بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Tersengat #4

By 12:32 AM


Ketika memasuki sebuah Transjakarta, perhatian tertumbuk pada seorang pemuda. Transjakarta tersebut tidak penuh, tapi seluruh kursi di gerbong pria telah terisi. Pemuda itu terlihat mencolok karena sementara yang lain berkutat dengan pikiran dan menerawang jalanan, dia sibuk dengan mushafnya.

Sudah, kemudian saya sibuk dengan buku kecil yang saya bawa sebagai teman perjalanan.

Sampai di sebuah shelter, masuklah bapak-bapak tua. Refleks, mata saya terkunci kepada beliau. Ingin rasanya saya mempersilakan duduk, tapi ini gerbong wanita, dan tempat duduk saya berada di tengah-tengah.

Selanjutnya, cerita klise mengalir. Tidak ada yang mau mengalah untuk berdiri, sampai beberapa detik sebelum petugas Transjakarta menyuruh seseorang untuk berbagi tempat duduk, sang pemuda itu berdiri, tersenyum kepada si bapak tua, dan menyerahkan tempat duduknya.

Lalu, sambil berdiri, ia melanjutkan bacaannya.


Menyaksikan sendiri kejadian itu, saya kagum. Pemuda yang baik, pemuda yang langka. Itulah simpulan kilat yang saya ambil.

Mungkin terlalu dini untuk menggeneralisasi kebaikan seseorang dari hanya satu kejadian. 

Tapi entah kenapa, saya merasa, keseluruhan ilmu, keikhlasan, kesabaran, ketaatan, dan tutur kata yang sering diucapkan, deskripsi dari kepribadian seseorang, dapat terangkum dalam satu kesederhanaan penyebutan: akhlaq.

Akhlaq, sejatinya menjadi sebuah cermin yang merefleksikan apa yang ada di hati, jiwa, pikiran, dan pastinya memantulkan kepahaman seseorang atas apa yang seharusnya dilakukan dalam bungkus keimanan. Akhlaqlah yang memanuver spontanitas kita.

Jika diibaratkan penggaris, akhlaqlah alat untuk mengukur keshalehan seseorang. Bukankah itu sebab Nabi Muhammad diturunkan? Untuk sebuah penyempurnaan laku bernama akhlaq.

***

Kejadian itu benar-benar menohok saya. Ya, akhlaq tidak bisa tercermin dari seberapa seringnya kita menyebut Allah dalam tiap tweet--apalagi membuatNya jadi bahan bercandaan seperti "maafkan Baim ya Allah", seberapa seringnya kita mengupdate status dengan ayat-ayat (apalagi Random Ayat). Akhlaq tidak tercermin dari seberapa seringnya kita mengikuti kepanitiaan Rohis. Akhlaq tidak tercermin dari... ya isi sendiri.

Karena akhlaq memanuver spontanitas kita, maka, lihatlah Rasulullah yang dilempari kotoran tidak balas melempar. Bacalah lagi kisah Rasulullah, yang seandainya gunung pun bisa ditimpakan kepada penduduk Thaif yang zhalim, Rasulullah malah mendoakan mereka:

“Tak usah wahai malaikat, mereka hanyalah orang-orang yang belum tahu. Semoga Allah membukakan hati mereka pada kebenaran."

Pada akhirnya, usaha-usaha perbaikan manusia, makhluk yang dicipta dari segenggam tanah dan sehembus ruh, akan menentukan sendiri kualitasnya.

Maka, pernahkah terbesit dalam diri kita keinginan untuk menyelesaikan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya? Jika iya, azzamkanlah, bahwa kita tidak hanya ingin sekedar menjalani hidup dengan lurus, tapi juga memberi sebaik-baik pemaknaan dan arti dalam kehidupan. Untuk terus belajar dan menerima kebenaran.

Ya, tak usahlah ingin dilihat Islami karena urusan-yang-hanya-hati-kita-yang-tahu. Selama ada usaha untuk mentarbiyah diri secara kontinyu, syariat akan tercermin dalam atmosfer tiap langkah kita.

Satu lagi sengatan untukmu, Ki.


***

PS. Maaf kalau tiba-tiba ngaco dan seperti bukan saya. Lagi kena gigitan.

You Might Also Like

0 comments