بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Hijabers In Love: Judging The Cover

By 7:10 AM

Satu lagi film dan buku tentang perempuan berhijab ditelurkan. Judul novel yang ditulis oleh Oka Aurora tersebut adalah Hijabers In Love. Daftar kru filmnya bisa dilihat sendiri di laman resminya :D

Keinginan untuk mengomentari muncul ketika di suatu siang, saya membuka akun tuiter dan menemukan cuitan akun Dakwah Kampus yang diretweet oleh seorang teman berada di posisi paling atas. Isinya kira-kira, “Ya Allah, kenapa hijabers dicitrakan seperti ini?” dengan melampirkan cover novel (atau poster filmnya ya? Lupa saya). Gambarnya seorang cowok di tengah dua orang remaja perempuan berkerudung.

Sinopsisnya tentang Perempuan-1 yang tomboy, yang memutuskan untuk berhijab karena suka sama Ketua Rohis. Ternyata, Ketua Rohisnya sepertinya malah suka sama Perempuan-2, sahabatnya Perempuan-1 yang diceritakan lebih shalihah. Perempuan-1 pun akhirnya tahu kalau si sahabat, Perempuan-2, ternyata juga menyimpan perasaan sama Ketua Rohis.

Karena penasaran, saya pun langsung mencari resensi novelnya dan enggak nemu karena sepertinya novelnya belum rilis :v Kemudian saya langsung mencari trailer filmnya yang untungnya ada.

Setelah selesai menonton cuplikan sekian menit film tersebut, saya langsung mengerutkan kening. Ketua Rohis mana ya yang kayak begitu?

Sesuai judul tulisan ini, saya memang akan menghakimi karya ini hanya dari sebuah cover, trailer, dan blurb di belakang buku. Karena istilah “don’t judge the book by its cover” kayaknya kurang tepat untuk diterjemahkan secara harfiah (dalam menilai sebuah karya), apalagi di Indonesia. 

Literally, we do judge a book by its cover. Kalau lagi hunting buku, saya pun sering menilai buku dari covernya. Saya enggak mau beli buku dengan cover jelek dan blurb yang creepy—kecuali ada resensi yang mengatakan isi bukunya berbanding terbalik dengan estetika cover. Dan snap judgement saya tentang cover biasanya enggak salah-salah banget.

Dan inilah snap judgement saya terhadap karya ini.

Balik lagi ke karya Hijabers In Love, dari trailer yang saya tonton, ada beberapa cuplikan adegan yang langsung tertanam di otak dan membuat saya “duh kok gini?”

Trailer tersebut menunjukkan bahwa si lelaki yang katanya Ketua Rohis, mainnya sama dua orang tokoh perempuan melulu.

Duduk di bangku taman berduaan, ngobrol, dengan jarak yang seharusnya bikin risih.

Si Ketua Rohis lagi baca, di sampingnya ada Perempuan-1 ngeliatin secara terang-terangan.

Si Ketua Rohis main biola, di sampingnya si Perempuan-2 main gitar, mereka berkolaborasi, terus liat-liatan.

Pulang sekolah, mereka jalan bertiga dengan formasi Perempuan1-Ketua Rohis-Perempuan2.

Itu Ketua Rohis mungut di mana sih?

Dulu waktu saya SMA, anak-anak Rohis itu tidak identik dengan cinta-cintaan. Rohis lebih identik dengan kerjanya yang multitasking. Keroyokan. Kerja apaan aja diembat. Bahkan tak jarang anak Rohis yang aktif di dua-tiga organisasi berat lainnya semacam OSIS, MPK, PMR, Paskibra, dll.

Ketika lagi berorganisasi, kita biasanya berkoordinasi di masjid sekolah—dan suasana ini lebih mirip film action-thriller ketimbang romance. Tegang! Pas rapat itu, cowok-cewek bikin kubu. Awalnya, yang perempuan emang malu-malu buat gabung ke forum. Apalagi kalau enggak ada hijab/pembatas.

