بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Elegi

By 5:06 PM

Burung hitam berputar di awan.

Menyanyikan lagu kematian.

Suaranya melengking, seperti genta-genta angin.

Merekah, menyeruak, melumat malam.

Bulan hilang, bintang tenggelam.

Gelap memekat, lengket, menempel ke jalan-jalan.



Gadis kecil meringkuk, bersandar pada dinding kaca beralas kardus.

Dia sendiri, menanti tapak-tapak langkah sang penolong yang mustahil ada.

Mencari titik hangat di hujan yang datang keroyokan.

Ditangannya, lilin, si penerang tunggal, tinggal satu jari.

Sedangkan malam tidak berlalu seperti kecepatan cahaya yang berlari.



Dia rindu.

Pada senandung syahdu sang ibu.

Pada Ayah yang candanya kaku.

Pada burung murai yang kicaunya merdu.

Pada matahari yang hangatnya lembut seperti lelehan madu.

Dia mendendam dalam rindunya yang kesumat.

Menjadi detak tubuh.

Detak kematian sang ruh.



Napasnya lambat satu-satu.

Menghitung waktu.

Mengutuk membatu.



Perutnya lapar. Kosong.

Lambung mencerna ususnya, hatinya, empedunya, ginjalnya

dan setelah tidak ada lagi yang tersisa, ia mencerna dirinya sendiri.



Ia masih meringkuk seperti pesakitan.

Tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

Keluarganya telah mati duluan,

dahulu, ketika lambung mereka membunuhnya karena kelaparan.

Sekarang, ia sendirian.



Tuhan Sang Perencana Sempurna telah menetapkan.

Takdir. Jalan hidup. Jalan kematian.



Waktu tidak mungkin berkhianat.

Hidup si gadis kecil bagai siklus berulang yang penat, sekarat.

Membingkai cerita sampah.

Yang diinjak para pemimpin keparat.

Seakan si gadis kecil bukan manusia yang sama.

Seakan dia adalah sampah itu sendiri.

Kotor. Bau. Menjijikan.

Tidak perlu repot didaur ulang, cukup dimusnahkan.

Lalu hilang.



Burung hitam terbang berputar di awan.

Menyanyikan lagu kematian.

Berkelebat bagai roh jahat yang tidak kasat.



Si gadis kecil meringkuk, mengkerut.

Lilin, si penghangat tunggal, mati.

Namun itu bukan masalah, ia tak lagi merasa dingin, dunia tak lagi gelap.

Ia sudah hangat dengan kebekuan, terang dengan kepekatan malam.

Lambungnya mencerna dirinya sendiri.

Napasnya tinggal satu, itupun baru saja menguap ke dalam pekat.

Napasnya terbang bersama keikhlasan.

Ia tidak lagi mengutuk.

Ia telah memaafkan, siapapun yang bersalah.

Entah itu Tuhan, keluarganya, maupun pemimpin negaranya. Mulutnya mengkurva, membentuk simpul bahagia.



Burung hitam terbang berputar di awan.

Menyanyikan lagu kematian.

Lalu hilang.





riz'10-





Kadang kita memang tidak seberuntung orang lain. Namun ingat, banyak juga orang lain yang tidak seberuntung kita, maka bersyukurlah.

You Might Also Like

0 comments