بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Sekelindan Kecamuk

By 12:52 AM


“Ki, baca Al-Qur’an ya. Kita ke pojokan, kamu baca Al-Qur’an. Aku pengin dengerin kamu baca Al-Qur’an. Ya?” ia berucap lemah di telinga kanan saya, hanya berselang beberapa detik setelah tangan ini mengusap wajah.

Bahkan setelah shalat sunnah pun, mata saya masih merah dan basah, hati saya masih terasa disusupi ribuan jarum belantara. Seharusnya setelah shalat hati menjadi tenang kan? Bukan malah sesak oleh sesuatu yang saya tidak bisa langsung menjabarkannya. Lunglai. Tak sanggup bicara. Saya rasa dia juga merasakan hal yang sama dengan saya. Suara, suaranya tertahan lemah.

Yang mampu saya deskripsikan hanya ini, bahwa saat itu, ada kerinduan yang teramat sangat muncul tiba-tiba setelah shalat berjamaah di masjid itu. Kerinduan yang menohok. Kerinduan yang membombardir tanya, “selama ini kamu kemana?”

Bahkan tikaman kerinduan itu lebih dalam dari apa yang saya rasakan setelah mendengar cerita Umar bin Khathab dengan seorang gembala. Kerinduan kepada sang penggembala yang berucap singkat saat Umar hendak membeli seekor domba sang majikan dan menyuruh sang gembala untuk berbohong “katakan saja pada tuanmu kalau domba itu diterkam serigala,” bujuk Umar.

“Faainallah?”

Faainallah, balasnya! Faainallah!

Kalau begitu dimana Allah?

Ya, Rabb. Bahkan seorang penggembala bisa bicara sebermakna itu. Lantas, selama ini berapa banyak ucapan-ucapan hina yang keluar dari mulut saya?

Petang itu, kemendang udara benar-benar menularkan sendu. Sampai-sampai tanpa berucap sepatah kata, saya sudah mengetahui maksud todongannya yang tiba-tiba kepada saya.

Kita sama-sama ditujah oleh rindu, kerinduan untuk menangis. Kerinduan para penghamba.

Kapan terakhir saya menangis di dalam shalat?

Bahkan ketika saya membaca An-Naba, sebuah surat penuh berita besar, tidak ada riak dalam hati saya yang bergetar, tidak ada yang luruh terkulai dalam ketidakberdayaan atas genggaman Penguasa Segala Semesta.

“Sungguh, (neraka) Jahanam itu (sebagai) tempat mengintai (bagi penjaga yang mengawasi isi neraka). Menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.” (An-Naba 21-22)
Juga di surat segamblang Al-Qari’ah, tangis itu tidak pernah hadir.
“Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (Al-Qari’ah 8-9)
Isya itu, ketika imam masjid menangis sesengukan saat membaca surat As-Saff, rasanya ada yang benar-benar seperti mencelupkan saya ke dalam bak dengan ribuan bongkah es, atau ke dalam tungku api dengan jarum-jarum yang mulai merah mendidih.

Kapan terakhir kali saya menangis karena merasa kecil di hadapan Yang Maha Besar?

***

“Ki, tolong kamu baca Al-Qur’an ya. Aku yang dengerin.”

Saya mengenal Masjid itu sejak SMA sebenarnya. Waktu itu, biasanya sepulang sekolah, saya mampir bersama sahabat-sahabat saya untuk mengikuti kajian (yang kebanyakan dihadiri anak STAN, iyalah), atau untuk maghrib berjamaah, atau sekedar mampir ke Fatahillah jika hari belum terlalu sore. Kami biasa singgah rombongan, dengan memarkirkan tiga motor dimana saya selalu menjadi pembonceng. Sebelum saya masuk kampus ini pun, saya sudah memiliki kenangan tersendiri di pelataran masjid itu.

“Ki, tolong kamu baca Al-Qur’an ya. Aku yang dengerin.”

Saya masih ingat, maghrib itu saya hanya datang dengan satu motor. Saya dan dia. Rasanya sudah beberapa abad saja kami berdua menelan udara dalam diam di perjalanan. Mungkin kita sudah terlalu banyak cerita sehingga dia baru membuka mulut saja, saya sudah paham betul apa yang akan dikatakannya. Mungkin ketika kami memutuskan untuk berbicara, yang keluar adalah keluhan. Keluhan. Dan keluhan. Dan keluhan. Kufur akan nikmat lainnya seakan keluhan itu adalah kuman di seberang lautan yang tampak.

Karena menyadari itu, mungkin, kami sama-sama memilih diam.

Rangkaian kalimat pertama yang keluar, seingat saya adalah permintaannya kepada saya untuk membaca ayat Allah itu.