Para akhwat berlomba duduk paling belakang—pokoknya jarak paling jauh dari cowok. Tapi seiring rapat berjalan, lama-lama para akhwat juga ketahuan aslinya—jadi lebih galak dengan argumen yang kadang campur-campur emosi. Ini biasanya dipicu sama para cowok yang kerjanya enggak teratur. Akhwat emang biasanya lebih tertib sih kalau kerja, tapi gimana lagi, ide-ide ciamik biasanya datang dari kubu ikhwan karena bacaan, pergaulan, dan cara pandang mereka biasanya lebih luas dan lebih maju selangkah. Tidak ada pilihan lain selain: kita harus berkolaborasi.

Jadi, kubu lelaki dan perempuan di Rohis itu sebenarnya saling melengkapi. Yang satu konseptor keren, yang satu eksekutor perfeksionis. Tapi karena kita masih remaja, seringnya malah gontok-gontokan pas rapat. Nah, biasanya dari gesekan-gesekan emosi inilah entah gimana muncul sesuatu yang merah jambu. Talk about that later.

Itu sisi organisasinya. Sisi lain yang paling keren dari anak Rohis adalah: secara otomatis merangkap marbot masjid sekolah! :D

Iya, marbot (bahasa bakunya 'marbut' sebenarnya sih). Yang bersihin masjid, nyapu, ngepel, ngelapin kaca, nyikatin tempat wudhu, nyuci mukena, kerja bakti di hari libur, biasanya ya anak Rohis. Enggak pandang ketua atau anggota, pokoknya giliran piket ya harus dijalani dengan riang gembira. Apakah sisi tak populer ini diceritakan di Hijabers In Love? Di trailer sih enggak ada. Saya bahkan tidak melihat masjid.

Dari sisi kegiatan kongko-kongko, pada cover, blurb, dan trailer Hijabers In Love sendiri kurang menggambarkan anak Rohis. Anak Rohis itu biasanya mingled. Ngerumpyuk. Entahlah itu bahasa apa. Tapi yang jelas kita enggak individualis. Para perempuannya biasanya ngajakin anak-anak perempuan non-rohis lainnya buat ngerujak bareng, pesta es krim, merajut, dll, sambil mendengarkan seorang Kakak sharing tentang mahabbah, ukhuwah, atau tema-tema ringan. Anak Rohis perempuan juga biasanya memanfaatkan waktu istirahat shalat Jum’at buat sharing tentang agama ke adik-adik kelas. Jadi, hubungan senior-junior di Rohis itu erat.

Dan Ketua Rohis biasanya dijabat sama anak kelas 11. Sedangkan di Hijabers In Love, si Perempuan-1 itu usianya 15 tahun. Itu kira-kira kelas 10 bukan ya? Akan jadi plothole luar biasa kalau ternyata si perempuan dan si Ketua Rohis satu angkatan. Dan kalau ternyata Ketua Rohis-nya kakak kelas pun akan jadi aneh kalau mingle-nya sama cewek-cewek kelas 10. Apa bedanya sama senior-senior genit yang mangsa adik kelas coba -_-

Kalaupun ada acara yang mengharuskan kelas 10 dan 11 berkoordinasi, ada struktur kepengurusan/kepanitiaan yang membuat kelas 10 perempuan (biasanya) hanya berurusan dengan penanggung jawab (PJ) dari anak kelas 11 yang juga perempuan. Jadi bukan Ketua Rohisnya yang turun tangan langsung ngurusin kerjaan anak-anak perempuan kelas 10.

Nah anak Rohis yang cowok sendiri, kalau di sekolah saya, hobinya main bola. Bola kaki atau basket. Kebetulan Masjid Al Islah (masjid sekolah saya) halaman sampingnya adalah lapangan basket. Dan sekolah saya juga punya gawang yang bisa dipindah, jadi lapangan basketnya bisa diubah jadi lapangan bola. Oke ini enggak penting sebenarnya.

