بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Idul Adha dan sekantung daging kurban

By 11:42 PM

"orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman"
tadi, pas main kompi, saya ngga sengaja muter lagu jadul kesayangan ayah itu. amazing banget tuh lirik menggambarkan negara Indonesia. jadi inget sebuah kalimat pas baca suatu artikel "jangan sampai kekayaan kita menguruk negara kita sendiri." saking kayanya negara kita, bahkan sampai bisa menguruk! atau jangan jangan...

Indonesia sudah teruruk?

baru 2 hari yang lalu umat Islam merayakan Idul Adha, Idul Qurban, Lebaran Haji, atau apapun namanya. (ga kerasa libur panjang itu kandas sudah hiks) tapi apakah kita benar benar tahu esensinya?
malam takbiran dirumah saya berjalan flat. datar, dan sepi. tidak banyak gaung gaung dari masjid yang memadukan harmoni, tidak seperti Ied Fitri kemarin. saya juga hanya menonton sebuah channel tv yang menayangkan ceramah, membuat hati saya merinding. takbiran di tv menjatuhkan korban sebanyak beberapa tetes air mata, saya pengin naik haji bareng keluarga, saya pengin berkurban atas nama orang tua. saya pengin nyium hajar aswad bareng bapak ibu dan adik.
lalu paginya, saya sedikit kesiangan, bangun jam 5. dan tralala trilili saya dan ibu akhirnya berangkat shalat ied, cowok cowoknya duluan. saya memilih tempat shalat yang sederhana, walaupun ada yang bagus dan luas.
mushalla At Taqwa adalah tempat yang saya pilih untuk menjatuhkan sujud saya. bukan di mushallanya, tapi di jalanan gara gara tempatnya ga muat, plus ga punya halaman karena udah dibangun rumah rumah, miris. dan dengan speaker ala kadarnya, sehingga suara samar terdengar dari shaf wanita kamipun shalat. tapi itu lebih baik daripada shalat di masjid luas nyaman yang depannya kuburan, entah siapa yang duluan, makam itu ada persis di kiblatnya, hanya dibatasi tembok dan jarak paling setengah hasta dari tembok. sayang sekali.
hari itu belum ada pemotongan kambing. dan hari ini se rt belum ada yang dapet daging (mungkin ada, tapi yang fight jor joran kesana kemari kali hehe). sayang banget kondisi badan yang drop membuat saya ga bisa silaturahim kumpul keluarga, jadi ga bisa ketemu Zaki Adam, anggota baru big family kami, usianya 3 tahun, tapi baru pertama kali dibawa kumpul dijakarta, soalnya tinggal di arab. kata ibu semua orang suka sama dia soalnya lucuu, aduh sebel ga ikuuut. (fyi ibu masa mirip2in dia sama ridho rhoma, ecobaa bukankah itu sangat tidak penting -__-)

besoknya saya mulai liat berita.
"pembagian kurban ricuh"
"beberapa orang pingsan dan anak kehilangan ibunya pada pembagian hewan kurban di masjid anu"
"daging hewan kurban dijual belikan"
"seorang nenek rela berdesak2an demi 1,5 kg daging"
"anak anak terinjak injak pada saat pembagian hewan kurban di masjid ono"
"penerima kurban banyak yang tidak punya kupon dan bukan orang yang wajib menerima"
all of them (that news) has the same topic, that was not about idul adha. tapi kericuhan pembagian daging.

segitu miskinkah rakyat ini?
segitu miskinkah orang-orang islam di Indonesia?
segitu lupanyakah kita sama pepatah tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah? segitu kuatnyakah syaitan menghias daging daging gratis itu, sehingga banyak orang rela sikut sikutan buat dapet sekantung daging?
hanya sekantung daging yang mungkin maksimal isinya 2 kg mampu membuat kita kehilangan perasaan bahwa umat Islam itu bersaudara. rela menginjak, menyerobot, brutal tanpa memperhatikan sekelilingnya, mereka semua saudara kita. oke, daging itu free, mana ada agama yang bagi2in daging gratis setahun sekali. tapi apakah berarti kita kehilangan nurani kita? hanya demi mendapat sekantung daging kambing atau sapi. karena sepertinya ada penggeseran nilai: idul adha=sekantong daging. ga ada daging berarti ga idul adha (berarti rt saya ga idul adha dong?! se rt ga dapet kurban gitu, eh saya dapet sih tapi, Alhamdulillah ibu punya jalan lain yang insyaallah lebih baik daripada mt makan daging sendirian haha) apalagi ada yang sampai ngejualin segala, ya Allah kemana nuranimu melayang saudara saudaraku? saya tidak mengharamkan minta daging pas idul adha (gila bisa dimartil MUI saya hehe) tapi mbok yo jangan lebay sampe giles gilesan gitu, kasian kan anak orang.

padahal ada sisi lain dari idul adha, yang lebih patut kita jalani, daripada sekedar berebut daging kurban. tapi sayang sepertinya something else itu keuruk sama timbunan daging. yap, sesuatu yang lain itu adalah:
ketakwaan Nabiyullah Ibrahim 'alaihis salam buat tega ngga tega tapi ditega tegain menyembelih anaknya demi menunjukan bahwa beliau patuh sama Allah, pemilik jagat.

saudara, beranikah kita merelakan idul adha tanpa mendapat daging kurban? karena kita lebih memilih agar tetangga yang dapurnya selalu sepi dan tidak dapat kupon itu mendapat bagian kita. beranikah kita untuk mengantri, bukan berebut daging kurban? beranikah kita untuk ikhlas kalau ternyata kehabisan?

dan, yang paling baik, beranikah kita berkurban hewan ternak terbaik lillahi ta'ala?

ya Allah terima kasih atas segala nikmatMu kemarin, sekarang, dan yang akan datang, termasuk nikmat berhentinya hujan (walaupun aku suka banget) di idul adha ini.

You Might Also Like

0 comments