بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Kabar Bahagia

By 9:40 PM

Setelah berbulan-bulan penuh penantian tentang kelanjutan ikatan dinas dan pekan-pekan menghafal yang melelahkan, akhirnya TKD digelar. Beneran ya, sebenarnya saya yakin semua bisa lulus, tetapi hantaman mental itu sungguh sesuatu. Panik. Pengin teriak. Kepala berat. Punggung serasa memikul beban berkuintal-kuintal *lebay*

Pokoknya yang ada di pikiran saya waktu itu: let's get over it.

Saya sendiri, lima belas menit pertama pengerjaan tidak dapat berkonsentrasi. Terutama di soal-soal bacaan. "Ya Allah ini maksud soalnya apa sih? Yang ditanyakan ini apa?" Padahal, setelah dibaca lagi, soal itu jelas banget. Contoh: "Jika sila kesatu tidak dijiwai empat sila lainnya, akan menyebabkan apa?" Semua anak saya yakin bisa menjawab: Theokrasi absolut. Tapi waktu itu, pertama kali baca soal itu, saya benar-benar tidak paham apa maksudnya dan langsung saya lewatkan.

Saya baru bisa mengumpulkan konsentrasi setelah mengerjakan soal matematika. Mungkin karena di saat-saat genting dan tertekan, otak saya lebih mampu menerjemahkan gambar (balok, segitiga, kerucut, dkk) dan angka-angka ketimbang susunan kata. Heran juga sih, padahal hobinya menulis hihi.

Sepuluh detik terakhir menjadi saat-saat mendebarkan selanjutnya. Saya merasa seperti bom yang sedetik lagi terdetonasi. Untungnya saya mengikuti saran Nadia untuk duduk di dekat tembok (saya duduk di pojok paling belakang). Ga terpapar AC. Bisa mainin semut.

Alhamdulillah akhirnya lulus.

Lingkaran-lingkaran saya yang membawa kabar kelulusan juga menambah kebahagiaan. Mabeng. Peneva. Para akhwat. Anak-anak kelas (masih nyangkut satu kalau ini sebenarnya. Semoga lo lulus, Bro! Harus!). Dan juga teman-teman lainnya. (Semoga angkatan 2010 yang belum lulus bisa segera menyusul dengan lancar sentausa! Aamiin!).

Setelah melompati titik merah TKD, kabar-kabar membahagiakan lainnya datang bertubi-tubi.

Pertama, sahabat SMA saya terpilih menjadi None Jakarta 2014. Gila ya tuh anak, dulu leyeh-leyeh bareng, gegulingan bareng, nongkrong di kantin bareng, jadi akhwat rebel bareng, dan tiba-tiba dia melesat ke mana-mana. Anak ini adalah orang pertama yang memperkenalkan saya ke dunia desain dan sketsa. Jadi desain saya kiblatnya ke anak itu. Dia juga paling persisten terhadap mimpi-mimpinya--dan turut menularkan itu ke saya. Saya ingat waktu SMA, anak itu kuat banget keinginannya untuk ke NYC. Dan tahun lalu, enam tahunan berselang semenjak mimpinya digantungkan, ia pergi ke sana mewakili universitasnya dalam ajang MUN. Barakallah. So proud of you, Vina!

Kemudian kabar kelulusan teman-teman seangkatan waktu SMA. Ada yang ingin kerja, ada yang langsung tancap S-2, semoga apa pun pilihan mereka adalah pilihan yang terbaik bagi bangsa, agama, dan negara.

Kemudian lagi, dua kakak senior waktu magang di IM juga membekali saya semangat dengan kabar-kabar gembiranya. Kak Shal ikut ekspedisi Sumba. Kak Je dapat beasiswa ke Belanda. Katanya, pesan orang IM untuk Kak Je: "Bawa pulang kembali rempah-rempah yang dulu pernah mereka rampas" :)))

Kemudian, kakak mentor tingkat dua tercinta, Kak Nina, akan melanjutkan studinya di bumi Eropa juga. Keren bangeeet! Sepanjang perjalanan tarbiyah, perasaan saya baru Kak Nina mentor yang juga seiya sekata, "Bercita-cita kuliah sampai S-3" :D

Senang ya. Walaupun bukan diri sendiri yang mengalami, tapi kabar gembira-kabar gembira itu secara tak langsung ikut serta memantik optimisme. Kabar-kabar bahagia itu entah bagaimana memberikan sebuah nyala, bahwa sejatinya perjalanan hidup saya masih sangat panjang dan masih sangat bisa berwarna. Iya, walaupun kelak jadi PNS, dengan segudang stereotip buruk (pemalas, tukang tidur, magabut, lambat, busuk, dll), perjalan hidup saya masih bisa sangat berwarna jika saya persisten untuk melukisnya dengan pastel-pastel yang merona.

Saya hanya butuh untuk terus berdoa, terus berusaha, terus memperbaiki langkah, dan terus mengaitkan diri kepada teman-teman yang keren. Teman-teman yang tak terkurung tempurung. Teman-teman yang tetap bikin waras di antara kegilaan dunia. Teman-teman yang baik agama, prestasi, pandangan, dan segmentasi-segmentasi hidupnya.

Maka jadikan itu berwarna. Jadikan itu ceria. Jadikan itu menularkan gembira dan semangat bagi orang-orang lainnya. Biar semangat itu viral, mengindonesia. *lagi belajar ngurangin nyinyir*

Setelah TKD, insya Allah, saya masih harus menghadapi banyak kepastian dalam ketidakpastian. Pasti ditempatkan, tetapi belum tahu di mana. Pasti diangkat jadi PNS, tetapi tidak tahu kapan. Pasti kuliah lagi, tetapi tergantung SK PNS. Pasti berpendapatan, tetapi tidak tahu berapa besar, kapan turun, dan kapan bisa digunakan untuk menunaikan banyak cita-cita. Pasti menikah, tetapi.... hahaha.




Mari jadikan hidup ini sederhana dan bahagia.

All of the good news make me very overwhelmed. In a good way. Semoga berkah, semoga berkah :D

You Might Also Like

0 comments