Pulang sekolah kan jam setengah empat. Biasanya anak Rohis di sekolah saya milih shalat Ashar di masjid dulu. Abis shalat Ashar, cowok-cowok Rohis mulai pada main bola sampai maghrib. Abis shalat maghrib baru deh mereka pulang. Mainnya pun seingat saya enggak cuma sama anak Rohis—siapa aja yang mau main ya turun. 

Rohis itu bukan kumpulan anak-anak yang simbolisasinya hanya dengan enggak mau salaman dengan lawan jenis. Rohis itu isinya anak-anak yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Anak-anak yang jatuh bangun mencoba mengaplikasikan aturan-aturan agama yang kini terserak-serak. Anak-anak yang sudah tidak cocok lagi masuk TPA, tetapi masih merasa harus mengaji secara rutin. Anak-anak yang merasa harus ada yang mengontrol tilawahnya. Hafalannya. Amalan hariannya.

Anak-anak yang sedang mencari ‘kacamata’ terbaik untuk memandang kehidupan.

Mereka (seharusnya) jadi lebih gemar bersosialisasi, karena ikut Rohis berarti harus berguna bagi lingkungan. Dengan prinsip membaur tak melebur. Mencelupkan diri, tetapi tak terwarnai. Maka akan aneh kalau latar belakangnya Rohis, tetapi Ketua Rohisnya kelihatan sendirian melulu. Atau lebih parah, jalan sama anak-anak perempuan melulu.

Ya, apalagi Ketua Rohis.

Ketua Rohis zaman saya dulu (yang mana adalah sodara sepupu haha), enggak pernah tuh kelihatan diapit dua cewek (lebaran nanti mungkin saya akan dimarahi karena dianggap menciderai citra kegantengannya dengan menulis ini).

Dan di luar itu, anak-anak Rohis tetap anak-anak remaja biasa kok. Ngobrol dan bercanda. Dan kalau ngobrolnya cewek-cowok, jarang banget berduaan tau bertigaan aja, pasti rame-rame. Ngobrolnya sekelas atau seangkot gitu (dulu saya punya geng angkot alias teman-teman pulang bareng yang beberapanya adalah anak-anak Rohis. Sering pulang abis maghrib karena: 1. menghindari macet yang bisa sebabkan bablas maghrib, 2. memanfaatkan wifi buat ngerjain tugas/browsing, 3. ada turnamen Plants vs Zombie 4. yang perempuan ngerjain PR/ngobrol bareng Pak Eko di labkim, yang cowok main bola).

Ada hal-hal lain lah yang lebih menyita pikiran ketimbang cinta-cintaan. Dan sejauh ini, pertanyaan yang sering diajukan anak Rohis kayaknya masih: bagaimana caranya membagi waktu? Bagaimana caranya biar orang tua maklum kalau kita jarang di rumah karena sibuk berorganisasi?

Tentang main gitar, biola, alat musik, ya emang ada juga kalangan anak Rohis yang bisa dan suka main alat musik. Kalau enggak salah dulu di sekre ikhwan rohis SMA ada gitar deh selain rebana-rebana marawis. Tapi ya sesuka-sukanya main alat musik enggak pernah ada yang sampai duet berdua cewek-cowok gitu apa pun alasannya, tahu adab lah.

Saya, Icha (teman kuliah), dan mungkin akhwat lainnya juga main gitar, piano, tetapi kami tahulah kapan harus digunakan. Dan pastinya bukan digunakan untuk berduet nasyid dengan ikhwan terus abis itu liat-liatan dan senyum-senyum malu............ (iya adegan ini ada film).

Membayangkannya saja, kalau enggak ngakak ya miris. Enggak sampai hati deh. Gimana dong.

