بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

TKD STAN 2014: Menyusun Strategi

By 4:57 PM

Setelah keinginan sudah terkonstruksi, maka tinggal menyusun strategi. Mau instansi yang menerima banyak orang? Tetap harus berdoa dan ikhtiar untuk lulus dari nilai mati. Mau jadi anak pusat? Pasang ikat kepala, karena kalau motivasinya sekadar “yang penting lulus” kayaknya enggak bisa.

Ini gambaran passing grade yang saya dapat dari terusan-terusan percakapan WA. Entah dari mana sumbernya, tetapi toh saya jadikan acuan juga (Skor TKD maksimal adalah 500):

BKF minimal 380
Itjen minimal 335
DJP, DJBC minimal 325
Setjen, BPPK minimal 310
DJKN, DJPK, DJA, DJPU minimal 300
DJPB minimal 275

Selain passing grade, kata orang sih, kuota juga berpengaruh.

Itjen yang passing grade-nya (katanya) 335 kita misalkan membutuhkan 10 orang anak STAN. Jadi, kalau ia dipilih oleh 30 anak yang ternyata sepuluh orang di antaranya punya nilai di atas 400, jadilah passing grade Itjen naik gila-gilaan, jadi 400. Entahlah. Pola-pola ini tidak tertulis, tidak ada pedomannya. Hanya dari wejangan sepuh-sepuh. Tetapi saya berpegang dengan ini dan tidak tersesat-tersesat banget :D

Apakah ketika memilih instansi kita tahu kuota? Saya kebetulan enggak. Saya lupa deh, rilis kuota itu setelah registrasi TKD ditutup atau ketika registrasi TKD masih dibuka. Sebelum melakukan registrasi, saya sempat gerilya ke cabang-cabang “rumput-yang-bergoyang”, buat tahu berapa kuota instansi-instansi. Tetapi nihil.
Eh setelah daftar TKD, kuota instansi malah rilis di situs ini dan situs Panselnas.

Jadi, ketika semua pertimbangan menyusut ke BKF sebagai pilihan pertama, sisa perjuangan berjalan dengan modal pasrah-pasrah nekat. Saya hanya punya bayangan: kemarin yang masuk BKF (kalau enggak salah ingat) ada 28 orang. Saya harus bersaing dengan anak Kebendaharaan Negara, anak Akuntansi, dan anak Pajak. Teman-teman seangkatan saya yakin sudah lebih siap ketimbang kakak kelas tahun lalu. Kesiapan itulah yang berpotensi membuat passing grade naik gila-gilaan dan persaingan jadi lebih ketat. Dengan itu, saya menarget skor TKD harus lebih dari 400. 

Usaha yang diperlukan untuk dapat skor segitu kira-kira harus 919371481846372468732 kali lebih keras dari cara belajar yang biasa. Singkatnya, susah :(

TIU oke (terima kasih untuk Pak Bambang dan Pak Amir, guru matematika yang mengajarnya sampai ngelotokin konsep-konsep matematika dasar di kepala). TKP juga okelah. Saya toh enggak kriminal-kriminal banget. Tapi TWK?

(TKD terdiri dari tiga mata ujian. Tes Intelegensia Umum [semacam matdas], Tes Karakteristisk Pribadi [semacam moral di pelajaran PPKn], dan Tes Wawasan Kebangsaan [semacam Pancasila, undang-undang, dan sejarah])


Saya suka sejarah. Tapi saya jadi enggak suka kalau itu harus dihafalin. Sedangkan anak-anak kalung merah ini kemampuan menghafalnya sangar-sangar. Saya masih ingat dulu pas UAS-UTS, banyak yang hafal mati soal-bahas IMMA. Saya yang ikutan menyusun soal-bahas ini malah suka minder karena kadang cuma inget soalnya, lupa jawabannya *nasib pengumpul soal* :((

Iya, setelah berbaaaaagai macam asumsi, faktor, dan pertimbangan dimasukkan (imbauan orang tua, wejangan kakak tingkat, tujuan, prioritas keinginan, rencana ke depan), saya akhirnya menjatuhkan pilihan ke Badan Kebijakan Fiskal dan Direktorat Jenderal Pajak. Mencoret DJPb dari daftar.

Selama masa-masa itu saya berharap-harap cemas sambil melakukan istikharah. Enggak ada perasaan yang paling menenangkan, kecuali kenyataan bahwa kita telah melaporkan, menyandarkan, dan memasrahkan usaha-usaha serta pilihan-pilihan kita kepada Allah.

Selain itu, saya juga meminta (meneror lebih tepatnya) orang tua untuk terus ikut mendoakan. Orang tua sampai lelah dan butuh piknik kali karena saya berulang-ulang-ulang-ulang-ulang kali nyeletuk “Bu doain dong,” dan “Pak doain sih,” di tengah-tengah orang tua yang lagi makan malam, nonton TV, benerin motor, masak, dll dll. Selama berhari-hari. Dan berkali-kali di tiap harinya. Saya percaya kekuatan doa orang tua :D

Kalau bercerita menyoal minta doa kepada orang tua ini, saya selalu teringat kisahnya Ustazah Isti. Beliau ketika dipinang, juga menyuruh orang tuanya ikut istikharah. Jadi bukan Ustazah Isti doang yang istikharah.Yeah.

“Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik‐baik pemberi tempat.” (QS. Al‐Mu'minun: 29)

Saya percaya, bahwa setelah manusia memperhitungkan tempat-tempat terbaik berdasarkan jangkauan pandang dan ukuran-ukurannya, kemudian dengan kekuatan penuh mengayuh usaha menuju tempat-tempat tersebut, ada  faktor-faktor misterius lain yang sedang bekerja. Boleh jadi, apa yang kita lihat baik adalah yang baik juga menurut Allahkemudian Allah menuntun kita untuk semakin mendekat ke tempat tersebut. Dan boleh jadi sebaliknya.

Maka, seandainya ada satu dan lain hal yang membuat nilai TKD saya anjlok (mungkin tiba-tiba pingsan, tiba-tiba mata minus 8, tiba-tiba kelaparan sampai enggak bisa mikir, anything could happen), kemudian saya gagal ditempatkan di instansi-instansi pilihan, insya Allah maknanya tetap yang baik-baik, misal: disuruh belajar lagi tentang penerimaan.

Yah, yang penting sudah berjuang pada hal-hal yang ada di ruang kendali.

Qadarullah, setelah selesai mempersiapkan dokumen yang dibutuhkan, setelah berdoa kepada Allah dan yakin atas pilihan-pilihan, tiba-tiba ada rilis kuota instansi Kementerian Keuangan yang mengabarkan kalau kuota BKF untuk spesialisasi kalung merah membengkak dari 5 menjadi 19. :D :D :D

***

Pilihan telah ditetapkan. Target nilai telah dipasang. Selanjutnya adalah proses yang melelahkan. Kalau kata Saroh, proses yang bikin MLZ. ZBL. KZL.

Belajar.


Sebelum belajar, ada baiknya kita menata ulang mindset. Ini penting banget.

Dalam Supermentor 3 kemarin, ketika ditanya tentang mengapa bulutangkis sekarang tidak semeriah dulu, Susi Susanti menjawab bahwa fenomena tersebut mungkin disebabkan karena pebulutangkis Indonesia saat ini banyak yang kalah sebelum bertanding. Kalah mindset-nya, kalah mentalnya. 

Pas TKD kemarin, saya juga hampir kalah mental. Dari rumah membawa mental Pejuang Lapangan Banteng, sampai di lokasi TKD berubah menjadi mental “yang penting lulus”. Dan ketika ngobrol sama teman tentang yang belum lulus, mental saya berubah lagi jadi mental “gue lulus enggak ya?”

Dan keraguan-keraguan itu bergumul cepat hanya beberapa jam sebelum TKD.

Akhirnya saya pasang headset, mendengar murottal. Menenangkan diri ketika TKD tinggal satu jam lagi. Pertempuran dengan diri sendiri kayak gini enggak kelihatan kan ya—walaupun dampaknya besar.

Saya mengingat-ingat ingat lagi cara Delisa, tokoh dalam novel/ film Hafalan Shalat Delisa, supaya bisa menghafal bacaan shalat. Terutama mengenai fokus. Bahwa ada tsunami yang menerjang pun, Delisa tetap melanjutkan ujian bacaan shalatnya. Saking fokusnya.

Akhirnya saya berusaha untuk tidak memikirkan hal yang lain kecuali: lulus dan pilihan pertama.

Rasa-rasanya, semangat cadangan (kalau-kalau entah bagaimana mental drop sebelum bertanding) memang harus dimiliki—dan tentunya semangat tersebut harus bisa “diakses”. Kalau bisa, masalah semangat menyemangati ini jangan sampai bergantung ke orang lain. Hilangkan self-dependency kepada makhluk. Nah semua ini harus disiapkan jauh-jauh hari—mungkin dimulai ketika memilih instansi. 

Beberapa orang menyarankan kita untuk menulis impian. Ini mungkin bisa jadi tips. Saya melakukannya. Ketika TKD diumumkan saya berusaha: mencatat pertimbangan-pertimbangan di buku catatan, membuat mural inisial instansi dan mindmap materi. Kemudian ditempel di tembok kamar—supaya menjelang tidur dan bangun tidur, yang dilihat adalah gambar-gambar tersebut. Melatih fokus.

Agar fokusnya terkonstruksi untuk bersungguh-sungguh belajar. Memaksimalkan segala panel di ruang kendali.

Kemudian menyusun motivasi. Saya ingat cuitan Kak @inizali yang mampir di linimasa. Tips untuk lulus TKD adalah dengan: merasa bodoh dan enggak mau mengulang. Bener banget!

Selain itu, terinspirasi sama Imam Syafi'i, saya juga terus membatin seperti ini kalau kemalasan sudah mulai mengetuk pintu: "Lebih baik susah-susah belajar daripada menanggung penyesalan seumur hidup karena enggak lulus TKD atau lulus, tapi masih nyusahin orang tua."

