بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Tersengat #2

By 11:59 PM

Taman itu sedikit lengang. Memasuki H-6 UTS, tentu saja saya berkesimpulan bahwa daripada nongkrong-nongkrong, mahasiswa pasti memilih pulang--walaupun hanya di kosan, bukan kampung halaman.

Saya duduk di meja bundar, berkali-kali shock karena kejatuhan semut merah. Jam empat sore, matahari sudah bisa dilihat bulatannya. Sembari menunggu yang lain datang, saya tilawah beberapa halaman, sementara saudari saya yang lain memilih murojaah.

Akhir-akhir ini saya jadi sering merenung. Proses pendewasaan atau apa? Entahlah, saya tidak selalu punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang saya buat sendiri.

Satu per satu mereka datang, duduk membentuk lingkaran setelah menyalami satu sama lain. Salam itu, doa akan keselamatan dan keberkahan itu selalu terasa sederhana, tapi manis. 

Kapten mengatakan bahwa hari ini liqo mandiri karena murobbi batal datang, dapat jarkom kuliah mendadak katanya.

Kami dibekali beliau sebuah makalah tentang khutbatul haajjah, membuat kami berlima yang hadir tertawa, sesungguhnya banyak istilah arab yang tidak kami pahami--apalagi ketika memasuki struktur kata/kalimat.

"Ada yang mau murojaah?" ujar Kapten.

Saya menggeleng, "Bully aku dong nih, ngga nambah-nambah."

Keadaan yang lain ternyata sama.

"Haduh, gimana ini. Kita kok ngga nambah-nambah. Bagaimana kalau kita mengiqobi (menghukum) diri sendiri?"

"Caranya?"

"Hm, pertemuan besok harus hafal sekian ayat?"

"Ngga efektif," celetuk yang lain.

"Push up?"

Kami kompak memutar bola mata, tanda tidak setuju, "Ngga ngaruh."

"Denda?"

Responnya adalah menggeleng massal.

"Terus bagaimana? Apa menunggu dimarahi Kak Nov?"

Perbincangan terhenti sampai disitu.

Padahal, sebulan yang lalu, kami pernah dimarahi--disindir--agar nanti setor hafalannya sama anak SD binaan Kak Nov.

***

Saya pernah menumpahkan es teh manis (yang untungnya punya saya sendiri) di Plasma ketika seekor lebah mendekati saya--dan kemudian saya panik. Saya memang memiliki hubungan yang kurang baik dengan serangga dan binatang melata. Kecoa, lebah, laba-laba, kelabang, ulet bulu, dan sejenisnya. Mereka kecil, tapi mengerikan. Setiap melihat mereka, saya menarik napas histeris dan segera menjauh dari TKP. Walaupun sudah menjauh, saya tetap saja bergidik, as if pada akhirnya hewan-hewan kecil itu merambati tubuh saya. Mata kemudian mencari-cari apakah ada serangga yang mengikuti saya. Tanpa sadar, tangan saya masuk ke kerudung, memegangi tengkuk.

Butuh waktu tiga menitan untuk akhirnya saya bisa konsentrasi lagi dan melupakan kejadian itu.

Saya selalu takut disengat.


***
"Sepertinya aku harus diberi ujian dulu, baru grafikku melesat."

"Hus, jangan ngomong sembarangan," ujar saya.

"Ki, temen-temen seliqoan ku itu... Kamu tau si A? Dia tahun ini sudah 10 juz. Si B? 6 Juz. Tiap bulan khatam. Dan aku? Ketika ditunjuk tasmi', apa yang mau aku lantunkan? Wal Ashri?"

Saya diam.

"Apakah kita harus jadi seseorang yang terlebih dahulu terkena penyakit dan tahu kapan mati, agar kualitas diri meningkat?" Sambungnya lagi.

Saya lagi-lagi diam, membenarkan. Apa manusia harus disengat terlebih dahulu agar bisa jadi manusia yang lebih baik? Padahal, manusia itu dalam hidupnya, pasti takut disengat.

***



*mungkin kecoa tidak menyengat, tapi mereka punya duri di kaki, antena di kepala. Oh ya, dan terbang.

You Might Also Like

0 comments