بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Dunia Baru

By 10:09 AM

Hallo…
Sudah berapa abad saya nggak ngepost?

Okey, I just make sure that you know you’re reading my blog, which the whole contents, posts I mean, are basically taken from my daily life, my mind, and all. Jadi, ini memang tentang saya dan segala ketidakpentingannya. Tapi, mungkin ini berguna bagi para highschooler yang mau melanjutkan studi ke PTN. Enjoy it.

Sudah dua pekan, hampir tiga pekan, saya memasuki dunia baru. Dunia yang benar-benar asing, dan, well, bikin pusing.
Setelah menjalani serangkaian tes di beberapa PTN, melamar beasiswa, diterima dan ditolak, akhirnya saya memutuskan untuk ikut aja daftar ulang STAN.
STAN? Memang bukan keinginan terbesarku buat ngelanjutin sekolah di bidang sosial. I love science, particulary, earth science. Terbukti dengan jurusan-jurusan tempat saya diterima : geografi, geofisika, meteorologi terapan. Tapi, sebagai anak yang berbakti dan nggak mau menyusahkan orang tua, akhirnya saya menerima STAN dengan pertimbangan-pertimbangan berikut ini:

- Gratis. Sepertinya buku ekonomi yang saya baca salah, dalam setiap buku pengantar ekonomi biasanya ada pepatah “there’s no such things as free lunch.” But hey, I’m attending the college, being lectured, with free tuition! Sebenarnya memang dari kecil ayah selalu bercerita tentang prinsip hidupnya, selepas SMA makan sendiri, lepas dari orang tua. Setidaknya saya bisa bersombong ria sama ayah, “aku juga kuliah bayar sendiri.” hahaha (sebenarnya prinsip ini salah, saya dan anak STAN lain kuliahnya dibayarin rakyat). Dan Alhamdulillah, udah dapet penghasilan sendiri walau belum cukup untuk biaya makan yang bergizi selama sebulan (dan kalian semua musti tau uang saku gue dari ortu disamain kayak pas SMA!!!!). Semuanya bertahap. Tapi karena saya bukan datang dari kalangan orang ningrat, jadi berkuliah secara gratis adalah hal yang besar untuk keluarga saya.

- Dekat dari rumah. Cuma naik angkot sekali, terus jalan sedikit melewati jalanan dengan kambing-kambing nan beranak pinak itu, saya sampai ditempat menimba ilmu. Oya bagi yang mau ngekos, disini banyak banget kosan. Yang terkenal adalah kalimongso dan sarmili, yang termasuk kosan murah. Tapi tempatnya super banget deh, sampe nggak bisa bilang apa-apa. Terus yang mendingan dikit di daerah PJMI, agak jauh. Yang elit lagi daerah Pondok Jaya, bintaro.

- Kuliahnya tiga tahun langsung jadi PNS. Sebagai anak pertama, biasanya kan emang nasibnya jadi tulang punggung keluarga *halah* jadi saya walaupun tidak diminta, sudah terproyeksikan ke arah itu. Dengan program diploma 3, saya hanya kuliah 3 tahun, terus yudisium, wisuda, dan PNS golongan II c kalo nggak salah. Jadi di usia 20 tahun insyaAllah udah bisa mapan, nggak ngerepotin orangtua lagi. Terus bisa nyangsrang ke ujung-ujung Indonesia lagi pas penempatan, itung-itung jalan-jalan (what the?). Biasanya setelah ngabdi 2 tahun, bisa ngelanjutin DIV dengan gelar sarjana sains terapan. Setelah itu, kalo emang memungkinkan bisa lanjut lagi S2 bahkan S3 di luar negeri. Dosen-dosen saya banyak yang lulusan luar negeri, dari Scotland, Houston, Australia, Jepang, dsb. Biasanya ngambilnya seputar finance, aseeekkk keren banget ya.

- Pengaruh temen. Banyak temen yang nyaranin UI aja soalnya kan keren jaket kuningnya, atau AMG soalnya ikatan dinas juga, terus saya nggak perlu susah-susah adaptasi sama IPS. Tapi banyak juga yang nyaranin di STAN, soalnya prestisnya lebih dapet, dan apapunlah itu alasan yang cenderungnya ke hal-hal yang ntar-lulus-lo-bisa-kayaraya-liat-aja-tuh-gayus. Tapi banyak juga tanggapan temen yang menentramkan hati *jiaah* misalnya di STAN saya bisa belajar agama, lebih. Terus temen ayah saya juga bilang “udah AMG mah buang aja.” Ckck.

- Orasi dan provokasi orang tua. Saya yang mau kuliah, mereka yang ribet. Hahaha. Intinya mereka selalu mendukung saya dengan berbagai orasi dan provokasinya yang lebih kayak orang mau ngajak ribut. Misalnya waktu daftar ulang saya di upyak-upyak (maaf kalo nggak tercantum dalam KBBI) bangun pagi. Jam 6 suruh berangkat, padahal pendaftaran jam 9. Mereka sangat paranoid, ketakutan kalau saya nggak kedapetan daftar ulang dengan alasan yang bahkan saya nggak kepikiran. Tapi saya seneng, soalnya orang tua antusias, jadi suasana rumah enak, nggak tegang lagi, karena saya mengikuti kemauan mereka. Kondusif deh untuk memulai hidup yang, err, baru? Walau, tetep, keantusiasan mereka membuat saya kadang-kadang agak haduh-apa-banget-sih-pak-bu. But I love them to death!

- Dan yang paling penting, keyakinan. Setelah doa panjang saya, nangis-nangis karena kayaknya saya kualat banget ngebuang-buang kursi PTN yang udah saya pegang, dikutuk sama saingan-saingan perebut singgasana PTN, dan pas keterima di STAN (you know what? Waktu itu saya ngeliat di warnet, dan umm apa ya istilahnya? I was bouncing up and down like an idiot), langsung sujud syukur dan timbul keyakinan ini adalah tempat kuliah saya, tahun ini, tiga tahun mendatang. Intinya, dalam pilihan ini, saya tidak melepas Tuhan saya, melibatkan Dia untuk salah satu fase terpenting di hidup saya. Doesn’t mean that I’ve ever done that—let my hands go of Allah.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itu, saya memilih STAN sebagai kampus perjuangan saya. Meskipun bulan pertama ini rasanya berat, ilmu IPA saya yang udah terlanjur nempel harus ditimpa perlahan-lahan pakai ilmu baru. Ups, tidak perlahan-lahan, saya cuma punya tiga tahun untuk bersosialisasi dengan sosial. Doakan saja.

You Might Also Like

0 comments