Dan tentang perasaan merah jambu, sebenarnya sih jadi masalah abadi bagi anak Rohis juga ya (sebagaimana jadi masalah abadi miliyaran orang di dunia). Tetapi permasalahan anak Rohis sebenarnya lebih ke komunikasi yang tidak terlihat. Lewat sms dan dunia maya misalnya, alat untuk komunikasi-dua-arah-dan-sisanya-hanya-Allah-yang-tahu. 

Media dua arah itu biasanya jadi sarana untuk ikhwan dan akhwat berkoordinasi untuk gerak, yang kalau khilaf bisa melenceng jadi ditambah berkirim hadits, sampai nanti merambah jadi mas-mbak warteg yang nanyain makan pakai apa. Masalahnya sebenarnya ada di sini. Silakan angkat bagian ini.

Karena, yang namanya anak rohis seharusnya malu kalau berkhalwat terang-terangan. Jadi yang lagi khilaf, khalwatnya cenderung sembunyi-sembunyi. Walau sembunyi-sembunyi pun pasti ada rasa mengganjal. Dan sesuatu yang mengganjal di jiwa, yang kita tidak suka bila hal itu diketahui orang lain, bisa jadi adalah dosa.

Dan Ketua Rohis macam apa yang tidak risih berkhalwat secara terang-terangan?

Untuk perempuan sendiri, berada di dekat anak Rohis seharusnya jadi sesuatu yang bisa mengubah cara pandang. Karena biasanya, seiring dengan terjulurnya jilbab dan kemauan untuk belajar agama, akan ada rasa malu yang turut mengkristal di dalam diri perempuan. 

Rasa malu.

Maka dari mana pun pintu hidayahnya, apa pun motivasinya, baik itu karena suka sama lelaki shalih, karena teman, karena orang tua, atau apa pun, kalau terlanjur kecemplung untuk terus belajar agama, pasti lama-lama motivasi itu berganti dengan motivasi menjadi lebih baik karena Allah. Motivasi yang sudah karena Allah itulah yang kemudian membentuk rasa malu.

Maka seharusnya tidak ada scene Perempuan-1 memandangi Ketua Rohis secara nyalang begitu (bahkan kalau emang benar-benar ketua rohis, harusnya sih langsung ditinggal kabur aja tuh perempuan). Seharusnya tidak ada scene Ketua Rohis yang mau menempatkan diri, berjalan diapit dua perempuan.

Tetapi saya tetap berharap semoga dugaan saya salah. Semoga Hijabers In Love tidak cuma menjadikan ‘Ketua Rohis’ sebagai alat untuk sekadar membuat karakter cowok-keren-yang-enggak-mau-pacaran demi plot yang ada di pikiran penulisnya. Semoga memang apa yang identik dengan anak Rohis, bisa di-deliver dengan baik di film dan buku tersebut.

Karena saya pribadi sebenarnya menginginkan kehadiran buku yang bisa dengan tepat menggambarkan Rohis, untuk mengurangi kadar ketakutan guru dan masyarakat akan propaganda Metro TV cs bahwa rohis adalah sarang teroris. Tetapi saya pun jelas berharap bahwa anak Rohis tidak digambarkan dengan kelakuan-kelakuan dangkal. Virus merah jambu, istilah yang beken di anak rohis, memang ada, tetapi palingan hanya mewarnai sekitar 10-30% kehidupan anak Rohis (ukuran ini enggak pakai survey, subjektif aja).

Anak Rohis adalah anak-anak yang punya kenangan dengan masjid sekolah. Tanya teman-teman Rohis, tempat mana yang paling berkesan selama di sekolah. Saya pribadi memiliki tiga tempat berkesan ketika SMA: Masjid Al Islah, Laboratorium Kimia, dan lapangan basket. Masjid Al Islah akan selalu berada di urutan pertama.

