بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Senter

By 1:19 AM

Tidak seperti lilin, senter memberi cahaya tanpa membakar (kecuali konslet).


Oke, saya memang payah dalam membuat quote (dan judul berita) ._.


Media Senter, begitu nama grup Facebook organisasi kampus yang saya ikuti, ketika saya pertama kali diinvite ke dalamnya. Organisasi ini, sebelum mengukuhkan saya jadi anggotanya, menanyai saya mengenai independensi (selain menyuruh saya merayap seperti cicak Spiderman di depan kolam air mancur kampus *ehem Kak Sari*--yang saya tidak mau melakukannya, karena gila aja, ada Kak Medi. Kalo cewek semua mah saya oke-oke aja, disuruh kayang di depan STAN macem Muammar(oh Husnantiya) juga akan saya jabanin *belaga).


Independensi adalah kekukuhan agar rumah tangga (rumah tangga model apapun itu, organisasi juga rumah tangga kan ya) tidak dicampuri orang lain. Berusaha melihat dengan sudut pandang yang tidak dibiaskan oleh orang lain. Kondisi tanpa keterikatan yang mempengaruhi dengan pihak manapun. Tidak mengusung kepentingan apapun (kecuali kepentingan publik--dalam hal ini, mahasiswa).


Dan setelah saya menjawab apa itu independensi, sederet pertanyaan "what if" muncul, seperti, bagaimana jika lembaga menerima dana dari lembaga lain? Apakah masih bisa disebut independen?


Tidak, jawab saya yakin.


"Kalau begitu, menurut kamu lembaga yang akan kamu ikuti ini tidak independen?"


Nah loh.


Saya lupa bagaimana cara saya ngeles dan selamat (atau mungkin dimaklumi, sudah ketahuan oon-nya) dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. Karena pada dasarnya, saya sama sekali awam dengan dunia kejurnalistikan--dan perpolitikan, tentu saja.


Saya itu termasuk orang yang tidak mau mengenal politik. Saya tidak ikut OSIS/MPK ketika SMA, menjadi wakil ketua keputrian juga bukan membuat saya akrab dengan dunia seperti itu, tapi malah membuat saya nyuruh orang ketika berurusan dengan birokrasi. Entahlah, saya masih merasa mental saya itu mental anak buah yang memilih mengikuti saja sistem yang ada, bukan tipikal pemimpin yang suka mengkritisi ini itu, bukan juga orang yang suka memimpin (kalau memimpin diibaratkan sebagai 'akrab dengan birokrasi'). Istilahnya, saya itu nrimo.


Kalau ada sistem jelek, biar saja, nanti toh akan hancur sendiri. Siapa yang menghancurkan? Bukan saya pastinya.


Kemudian, mengapa saya memilih organisasi ini? Organisasi serius yang orangnya cadas-cadas, ngga pasrah dengan keadaan kayak saya.


Pertama karena saya suka menulis, walaupun tulisan saya itu genre dari kecilnya fiksi fantasi--kadung akrab dengan genre ini. Saya senang berimajinasi, tapi saya benci menganalisis sesuatu. Saya suka membaca dari kecil, tapi ketimbang membaca rubrik tentang tokoh di majalah Aku Anak Saleh, saya lebih tertarik dengan kolom cerita-cerita Shahabat dan Shahabiyah, juga dengan rubrik gambar kiriman, juga dengan cerita pendek tentang ksatria semut, cacing, gajah, dan apa saja. Yang penting cerita yang membuat seolah-olah ada film berputar di otak saya.


Saya ingat, dulu ketika SD, diinspirasi oleh berbagai cerita dongeng, saya pernah membuat buku-buku cerita bergambar buatan tangan saya sendiri, dengan ide cerita dari saya sendiri. Putri Api, Kerajaan Waktu, Padang Rumput Berawan (cuma tiga ini yang diinget -.-), dan dengan setting, gambar, serta plot yang lengkap seperti penampakan buku-buku cerita yang pernah saya baca. Scrap awut-awutan tersebut kemudian saya klip menjadi sebuah buku cerita buatan tangan yang amat sederhana, mungkin hanya dari beberapa lembar kertas HVS yang di staples.


