah hati... air matanya berlinang.. mas intannya tersimpan..
hutan gunung sawah lautan simpanan kekayaan.. kini ibu sedang lara
merintih dan berdoa"

remember that song? lagu itu diciptain dari dulu, dan masih dinyanyikan sampe sekarang! sampai kapan kita buat ibu pertiwi merintih? mana pembuktian syair
"lihatlah putra putrimu menggembirakan ibu"

saya mengambil cangkir putih kecil yang isinya baru berkurang beberapa mili, menyeruput kopi yang ternyata kopi lampung itu.
ah, ternyata kopi ini belum sepahit masa depan bangsaku.

(a wonderful night in the last september)

You Might Also Like

0 comments