بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Anak Perempuan

By 11:19 PM

Hari ini, sekitar jam 8 malam saya pergi ke kampus untuk mengambil gambar penutupan sebuah event kampus yang massanya lumayan besar. Dan jeng jeeeeng, saya kaget banget melihat seseorang yang saya kenal cukup baik (dan alim) tiba-tiba dirangkul seorang cowok.


Saya mungkin bisa dibilang freak (karena disebut alim pun ngga pantes) jika melihat perempuan dan laki-laki berdua-duaan (malem-malem lagi) padahal belum nikah. Biasanya saya terkesiap beberapa detik sebelum akhirnya nyawa saya kembali ke tubuh.

Akhir-akhir ini, saya sering pulang jam setengah sepuluh malam dari kampus, karena kesibukan saya bertambah satu lagi: saman. Jelas, UKM kesenian di kampus ini lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan pagelaran tunggal, mau ngga mau kita sibuk nyari dana. Karena itu saya juga ikut disuruh bantu panitia buat nari di emperan jalan (kemarin di pojokkan Ninewalk Bintaro lhooo), mengisi acara di pentas kecil yang bahasa kasarnya: ngamen.

Mungkin saya terlalu sering berada dalam zona nyaman. Pulang selarut itupun biasanya habis rapat, atau kajian, atau majelis ilmu, atau apapun lah yang perempuan dan laki-lakinya dipisah, atau kondisi dimana perempuan dan laki-lakinya cukup punya malu untuk berbuat yang aneh-aneh, atau kondisi dimana laki-lakinya adalah tipe laki-laki gentle, bukan masteng. Di SMA juga para anggota laskar akhwat selalu ingat untuk menutup mata saya ketika ada kemungkinan saya melihat hal yang tidak-tidak. Mereka tidak segan-segan memarahi saya, atau menarik saya pulang, atau juga menguatkan hati saya untuk tidak ikut-ikutan acara hedon.

Orang tua saya di rumah juga hampir sama strict nya, saya baru boleh menonton film romansa pas SMA. Selain itu saya juga selalu disemprot wejangan sama ayah bahwa "lebih mudah jagain kerbau sekandang daripada anak perempuan satu" ketika saya mulai berani pulang malam, yaitu pertengahan SMA, ketika saya mulai berani pulang jam 9. Ketika saya mulai berani membuat janji jalan-jalan ba'da ashar--yang pasti pulangnya ketika matahari tenggelam.

Walaupun pada perjalanannya saya selalu mengutuki dalam hati (iyalah, jiwa muda ditekan ngga boleh ini dan itu, disamain sama kerbau sepulau Jawa, dengan teman-teman yang bukan tipikal anak yang dimarahi hanya karena pulang larut) Alhamdulillah, toh pada akhirnya, lingkungan-lingkungan yang seperti itu membuat saya terbiasa menjaga diri.

Seperti akhir-akhir ini, ketika saya bisa pulang di atas jam 9 tanpa kena semprot ayah saya lagi, saya merasa sangat bersyukur--sangat sangat bersyukur, dididik dalam lingkungan seperti apa yang saya dapat.

Melihat teman-teman sebaya saya, yang mereka dengan mudahnya bersandar di bahu orang yang bukan mahramnya, berangkulan, melakukan physical contact yang seharusnya belum boleh dilakukan, rasanya agak perih. Gimana ngga, mereka berkerudung, bahkan ada yang saya kenal dia karena ketemu di salah satu forum organisasi islam, atau yang lebih luas, mereka Islam. Mereka meretweet ayat Al-Qur'an. Mereka menulis status tentang satu-satunya kebahagiaan harusnya lewat jalan Tuhan.

Mereka jatuh cinta, dia jatuh cinta, kamu jatuh cinta, saya juga jatuh cinta, tapi kenapa dengan satu pedoman, jalan kita bisa berbeda? Pemikiran kita berbeda? Argumen kita berbeda?

Kita, para anak perempuan, sama-sama punya orang tua. Dimana kita, anak perempuan, mampu menarik Ayah-ayah kita ke neraka. Kita sama-sama punya orang tua. Dimana kita, terkadang tidak memikirkan apa yang Ibu rasakan jika pamit kita ke kampus, ternyata juga menyelipkan agenda dua-duaan.
***

Hari ini, setelah selesai meliput penutupan event kampus itu, saya seperti biasa dijemput ayah saya. Ayah bertanya "kok pacarnya ngga mboncengin?" (Ini murni majas, asli nyindir. Maksudnya kenapa ga ada yang nganterin ke depan gerbang belakang kampus, pake motor. Karena waktu itu saya berpapasan sama Ayah pas jalan sendirian ke gerbang Ceger, sekitar setengah sepuluh)

"Ngga dong, Yah. Ntar aku disamain lagi sama kerbau seindonesia."

You Might Also Like

0 comments