بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Indonesia, kenapa kamu?

By 7:41 PM

Entah apa kutukan yang ada di Indonesia, tapi negeri ini... duh, ngga tega saya bilangnya.

Dimulai sejak kapan? Saya juga tidak paham.

Yang saya tau dari semua yang saya baca di buku-buku sejarah, dulu negara kita adalah negara yang ideal, negara yang punya bangsa, walaupun mungkin, belum punya nama.
Negara yang kaya, bukan hanya alamnya, namun juga kaya hati dan semangatnya. Kaya akan kecintaan kepada bangsanya.
Satu, Indonesia.

Kemudian, menggebu-gebulah cita-cita bangsa ini untuk merdeka, bersatu, dan berdaulat. Dan, ya, kita bisa lihat pemikiran hebat rakyatnya di pembukaan UUD 1945.
Dulu, di waktu yang bahkan saya tidak pernah alami, namun kebanggaannya bisa saya rasakan, negara ini, Indonesia, pernah keluar dari PBB, menjunjung harkat dan martabat bangsa di atas segalanya. Ya, inilah Indonesia!
Negara yang juga pernah menyuruh Amerika untuk ke neraka.

Sekarang, saya bertanya-tanya, dimana ya keberanian itu bersembunyi?

30 September 1965.
Soekarno yang gagah, mungkin sudah lelah.
Siapa sih yang tidak tahu apa yang terjadi di tanggal tersebut? Peristiwa yang menyebabkan Indonesia berpindah tampuk kepemimpinan. 11 Maret 1966, melalui sebuah surat perintah yang sampai sekarang rakyat Indonesia tidak pernah tau apa isi sebenarnya, Indonesia berada di babak baru kehidupan.

Pembangunan, Pembangunan, Pembangunan.
Sayang, di babak baru itu, kita hanya membangun gedung dan jalanan, tapi tidak membangun hati.
Dan Indonesia kita tercinta akhirnya mulai mengenal KKN, mulai kehilangan jati diri.

Waktu terus berputar, menghakimi tanpa ampun.
Presiden berganti presiden, masing-masing meninggalkan warisan, tak peduli baik atau buruk.

Masih ingat kan Timur-Timor yang hilang? Atau periode mabuk privatisasi? Atau budaya melancong ke luar negeri?

Kalau kalian tidak ingat, setidaknya saya ingat.

Indonesia, Indonesia.
Apa ini jati diri yang sebenarnya ya?

Kita kaya sumber daya alam, tapi kekayaan itu seperti menguruk kita.
Dengan asyiknya, manusia yang punya kuasa di Indonesia, menjual SDA ke asing. Minyak kita, gas kita, mineral-mineral yang ada di bumi kita.
Bahkan kalau kita mau membuka mata, rakyat kita cuma jadi kuli!
Ya, kuli. Mengangkuti belerang dari kawah, menambang mineral-mineral dari tanah. Kalau lagi apes, nasibnya ngga jauh-jauh dari mati keuruk, atau keracunan. Kenapa kita tidak bisa menyuruh para bule yang badannya gede mengangkut itu semua dan kita yang kaya ini tinggal pakai otak untuk menjalankan sirkulasi kekayaan?
Kenapa harus kita yang kaya yang menderita?

Kemudian, kutukan, atau entah apalah namanya, seperti menumpuk sekarang-sekarang.
Jujur, saya jengah nonton berita, setiap hari muncul yang baru, padahal yang lama belum selesai.

Saya nggak begitu ingat urutannya apa, tapi rentetan berita itu... mengerikan.
Mulai dari kasus korupsi yang makin kesini makin gila. Membawa satu nama sialan, Gayus Tambunan, yang kata orang kakak kelas saya. Tapi sih saya ngga merasa. Dan nggak mau mengakui, ih siapa dia.
Kemudian juga ada nama-nama lain, seperti, Arthalita Suryani yang di sel aja gaya sok apartemen. Kemudian kasus Century, yang entah bagaimana kabarnya sekarang. Sri Mulyani nyepi di Washington, Boediono? Hanya Tuhan yang tahu apa kerjaan dia sebagai wapres selama ini.
Semua kasus itu masih ngga jelas, eh ada berita trio Ariel, Luna, Cut Tari.
Anggota DPR melancong ke luar negeri tanpa keperluan dan alasan yang logis.
Anggota DPR yang minta ganti gedung karena gedung yang sekarang miring. Saya pikir sih, otak mereka yang miring.
Lagi-lagi, banyak tentang kasus korupsi, dan anggota DPR yang ngga punya hati.
Dan ketika Merapi dan Mentawai mengamuk, demi apapun, Pemerintah tidak langsung tahu dan tidak cepat tanggap.
Sampai sekarang yang lagi marak, tentang Yogyakarta yang diusik keistimewaannya.

Udah apa Pak Beye, yang udah beres nggak usah di utak atik lagi. Benahi dulu yang belum beres. Kalau menurut Bapak Yogyakarta belum beres, menurut saya itu bukan prioritas yang harus didahulukan.

Teman, ayo kita membangun Indonesia dari bidang kita masing-masing. Setidaknya, kita tahu kalau kita adalah changemakers. Para sepuh yang duduk di DPR dan sebagainya nanti akan kita gantikan. Makanya, siapkan hati, siapkan kesungguhan.
Karena sepertinya, Indonesia kita sedang dalam keadaan koma.

"Tenagaku dan bahkan pun jiwaku, kepadamu relaku beri..." (penggalan terakhir dari Indonesia Tanah Air Beta)

You Might Also Like

0 comments