بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Day

By 10:37 PM ,

Today was another day with lot of mess. kinda rush.

Saya belum juga keluar rumah, sampai malam ini ada yang sms mau menyatroni saya, ia ingin mengambil sebuah benda yang sudah saya janjikan. Otak saya berpikir cepat, akhirnya saya minta janjian di Hypermarket dekat rumah saya, tapi dia maunya di gang rumah saya. Okelah, daripada di rumah.

Saya masih resmi jadi pengangguran yang menunggu nasib. Masih merencanakan banyak rencana tentang segala kemungkinan. Taulah, saya baru lulus.

Tidak ada hal yang asyik yang saya kerjakan. Biasanya cuma berbagai pekerjaan rumah (yang sudah bukan lagi dari sekolah), lalu membaca terjemah Al-Qur’an, yang tidak bisa tidak membuat saya terpesona, kata-katanya indah tapi juga penuh dengan makna dan kebenaran—sampai-sampai saya tidak tahu lagi mau berkata apa.

Kadang juga menulis dan membaca artikel atau ebook. Selalu tersemangati dengan tulisan Alanda Kariza tentang dunia jurnalistik. Bukankah hampir semua blogger menyukai menulis? Dan mempunyai mimpi suatu saat tulisannya menghasilkan sesuatu? Tapi saya terlalu pemalu untuk mempublikasikannya atau mengirimnya, saya masih mencari sesuatu yang worth untuk ditulis. Itu sangat tidak gampang.

Lalu membantu adik saya, memantau perkembangan PSB SMA/SMK. Sepertinya dia belum beruntung dan dia menyesali kejujurannya—tau kan bocoran UN SMP sangat wow?—Hal bodoh yang tidak perlu.

Orang tua saya kalut adik saya belum dapat sekolah sampai sekarang, jadilah janji orang tua saya untuk mengizinkan saya ke Anyer besok (14 Juli 2010) batal. Ke Glodok, batal. Ke Pasar Senin, batal. Bantuin garage sale, batal. Ke rumah Citra, batal. Ke undangan temen saya, batal. Is there anything i forget?

Dan saya masih berusaha menjadi anak yang baik sekarang. Saya tahu, itu kewajiban.

Walaupun saya perlu melihat dunia luar.

Tidak ada jalan-jalan, tidak ada aktivitas outdoor. Dan coba tebak, berapa hari sudah saya tidak melihat angkot dan aspal? Menyedihkan.

Makanya saya kekeuh mau janjian di luar aja, sejauh mungkin dari rumah kalau bisa.

Langit warnanya aneh malam ini, biru bercampur merah. Gelap. Tapi tetap indah, Tuhan saya selalu sempurna menciptakan segala sesuatunya.
Perjalanan singkat yang menyenangkan dan menyedihkan. Membuat saya merasa kehilangan.

Oke, kalau tidak suka gaya bahasa yang agak berlebihan, stop membacanya sampai disini. Jangan mengusik, karena ini tempat curhat saya.

Saya terus mencari dimana letak titik cahaya di langit. Tapi yang saya temukan malah kenangan lama. Belum lama sih, tapi bayangannya agak kabur.

Saya rindu melewati jalan ini pada sore hari, atau petang hari, atau senja, dan bahkan malam hari—yang kadang sangat pekat karena mati lampu, memakai putih abu-abu. Membawa tas ungu yang beratnya seperti batu kali, oh tentu isinya buku. Saya pelajar yang baik kok.

Saya berjalan dengan lelah, tapi lelah yang selalu berbeda setiap harinya. Kadang lelah yang menyenangkan, kadang menyebalkan. Misalnya ketika saya sadar bahwa hidup saya indah! Sederhana tapi indah. Atau misalnya saya berjalan seperti ada beban 100 ton di pundak saya dan 100 kuintal di kepala saya, karena ada masalah di sekolah, entah apa, biasanya sih nggak jauh-jauh dari rohis, itu ekskul saya. Waktu itu anak rohis sepertinya abg labil semua. Kepala batu yang mempunyai insting untuk memimpin satu sama lain. Itu tidak buruk, hanya sedikit mengganggu. Saya sadar sekarang, memang kami semua banyak yang punya jiwa pemimpin kok. Salahkan hormon remaja saja.

Kadang malam membuat saya lebih mellow—atau konyol?—dan saya menyukainya. Menjadi mellow itu asyik kok, duniamu seperti melambat, dan kau menikmatinya—mensyukurinya.
Saya senang sudah membuat jalan cerita yang tidak banyak bercabang dalam hidup saya. Kenangan yang datar itu sekarang terasa sangat lucu, dan indah.

Rasanya punya sahabat, punya teman yang merangkul. Yang bisa diajak tertawa, yang tidak keberatan melihat saya menangis. Yang mungkin sering saya sakiti tapi dia memaafkannya. Saya tidak pernah mengucapkannya, tapi saya sangat menyayangi mereka, seperti saudara sendiri.
Punya teman-teman yang sangat luar biasa, sehingga kami seperti puzzle, melengkapi satu sama lain, menjadi sebuah gambar yang utuh dan mengagumkan.
Dan, oh ya, tentu saja, punya pengalaman konyol tentang ikhwan genit—terima kasih, sekarang saya jadi lebih waspada terhadap orang semacam kau!

Tempus fugit. Diem perdidi.
The time goes. I’ve lost a day.

You Might Also Like

0 comments