Saya, waktu itu, diberikan amanah untuk menjadi ‘sesuatu’. Jabatan yang kata seorang kakak sudah diproyeksikan sejak saya kelas satu. Kondisinya waktu itu, saya sudah diyakinkan dan saya mengiyakan walau dengan berbagai macam kegalauan yang sepertinya tidak pernah kelihatan. Tapi karena Ibu tidak mengizinkan saya untuk ikut LDK sebagai syarat menjadi ‘sesuatu’, saya tidak bisa masuk di bursa itu. Teman saya itulah yang pada akhirnya diberikan amanah untuk menjadi salah satu kandidat ‘sesuatu’.

Sahabat saya itulah, yang beberapa tahun lalu pernah juga shalat dan duduk di lantai dua MBM dan meminta saya membacakan Al-Quran di sampingnya.

Ada beberapa masalah besar yang harus diselesaikan ketika seseorang menjabat menjadi ‘sesuatu’ waktu itu, agar tidak menjadi budaya yang menurun. Saya bisa melihat proyeksi masalahnya dengan jelas. Masalah yang dari kacamata saya sekarang kelihatannya sepele, tetapi dulu, ketika yang dominan berbicara adalah egoisme pribadi-pribadi yang belum matang, semuanya terlihat berat.

Saya memaklumi, sangat memaklumi keadaannya yang terlihat sangat kalut dengan pencalonan itu.

Lagipula, wajar kan kalau kita menangis ketika amanah itu menghampiri--apalagi amanah sebesar itu. Saat kita merasa takut tak bisa menggenggam amanah dengan baik, saat kita merasa tak pantas, saat kita merasa tidak cukup baik. Saya pun mengalami tahapan itu sebelum dilarang ibu turun kesitu—hanya saja saya enggan menunjukkannya.

Yang bahaya itu justru ketika kita yang biasa saja dalam menyambut amanah. Bahkan terkesan senang, bangga dengan sebuah kepercayaan yang menghampiri. “Hati-hati…” kata seorang teman, “takutnya, ada kesombongan yang menggerogoti.”

Dia bersandar tertunduk di bahu saya ketika saya mencoba memenuhi keinginannya untuk membaca Al-Quran.

Saya tahu dia menangis.
***

Saya heran bukan main, ada dua kejadian mirip di dalam hidup saya. Dengan dua orang yang pernah saya pertemukan di Malang. Sepertinya pun, masing-masing tau bahwa saya sering menganggap dua orang itu mirip. Keterikatan mereka dengan Malang, cara mereka bermimpi, cara mereka membuat saya ingin menjitak, cara mereka tertawa, cara mereka menangis yang sembunyi-sembunyi.

Dua orang yang ingin mendengarkan bacaan saya, padahal bacaan saya sangat pas-pasan.

Tempat yang sama. Dalam kekalutan yang sama. Dalam penyembunyian keberantakan saya yang juga sama. Hanya dibatasi perisai waktu. Oh ya, dan orang yang berbeda.

Sebenarnya, sampai tulisan ini sudah 980-an kata pun, saya tidak mengerti ingin bercerita apa. Sesuai judulnya, saya menulis ini hanya berbekalkan sekelindan kecamuk, tidak membawa tujuan apa-apa. Tidak memiliki kerangka menulis apa-apa.

Mungkin saya hanya ingin menyampaikan ketakutan jika suatu saat nanti saya tidak dapat lagi bertemu dengan orang-orang seperti mereka ketika ada momen-momen menggetarkan. Ketika saya berada jauh dari seseorang yang bisa berkomunikasi lewat tunik mata. Ketika jarak menjadi pemisah saya dengan orang-orang yang bisa berbicara lewat bahasa diam.

Saya selalu takut, ketika mungkin ada suatu masa dimana Imam shalat menangis saat membaca ayat Allah, dan saya tidak memiliki seseorang yang bisa diajak mengerti dan akhirnya bisa diajak menangis bersama-sama. Atau malah yang lebih parah, saking keringnya diri ini, saya merasa heran dengan tangisan semacam itu. Wal ‘iyyadzu billah.

Saya selalu takut, ketika kesombongan dan kejumawaan mulai merayapi diri ini, dan tidak ada orang yang mengingatkan saya dengan tangisan.

Karena berkumpul dengan orang shalih(ah) nyatanya memang sebuah kebutuhan. Saya takut suatu saat saya tidak menemukan kumpulan itu, atau alergi dengan kumpulan itu, atau malah termasuk penentang kumpulan orang-orang shalih. Na'udzubillah. Karena Allah benar-benar Maha Pembolak-balik Hati, kan? Apa saja bisa terjadi.

Ya Allah lindungi kami. Pelihara kami.

Karena…

Ya, bahkan untuk menangis saja, saya perlu diingatkan.

***
Terima kasih untuk imam yang menangis dengan As-Saff-nya, serta sahabat-sahabat yang menohok saya dengan air matanya, memancarkan kerinduan yang sama dengan bahasanya, dan menganggap saya berada di frekuensi yang sama ketika kita menangis. Semoga kita selalu diberikan aqidah yang lurus, keistiqomahan, serta hati yang senantiasa belajar dan memberikan pelajaran.

You Might Also Like

0 comments