Tapi, biar jelek, teman-teman saya pada tertarik memilikinya, akhirnya saya berikan saja buku-buku itu kepada mereka (jadi agak menyesal, sekarang saya tidak punya satu pun :( hiks)


Menjelang kuliah, saya merasa kalau usia saya sudah tidak cocok lagi dengan cerita-cerita macam itu. Seharusnya, saya sudah tidak membaca novel lagi, tapi biografi. Seharusnya, saya sudah tidak mengarang cerita fantasi-fantasi lagi (mungkin masih boleh mengarang cerita fantasi, tapi harus diimbangi dengan tulisan yang berbobot), seharusnya yang saya tulis adalah essay, jurnal ilmiah, karya tulis, dsb. Kan kata orang-orang, saya calon birokrat.


Jadi, alasan pertama: Saya suka menulis, dan saya harus belajar agar tulisan saya berbobot.


Kedua, karena melihat mentor pertama saya di kampus adalah anggota LPM (yang sekarang saya ikuti) itu, saya jadi sedikit tertarik. Kak Dian itu punya cara berpikir yang keren, pasti lingkungannya juga keren, pikir saya. Akhirnya, agar pikiran saya 'menapak bumi'--istilah yang sering saya pakai untuk membahasakan pikiran yang nalaris analitis, lawannya pikiran imajinatif--saya memutuskan ikut organisasi ini.


Saya tidak tahu, apakah jalan berpikir itu adalah sesuatu yang sifatnya genetik atau dipelajari, jadi daripada saya menyesal karena tidak pernah belajar untuk memiliki jalan pikir yang baik (dan keren), saya memilih untuk belajar dengan berkecimpung di dunia pers.


Yap, alasan kedua: biar keren bisa memiliki jalan pikir yang baik, karena dikelilingi orang yang banyak pengetahuan dan pengalaman.


***

Makin kesini, kuliah makin berat, menjadi anggota MC juga berat.

Seseorang pernah bertanya, "kamu digaji ngga sih?" ketika kami sedang menceritakan bagaimana cara kerja organisasi kami masing-masing.

Otomatis tawa saya menyembur. "Digaji? Pake duit mahasiswa? Saya masih ingin hidup tenang sih ya. Belum mau dilelepin massal di kolem kampus--yang ijo berbusa itu." 

Mungkin teman saya yang nanya itu melihat saya sering keteteran (padahal ini emang saya aja yang manajemen waktunya jelek, plus plus penyakit priority disorder kambuhan).

Kebetulan saya jadi bendahara perusahaan (tugasnya jadi selain jadi bendahara juga nyambi kurir, nyambi sales, nyambi jadi tukang cetak-cetak, oya sama mikir. Mikir produk apa yang bisa disulap jadi uang), jadi reporter juga (karena hakekatnya, semua mabeng--makhluk bengkel, sebutan untuk personel MC--adalah reporter), kadang diminta jadi editor, belum lagi kalau ada kepanitiaan--pasti jobnya dobel-dobel, deadline bertubi-tubi. Apalagi semenjak angkatan #12 lulus dan ngga ada SDM tambahan karena penerimaan mahasiswa D3 tahun 2011 tidak ada.

Kadang rasanya mau resign saja dan say hello kepada kehidupan mahasiswa apatis yang aman dan damai. Kuliah-pulang-kuliah-pulang atau palingan sibuknya nongkrong di lawson. Pokoknya belajar aja, biar jadi jenius kayak tewe :D

Tapi kenapa ya, seperti ada yang mengikat untuk tetap disitu.

***


Waktu itu, ketika saya diinterogasi--entah jam berapa, mungkin jam 2 atau jam 3 pagi-pagi buta--sebelum dikukuhkan jadi angkatan #14, saya ditanya mengenai kejadian yang sedang ada di Mesir.

Saya bingung, memang di Mesir ada apa? Tergugu, mencoba berpikir tapi tidak punya klu. Saya tidak nonton berita seminggu itu.

Kemudian dengan jujur saya menjawab, saya ngga tahu. Ironi, karena sejatinya, saya sedang melamar jadi kuli berita.

Kemudian, dengan penuh rasa bersalah, saya berjanji sama Kak Sari dan Kak Medi untuk sering-sering baca koran dan nonton berita. Untuk tahu apa-apa yang terjadi di dunia. Di akhir wawancara, Kak Medi menegaskan lagi, kalau janji itu ngga boleh sembarangan. Karena pasti bakal ditagih. Nanti.

