بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Bia

By 10:56 PM

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sedang melatih saman di Student Center untuk persiapan suatu acara untuk menyambut Bulan Ramadhan (dimana dalam acara itu saya menjadi panitia, dan terjebak menjadi pelatih saman untuk tari saman massal, sekaligus pengisi acara. Agak kekurangan sdm memang), ada seorang anak kecil yang iseng. Anak perempuan berusia sekitar 6 tahun itu menganggu para penari. Menggelitiki kaki-kaki samaniak, mengambil handphone para penari dan memainkannya, membuat berantakan kertas-kertas teks syair saman, dan sebagainya yang mana itu ngganggu banget.


Kami awalnya meladeni bercandaan anak itu. Ya, awalnya memang lucu. Tapi lama-lama kok itu tidak lucu lagi, cenderung nyebelin. Para penari masih berusaha meladeni anak tersebut, berusaha mengatakan dengan senyum dan tawa tetap di bibir, "Dek, jangan ganggu ya. Kakak-kakaknya mau latihan."


Sekitar lima menit berselang setelah kami bete dan segala bujukan tidak mempan, anak kecil itu masih tetap menganggu. Membuat kami harus membuang waktu. Bahkan, satu orang rela memberikan gantungan kunci monas agar adik itu diam. Naas, suap itu tidak berhasil.


Akhirnya, saya tatap matanya dia, berucap delapan kata dengan penekanan pada setiap suku kata. Tegas dan tanpa senyum, menunjukkan bahwa saya sedang serius.


"Dek. Kakaknya-Sedang-Latihan. Kamu-Jangan-Mengganggu. Bisa?"


Setelah dia sedikit salting ditegasin begitu (karena dari tadi memang kami berusaha membuat dia nyaman dan tidak ketakutan dengan memaksa untuk tetap nyengir), kemudian dia diam. Duduk memperhatikan kami latihan sampai orang tuanya, yang-oh-dari-tadi-entah-berada-dimana, datang.


***

Di ponsel saya, ada sebuah kontak dengan nama Bia.


Ibu.


Seorang ustadzah pernah berkata, menjadi seorang ibu yang baik bukan dimulai sejak kita mengandung. Bahkan mempersiapkannya ketika kita menikah juga masih bisa dibilang terlambat. Persiapan itu, seharusnya dimulai dari sekarang. Ya, sedari KTP kita masih bertuliskan status belum kawin. Memantaskan diri sedini mungkin istilahnya.


Memantaskan diri, bagaimana agar kita--para calon ibu--menjadi madrasah pertama yang baik bagi anak. Karena nantinya, darah kitalah yang mengalir di darah anak-anak kita. Kebiasaan kitalah yang turut di dalam gen anak-anak kita. Toh, setiap perempuan, saya yakin, memiliki mimpi untuk mengkader (ada bahasa lain? -,-) anak-anaknya agar menjadi--setidaknya--yang terbaik di mata perempuan itu, menjadi anak yang ideal dalam perspektif si calon ibu. Nah, persiapan kesitulah yang kata si Ustazah harus dimulai dari sekarang.


Kak Nina juga pernah bilang, kalau beliau membaca buku-buku parenting ketika beliau hamil, dan Kak Nina merasa bahwa itu terlambat. (Kak Ninaaaa, kangen :'o)


Sejak saat itu (yang dimaksud dengan 'saat itu' sebenarnya adalah beberapa bulan yang lalu, masih di 2012), saya mulai mencoba membuka mata telinga untuk setidaknya menerima pembicaraan yang berkaitan dengan hal-hal yang seperti itu. Sebelumnya, saya termasuk golongan yang anti berbicara masalah begituan, selalu melipir, merasa belum waktunya, merasa terlalu dini. Tapi setelah disadarkan bahwa seorang ibu adalah guru pertama anaknya (dan saya tidak mau memiliki murid yang biasa-biasa saja ^^), sepertinya tidak ada salahnya belajar mulai dari sekarang.


Menjadi seorang ibu yang baik.


*kemudian tangan kayak garpu* *speechless* *masih merasa aneh ngomongin ini*


Bagaimana kalau bercerita tentang Ibu saya saja?


Saya, sampai sekarang tidak habis pikir dengan perubahan cara Ibu berinteraksi dengan saya. Saat saya sangat kecil, dalam ingatan saya yang paling jauh, Ibu selalu menjadi orang yang meladeni, menjadikan saya raja. Makan disuapi, nggunting-nggunting seprai ngga dimarahin (serius, ini sekarang jadi kisah yang selalu Ibu ceritakan kalau mau meledek saya), mencoret-coret tembok ngga ditabokin. Ibu menjadi seorang ibu. Sabar banget, ibu terbaik :')


Besar sedikit, Ibu menjadi seorang yang saya segani. Apa-apa dilarang, bandel dikit dimarahin, jangan tanya apa saya masih bisa menggunting seprai atau tidak. Saya dikenalkan pada hak dan kewajiban. Kalau guru, Ibu adalah guru super killer yang pernah ada. Saat itu adalah fase dimana saya lebih suka bersama ayah ketimbang sama Ibu. Dekat dengan Ibu seperti dekat dengan mobil mewah. Kesenggol dikit, alarmnya bunyi.


