Tuesday, July 13, 2010

Istana Alhambra, Granada, Spanyol.



“Berabad abad lamanya, para peneliti telah dipusingkan dengan teka-teki ribuan huruf Arab (Kaligrafi) yang terpahat di dinding dan langit-langit Istana Alhambara, Arsitektur Islam yang disebut pula permata Eropa. Saat ini, para peneliti sedang mencari berbagai katalog dan sumber-sumber sejarah untuk memecahkan misteri kata-kata yang telah menjadi magnet penarik para turis datang ke Spanyol itu. Semua nampak luar biasa ketika tak ada katalog atau sumber sejarah yang mampu memecahkannya di abad 21 ini”
ujar Juan Castilla, seorang investigator dari sebuah sekolah Studi Arab di Lembaga Tinggi Ilmu Penelitian Spanyol.
Ribuan ukiran huruf Arab terpahat di di dinding dan langit-langit Istana Alhambra yang dalam bahasa Arab disebut Al Hamra.

“Tak ada yang pemenang selain Allah” kalimat itulah yang banyak terpahat berulang di dinding-dinding. “Kalam tersebut berulang ratusan kali,” ucap Castilla.
Kalam tersebut adalah jargon dari Dinasti Nasrid penguasa Granada di Andalusia sejak tahun 1238 sampai tahun 1492 ketika Spanyol berhasil merebut kembali kota itu.
Pesan lain yang juga sering terpahat di sana adalah kata-kata seperti “Kebahagian Abadi” yang menjadi landasan pemikiran dan ekspresi keinginan para umat Islam di Granada waktu itu.
Tulisan-tulisan lain ada pula yang berupa kebenaran umum yang memberi semangat tersendiri, seperti “Janganlah terlalu banyak bicara, dan kau pun akan pergi dengan damai” dan “Bersukacitalah dalam hidup, karena Allah selalu menolongmu.”

Sampai sekarang, hanya ada beberapa penelitian yang mempelajari tulisan-tulisan tersebut.Saat ini, para peneliti sedang mencoba mencari maksud dari tulisan-tulisan lain yang ada di istana tersebut.
Menggunakan teknologi modern serupa kamera digital dan laser pemindai tiga dimensi, mereka mengambil contoh pembacaan dari tiga dimensi berbeda dari batu-batu yang nampak terawat di sana.
Banyak dari tulisan-tulisan yang menyelubungi lengkungan-lengkungan langit-langit dan pilar-pilar, sehingga membuat orang-orang yang berada di bawah sukar memahaminya dengan mata telanjang.
Hal lain yang menyulitkan pemecahan teka-teki ini adalah penggunaan variasi tulisan yang dilakukan oleh pemahat dalam mengukirnya.
Para peneliti berharap bisa menyelesaikan 65 persen dari proyek ini dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Spanyol di akhir tahun. Mereka berharap pula proyek ini bisa selesai di tahun 2011.”

Begitu kata artikel yang bersumber dari suara media yang pertama kali saya buka ketika saya googling dengan keyword Istana Alhambra. Pas saya nonton di tv aja, Subhanallah, kereeeeeeeeennn banget! Nggak boong deh. Istana itu puing-puingnya berwarna merah bata. Mungkin karena arsitektur yang didominasi warna merah itulah maka Istana di bukit La Sabica itu dinamai Alhambra, yang dalam bahasa Arab berarti Istana Merah. Takjub meliha kemegahan Istana yang pastinya melambangan kejayaan Islam di Eropa zaman baheula, sebelum kejatuhannya di abad 14. Kutipan di atas hanya bercerita tentang keunikan dan keluarbiasaan ukiran yang ada di dinding-dinding yang hingga sekarang tidak terpecahkan, padahal banyak lagi keistimewaan lainnya. Banyak yang bilang—atau mengumpamakan—istana ini adalah surganya dunia. Karena arsitekturnya menyerupai surga yang digambarkan dalam Al-Quran, banyak mata air, lalu tanaman-tanaman, keren banget deh. Tapi ketakjuban saya berubah menjadi keprihatinan saat membaca artikel di bawah ini:
Alhambra kini tidak lebih dijadikan obyek wisata, dimana para turis berdecak namun kemudian menelan ludah.

Alhambra didirikan oleh Sultan Muhammad bin Ahmar, raja bangsa Moor yang berasal dari Afrika Utara, pada abad ke-12. Sultan Muhamad masih keturunan Said bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah SAW dari suku Khazraj di Madinah.

"Alhambra mulai dibangun tahun 1238. Mula-mula hanya berupa benteng kecil. Abad demi abad dikembangkan oleh penerus Dinasti Al-Ahmar sehingga menjadi kompleks Istana yang megah dan indah," tutur wanita berambut merah itu.
Betul kata Susana. Dari reruntuhan masih bisa disaksikan kemegahan dan keindahan Alhambra. Ornamen khas peradaban Islam mewarnai setiap lekuk bangunan yang masih ada. Tulisan huruf Arab "Laa ghaliba illalah" (tiada kejayaan selain Allah) terpahat di berbagai dinding. Mungkin tentara-tentara Islam yang menaklukkan Andalusia perlu memahat tulisan itu di setiap pojok Istana untuk mengingatkan diri agar tidak mabuk kemenangan.