***

Mungkin karena janji itu, atau juga rasa memiliki keluarga lain di luar rumah dan kelas, saya sungkan mengeluh kalau saya ingin keluar.

Mungkin karena saya masih haus berdekatan dan berdiskusi dengan orang-orang yang kritis (atau sekedar mendengarkan mereka berdiskusi), saya masih bertahan.

Mungkin karena merasa nyaman ketika ngobrol bareng di bengkel. Karena saya suka rindu dengan cara bercandanya yang santun, tapi membuat tidak bisa untuk tidak tersenyum.

Mungkin karena saya masih butuh identitas di kampus--sebagai anggota suatu organisasi--yang kata si Abraham Maslow, sebagai sarana aktualisasi diri.

Mungkin karena masih banyak buku bengkel yang mau saya pinjem saya ngga rela keluar begitu saja.

Saya pernah bertanya ke seorang mabeng, "kamu menyesal ngga sih ikut organisasi ini?"

"Hah?"

Saya mengulangi pertanyaan saya lagi, sampai tiga kali. Mungkin karena pertanyaan yang aneh itu keluar ketika Media Camp 2012 selesai terlaksana--ketika rasa kekeluargaan mungkin lagi besar-besarnya.

"Hm, bukan menyesal kali ya. Melainkan terbebani." Akhirnya dia menjawab.

Terbebani itu pasti. Saya juga kok, diburu deadline tuh seperti dikasih tau kamu mati kapan dan belum sempat minta maaf ke semua orang. Pasti Pak SBY juga merasa terbebani kok *lha maksud?*

Setiap habis pamit cium tangan sama orang tua hendak berangkat kuliah, kemudian ibu berkata "sekolah yang pinter ya, nak" saya juga merasa memanggul beban, padahal kata-kata itu adalah kata-kata yang sama yang saya dengar hampir setiap hari sejak 14 tahun lalu.

Kalau dipikir lagi, dengan telepati kami yang kuat *halah* saya bisa menyimpulkan yang dia maksud dengan terbebani bukanlah seperti yang ada di mindset orang-orang kebanyakan. Bukan terbebani karena kita benci, tapi karena kita merasa bertanggung jawab untuk melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya.

Tapi menyesal? Kami sepakat bahwa jawabannya adalah tidak--dan tidak akan pernah menyesal bergabung dengan organisasi ini. Saya dan dia tidak pernah menyesal bertemu dengan orang-orang sehebat mereka, setangguh mereka (ya, tangguh, karena orang yang kerjanya diburu deadine itu jantungnya pasti kuat (.′)9). 

Kami tidak menyesal pernah berdiskusi, mempelajari jalan pikiran, membaca ide-ide mereka yang tertuang dalam tulisan, dan hal-hal lainnya yang sudah banyak kita lewati selama setahun setengah ini.


Saya tidak bisa tidak berterima kasih dengan perjalanan yang entah bagaimana terasa singkat ini. Mungkin, hanya saya dan Tuhan yang tahu bagaimana jalan pikiran saya mulai berubah. Bagaimana saya menjadi terbiasa bertemu dan berbincang dengan orang baru (yang sebelumnya saya cukup anti) hasil dari kewajiban wawancarain orang.


Sekali lagi, mungkin hanya saya dan Tuhan yang tahu perubahan baik apa yang telah terjadi di diri saya selama di kampus ini (dan yang pasti tidak terlepas dari peran organisasi tercintah ini).

Ya Allah, terima kasih atas kesempatan yang kau berikan.


***
Ketika saya kesal karena senter itu terlalu berat untuk dibawa (mungkin karena ukurannya yang superjumbo *abaikan), dan kemudian saya memilih untuk melepasnya--menjatuhkannya di tengah perjalanan--pada akhirnya saya pasti akan menyadari bahwa keputusan saya salah. Kemudian, sayalah yang akan merasa kehilangan, meratapi keputusan.

Yah, sepertinya ketika saya kemarin memutuskan untuk mundur teratur dan keluar, bukan mereka yang akan merasa kehilangan, bukan organisasi itu. Pasti.

Tapi saya sendiri.


***


Terima kasih, mabengs :D

You Might Also Like

2 comments