Dan ketika saya memasuki SMA, cara Ibu berinteraksi berubah lagi. Saya seperti mendapat teman baik. Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi Ibu bisa membuat saya tidak segan-segan menumpahkan segala cerita ke Ibu. Serasa dihipnotis. Padahal, ada tahun dimana Ibu menjadi sosok yang sangat saya segani--bahkan cenderung saya takuti. 


Saya juga heran karena setelah saya mengamati teman-teman SMA saya, ternyata banyak anak yang lebih memilih menyembunyikan masalah dari ibunya, lebih memilih bungkam kepada ibu dan malah curhat ke teman (atau bahkan pacarnya-,-). Dan Ibu, selalu bisa membuat saya jadi orang yang super bocor, ultimate ember kalau bercerita dengannya.


Dari SMA, sampai sekarang, Ibu benar-benar kayak sahabat baik sama saya. Cerita berjam-jam, jalan-jalan, bahkan ngabsurd. Ibu saya itu, Subhanallah, ternyata absurd banget. Tapi absurdnya Ibu itu entah kenapa selalu sweet, manis. Bikin orang tambah sayang. Bahkan, waktu saya ke liburan mengarungi Jawa Timur selama seminggu kemarin, Ibu mengirimi sms kepada saya, sebuah sms yang tidak biasa. Kalau hari-hari biasa Ibu hanya bertanya sudah makan atau belum, sudah shalat, sudah jajan, sedang dimana, dsb, minggu itu, Ibu mengaku kalau dia kesepian.


Jogja bagaimana sayangku? Mau deh nanti jalan-jalan berdua di Jogja sama Kiki.


Anakku cepat pulang ya, ibu kangen.


Ngga usah beli apa-apa, selamat aja sampai rumah, ibu kesepian nih.


Kesepian? Astaga. Saya ngakak haru bacanya, Ibu yang tidak suka ramai itu bisa juga mengaku kesepian :')


***
Pada kajian Jumat kemarin-kemarin-kemarin, saya mendapat sharing ilmu dari pembicaranya. Ternyata, ada tiga fase dalam mendidik anak. Tujuh tahun pertama, perlakukan anak sebagai raja. Tujuh tahun kedua, perlakukan anak seakan dia adalah prajurit, dimana ia harus diperkenalkan dengan hak dan kewajibannya. Dan tujuh tahun ketiga, perlakukan anak sebagai sahabat.


Dan setelah saya pikir-pikir, Ibu sudah mempraktikkan itu. Walaupun ketika saya tanya, Ibu mengaku ngga punya teori apa-apa.

"Ibu ngga punya teori apa-apa. Menjadi seorang ibu, ibu hanya memakai feeling. Naluri."


Nah sekarang pertanyaannya, apa korelasi antara prolog tulisan ini dengan cerita tentang Ibu? Jadi begini, sebenarnya, ketika itu saya bingung, apakah seorang anak perlu (atau bisa) diberi ketegasan seperti apa yang saya lakukan pada adik kecil di Student Center itu? Oke, of course I'm not her mom. Tapi saya bisa membaca dari matanya, ada sedikit ketakutan--atau setidaknya ketidaknyamanan--yang terpancar ketika saya berusaha memberi penegasan dengan cara seperti itu. And somehow I was feeling guilty.


Kak Nina pernah bilang, kalau ia habis memarahi anaknya, atau sedikit membentak anaknya, atau ada nada yang berubah dari suaranya (karena kesal), seketika itu juga Kak Nina menyesal. Karena, setelah sentakan itu, ada yang berubah dari ekspresi si anak. Dan dari mata si anak, Kak Nina tau ada sedikit shock dan ketakutan di sana. Dan saat itu juga, Kak Nina merasa mencelus. "Karena anak kecil itu peka ya," kata Kak Nina.


Entahlah, saya sendiri tidak bisa menyimpulkan apa-apa. Mungkin nanti pada praktiknya, memang akan balik lagi ke masing-masing perempuan. 


Dan pastinya, dalam diri seorang ibu--ibu manapun--pasti ada kekurangan. Toh saya juga tidak bisa bilang bahwa Ibu saya adalah ibu tersempurna di dunia.


Tapi yang jelas, seorang ibu harus bisa menjadi yang terbaik bagi anak-anaknya. Dan kesan itu sudah saya dapatkan sejak lama pada sosok Ibu. Ibu, sampai kapan pun adalah ibu yang terbaik bagi saya. 


Mungkin teori-teori parenting memang penting untuk dipelajari, tapi menurut saya yang sampai sekarang masih menjadi seorang anak, semuanya akan kembali lagi kepada cara para ibu untuk membangun naluri, untuk menjadi sosok yang terbaik bagi anaknya. Dan untuk menjadi sosok yang terbaik bagi anak, seorang perempuan tidak bisa meniru Bandung Bondowoso dengan seribu-candi-satu-malam-nya. Butuh latihan panjang.

"Ibu ngga punya teori apa-apa. Menjadi seorang ibu, ibu hanya memakai feeling. Naluri."

Dan dari puzzle cerita yang Ibu berikan ke saya sampai hampir seperlima abad usia ini, saya tahu, Ibu sudah berlatih untuk menjadi ibu terbaik sejak dirinya seumuran saya.

***

Terima kasih Ibu, sudah memberi banyak pelajaran pada anakmu. Sayang banget sama Ibu :)

You Might Also Like

0 comments