Ada taman yang asri di setiap penjuru, parit dan kolam air mancur di setiap kawasan Istana. Teras-teras dari batu marmer. Ruang-ruang dengan kaligrafi Arab dengan ukiran khas yang tiada tandingannya. Patung-patung singa. Menara. Benteng-benteng yang menjulang. Meriam-meriam yang siap menembak. Dan, sebuah mesjid besar yang dinamakan Mesjid Al-Mulk.

Dari produk yang dijual di toko-toko souvenir bisa ditelusuri bahwa pada masa kejayaannya, Istana Alhambra dipenuhi dengan barang-barang berharga seperti perhiasan logam mulia, perak, keramik dan permadani indah.

Selama berabad-abad, Kerajaan Bani Ahmar merupakan negara yang disebut dalam wacana terminologi Islam sebagai "baldatun toyibatun warobbun ghofur" alias "gemah ripah loh jinawi". Namun, disinilah hilafnya, kata orang Malaysia. Setelah 260 tahun berkuasa, anak pinak khalifah Bani Ahmar mulai bertengkar dan berselisih.

"Mereka mulai memperbutkan kekuasaan. Sebagian saling bunuh," kata Allen Simarmata, diplomat Indonesia pada KBRI Madrid.

Ketika bersatu Alhambra kuat. Ketika mulai bercerai berai, Dinasti Bani Ahmar memudar. Pertikaian internal membuat Alhambra makin terpuruk. Sebaliknya musuh-musuh menguat dan bersatu padu menggilas Alhambra.

Betapapun gigihnya usaha Sultan Muhammad XII, raja terakhir Bani Ahmar, untuk menyelematkan kerajaannya, pada akhirnya runtuh juga. Dua kerajaan Kristen yang bersatu "Raja Ferdinand V dari Aragon dan Ratu Isabella (Ini nih kenapa saya benci lagu Isabela*sigh*—pen) dari Castille" berhasil menaklukan Alhambra pada 2 Januari 1492. Untuk itu, Paus Alexander VI (1431-1503) memberi gelar raja dan ratu ini sebagai "Los Reyes Catolicos" atau Raja/Ratu Katolik.

Berakhirlah kejayaan Islam di Spanyol. Dimulailah abad kegelapan bagi kaum Muslimin di Andalusia.

"Hanya ada tiga pilihan bagi kaum Muslimin: keluar dari Spanyol, pindah agama kalau mau menetap, atau dibunuh kalau tidak mau keluar dan menjadi Katolik (Nih yaa, menurut sejarah yang tidak di akui, dari sinilah muncul istilah April mop. Ya. Yang dikerjain waktu itu umat muslim. Mereka yang ingin keluar dari spanyol diizinkan oleh tentara laknat itu, tapi ternyata pas keluar rumah kapal-kapalnya dibakarin dan orangnya dibunuhin, sampe laut disana katanya benar-benar jadi laut merah, laut darah—pen) " kata Bayu, diplomat lain dari KBRI Madrid.

Perpustakaan-perpustakaan Islam dibakar. Bangunan-bangunan Istana dihancurkan. Barang-barang Istana dijarah. Kaligrafi dihapus. Mesjid Al-Mulk yang menjadi salah satu ikon Alhambra dijadikan gereja Katolik. Begitu juga Mesjid Kordoba yang megah dialihkan menjadi Gereja Santa Maria de la Sede.

Raja Prancis Count Sebastiani yang menguasai Spanyol memporak-porandakan benteng dan sejumlah menara pada 1812. Belakangan tentara Napoleon menambah kerusakan Alhambra karena menjadikan kawasan itu sebagai barak prajurit.

Menurut Wikipedia, Napoleon bahkan berusaha meledakan seluruh komplek Istana. Namun, sebelum rencana gila itu terjadi, seorang prajurit yang tidak menghendaki warisan sejarah itu dibumihanguskan, menjinakan sebagian bahan peledak sehingga Istana Alhambra tidak hancur semua. Masih ada sisa-sisa yang bisa menjadi tanda kejayaan Islam di Spanyol.

Itulah yang saya lihat dengan mendecak dan kemudian menunduk sedih.
Sejak saat itu, Granada menjadi wilayah yang diperintah oleh kerajaan Kristen selama 250 tahun setelahnya sampai 2 Januari, 1942, ketika pemimpin Muslim terakhir Granada, Boabdil, menyerahkan semua kontrol dari semua benteng-bentengnya di Granada, untuk Ferdinand dan Isabella. Dan parahnya lagi, kayak yang sudah disebutkan di atas masjid di dalamnya di matikan, maksudnya udah nggak fungsi lagi.
Ya Allah kuatkanlah kami untuk mengembalikan kejayaan Islam…

0 comments:

Post a Comment