Masjid sekolah itu tempat anak-anak rohis mengenal ukhuwah, mengenal jatuh bangun masa remaja, mengenal pemikiran-pemikiran, menjatuhkan sujud-sujud Dhuha, tempat mereka mengobrol santai tentang kehidupan bersama sahabat, guru agama, dan para pembina. Dalem banget sebenernya makna masjid dan rohis itu bagi orang-orang yang pernah terlibat di dalamnya.

Sekali lagi, saya masih berharap bahwa film dan novel Hijabers In Love dapat mencerminkan kedalaman makna yang serupa. Sehingga “Ketua Rohis”, seperti yang saya bilang tadi, tidak menjadi titel dan alat semata. Titel yang miskin makna.

Karena saya sudah lelah dengan keminiman riset di dunia literatur dan sinema Indonesia. Saya lelah dengan peran aktivis semacam ketua BEM, Ketua OSIS, dkk, yang didangkal-dangkalkan. Cukuplah para remaja yang pakai hotpants dan boncengan bertiga yang mengalami pendangkalan-pendangkalan makna cinta lewat pengaruh sinema, jangan anak Rohis. Jangan anak Rohis. Jangan anak Rohis.

Karena masih banyak yang harus kami perjuangkan selain hal mengenai perasaan-perasaan.

***
Sekali lagi, ini hanya snap judgement dari kulit-kulit terluar Hijabers In Love yang bisa saya sentuh. Semoga penulis dan segenap kru film pernah terlibat di Rohis—atau kalau tidak, melakukan riset yang mendalam—sehingga bisa menggambarkan Rohis dengan sebenar-benar keadaan. Sebenar-benar pemaknaan.

Semoga kontennya tidak mengecewakan. Semoga bukan cerita picisan lainnya yang sekadar dipakaikan jilbab. Bagi saya yang anak rohis ini, rohis bukan cuma sekadar organisasi yang diikuti buat nambah-nambahin panjang CV atau bahkan mencari gebetan. Awalnya mungkin iya, saya ikut Rohis agar ada organisasi yang nangkring di rapor, tetapi lama-lama alasan dan motivasi itu kedaluarsa.

Rohis semakin hari semakin menjadi keluarga tersendiri, bagian dari hidup yang tidak akan dilupa, orang-orangnya, pembinanya, guru-gurunya, kakak-adik kelasnya. Secara pribadi, Rohis juga berperan besar dalam perkembangan karakter saya. Apa pun yang ada di dalam diri saya saat ini, ada sumbangsih Rohis dalam pembentukkannya.

Dan semuanya adalah hal-hal yang pantas diabadikan dalam memori. Pelajaran-pelajaran yang pantas untuk diingat dan diimplementasi. Hal-hal yang pantas untuk dikangenin, bahkan sampai sekarang dan beberapa puluh tahun ke depan.

Terakhir, saya ingin menanggapi retorika indah di blurb cover belakang novelnya.

“Kamu harus bisa menyatakan cintamu tanpa berharap apa-apa. Karena itulah yang dilakukan oleh Tuhan setiap saat.”

Mbak Oka Aurora yang saya sayangi karena Allah, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Ia lahir ke dunia bukan untuk meniru apa yang dilakukan Tuhan, melainkan untuk menjalankan segenap ketentuan-ketentuan yang sudah baku. Dua pusaka, kata Rasulullah. Alquran dan Hadits.

Mulai dari ketentuan masuk kamar mandi hingga ketentuan sebagai pemimpin.

Salah satu di antara banyak ketentuan itu, terdapat satu ketentuan—yang sayangnya banyak disepelekan orang. Ialah ketentuan tentang menyatakan perasaan.

Ya, salah satu di antaranya adalah ketentuan tentang perasaan-perasaan.


Maka, apa bedanya kita dengan Fir’aun kalau dalam perbuatan terkecil saja, kita sudah beretorika tentang berlaku seperti apa yang Tuhan lakukan—bukan berlaku seperti apa yang Tuhan perintahkan?

You Might Also Like

0 comments