بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Robot

By 5:00 PM ,

Apakah beberapa tahun lagi nanti, saya akan menjadi robot yang hanya bisa duduk menanti jam lima senja, untuk kerja, kerja, kerja, dan merasa kelelahan pada akhir pekannya, dan kemudian secara egois menghabiskan akhir pekan untuk saya sendiri tanpa kebermanfaatan apa pun? Apakah kelak saya akan menjadi robot yang kelak hilang perasaannya, dan mati hatinya?

Malam hari, dari ruangan yang hampir di puncak gedung ini, saya mengintip jalanan yang merayap nyala dari balik jendela. Mesin crane yang diletakkan tinggi-tinggi di gedung seberang masih bekerja. Mengingatkan manusia akan salah satu tanda hari kiamat, yakni ketika meninggikan bangunan menjadi sebuah perlombaan.

"Tidak akan datang hari Kiamat… hingga manusia berlomba-lomba meninggikan bangunan." (Bukhari)

Di dalam ruangan, makanan berlimpah banyak. Saya dibujuk agar mengambilnya hingga semunjung porsi kuli, tapi entah kenapa ada perasaan yang menahan, membuat saya enggan melampiaskan antusiasme (atau keserakahan?) atas hidangan yang pasti enak itu. Naif? Mungkin iya. Mungkin saya masih sok baik, sok suci, sok idealis. Tinggal menunggu tawaran-tawaran seperti ini datang lebih sering, dan para penguat prinsip yang keberadaannya makin jauh terpencar, agar kenaifan saya menguap.

Ketika kebanyakan teman biasanya bangga dengan pencapaiannya dalam makan enak—dan gratis—atau berkunjung bahkan menginap di hotel, saya memang tidak punya hasrat yang teramat untuk itu. Apalagi sampai pamer-pamer di jejaring sosial.

Karena beberapa ratus meter dari gedung ini, masih ada orang yang tidur di jalanan sebab tak punya tempat berteduh. Beberapa ratus meter dari gedung ini, mungkin masih ada ibu yang merebus batu, anak kecil yang bersyukur sudah “kenyang” dengan air, ayah yang harus memutar otak agar utang-utangnya terlunasi tanpa perlu mencuri, dan sebagainya, dan sebagainya. Potret kesusahan, kemiskinan yang tak habis, seperti lingkaran setan.

Kemarin OB di kantor curhat tentang biaya pendidikan yang kian mencekik. “Satu baju sekolah empat puluh ribu,” ujarnya, kemudian melanjutkan dengan menyebutkan harga, jumlah, dan segala kebutuhan sekolah anaknya hingga terperinci. Saya tak mampu mengingatnya.

Makanya saya tidak suka dengan salah satu dampak buruk jejaring sosial yang satu ini. Bagaimana seseorang seperti menjadi punya tempat pamer atas rezeki yang Allah berikan kepadanya, dan kehilangan rasa berbagi. “Makan siang @kafe anu” Padahal ada orang yang masih harus menggabung makan siangnya dengan makan malam di bawah rumah kardus yang tempias kena hujan.

“Hari ini buka puasa pakai puding, schottle, lasagna, omelette, dan banana split buatan sendiri loooh.” Sementara yang lain hanya bisa berbuka es teh manis dan tajil gratis dari masjid.

Ke mana perginya hati manusia?

Ada sebuah ceramah shalat di Masjid Istiqlal yang sangat membekas di diri saya. Tahun 2011 lalu, infaq pada tarawih pertama di Masjid Istiqlal mencapai Rp24 juta. Tahun 2012, merosot menjadi Rp19 juta. Dan tahun ini, tarawih pertama di Istiqlal hanya dapat mengumpulkan Rp16 juta. Masjid Sunda Kelapa juga mengalami nasib yang sama.

Ke mana perginya rasa berbagi manusia? Berbagi rezeki, bukan berbagi di jejaring sosial. Tidak ingatkah kita akan rumah tangga Rasulullah? Yang selalu berbuat baik dengan tetangganya, yang tak akan mengganggu tetangganya dengan bau masakan kecuali beliau menciduknya dan membaginya dengan tetangganya yang mencium bau masakan tersebut?

Ke mana perginya adab?

Sejak kapan cermin rasa bersyukur itu memantulkan bayangan yang kabur dan bias?

Apakah kita sudah benar-benar menjadi robot? Tanpa adab, tanpa akhlak, tanpa hati, tanpa lagi memikirkan nasib sesama manusia lagi.


Apakah kelak saya juga akan menjadi robot—yang ketika keluar gedung DPR dan melihat para buruh dari kaca mobil, melihat mereka yang sedang membersihkan dan menyikati atap-atap Gedung DPR tanpa pengaman apa pun seperti pada siang hari yang gerimis itu, tak lagi memiliki perasaan teriris apa pun?

You Might Also Like

0 comments