Teruntuk teman-teman yang akan lulus di 12 September 2014 besok (Aamiin!), jangan kalah mental ya! Tetap belajar. Fokus untuk lulus. Minta doa orang tua. Hindarkan diri dari pikiran-pikiran negatif. Saya yakin kalian bisa, guys. Ma'an najah!

 ***

Kalau kelompok materi dibuat lingkaran kecil-lingkaran besar, saya mengelompokkan materi menjadi seperti ini:

Lingkaran kecil yang paling tengah—sebut saja ring pertama—adalah materi tentang undang-undang. Hafalin. Bab berapa judulnya apa dan terdiri dari berapa pasal, pasal berapa menceritakan apa, amandemen ke berapa itu pasal berapa saja, substansi yang diamandemen apa. Dan semisalnya.

Ring kedua adalah tentang pancasila, pembukaan UUD, dan perlawanan pasca kemerdekaan. Batasannya dari Janji Koiso sampai UUDS 1950 dicabut.

Ring ketiga adalah sejarah pra kemerdekaan. Dari zaman Portugis, Inggris, dan Belanda rebutan rempah-rempah, sampai Belanda betah di Indonesia dan kemudian tergantikan oleh Jepang. Dan zaman pasca UUDS 50 dicabut dan balik ke UUD 1945, sampai kira-kira zaman Habibie lah.

Ring keempat adalah masa pra sejarah. Zaman-zaman batu. Nomaden tidak nomaden. Begitulah.

Ring kelima adalah materi paling luas yang pernah ada: kerajaan di Indonesia dan sejarah dunia.

Materi yang perlu ngelotok di luar kepala adalah materi ring satu dan ring dua. Ring tiga untuk dipahami. Ring empat dan lima levelnya asal tahu saja. Selain serpih-serpih buku sejarah SD, SMP, SMA, saya ingin berterima kasih kepada orang-orang yang sangat baik hati membuat atau menyebarkan materi-materi ini:

Catatan 1
Catatan 2
Logika Matematika
PPT TWK
TKD 2013
Simulasi CAT BKN
TO TKD Rp10ribu

Semoga menjadi amal jariyah yang tak putus. Aamiin.

***

Setelah usaha-usaha di atas, apakah skor TKD saya bisa melampaui target? Ya enggak lah :v Kuis PKPD aja nilainya pernah 45 membara. Tapi Alhamdulillah, skor saya cukup untuk membawa ke pilihan pertama. Dan iya, untuk BKF, sepertinya passing TKD dari antah-berantah itu memang benar.

Pertama kali mengenal BKF adalah ketika saya terdampar di tenda yang sepi pengunjung ketika Career Expo. Seorang bapak menjelaskan apa itu BKF dan saya hanya mengucap "Ooh" sambil menyimpan keinginan yang semi-semi mustahil karena proyeksi saya, saya akan di DJA, atau DJPb, atau DJPK, atau DJPU. Lagipula, BKF... mustahil deh. (ngintip lagi nilai kuis PKPD).

Kali kedua bersinggungan dengan BKF adalah ketika diajak Kak Niar DJA untuk donor darah. Donor darahnya di gedung BKF. Saya masuk gedungnya, dan berdoa: semoga suatu saat bisa kembali ke sana.

Satu lagi pelajaran agar kita tidak menyepelekan doa-doa. Selirih apa pun ia terapal dari mulut kita.

***

“Untuk mencapai hal-hal yang besar butuh energi yang besar juga. Dan kita harus paham, bahwa energi seorang muslim tidak hanya dari usahanya sendiri, tetapi juga dari campur tangan Allah. Sebesar apa pun usaha kita, kalau Allah tidak ridha, percuma.”

Mbak Arik, ketika Ifthar DIVA menjelang UAS.


Ya Allah, ridhailah jalan kami.

You Might Also Like

25 comments

  1. Terima kasih sudah share pengalaman dan materinya, Mbak. Sangat membantu. :')
    Semoga saya bisa segera menyusul Mbak. Hehe, semangat! ^o^9

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Dek. Aamiin. Semoga sukses!

      Delete
  2. Jazakillah Khaira Katsira. Sangat bermanfaat Kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajazakallahu ahsanul jazaa. Alhamdulillah bermanfaat :)

      Delete
  3. Terima kasih motivasinya kak. Kalo boleh tau,IPK kakak dulu waktu lulus berapa? saya cita2 juga ingin masuk BKF. Tapi katanya IPK harus tinggi biar bisa masuk kesana. Entah ini psytrap atau bukan. Sementara IPK saya (sekarang masih tingkat 3 awal) masih di kisaran 3,2an. Mohon pencerahannya kak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. IPK segitu bisa masuk BKF kok. Tenang aja.

      Kalau yang saya lihat di angkatan saya, skor TKD pengaruhnya ke instansi, sementara IPK pengaruhnya ke kantor vertikal (jadi IPK lebih menentukan apakah seseorang penempatan di Jakarta, Sabang, atau Merauke).

      Karena BKF ngga punya kantor vertikal, jadi no worries IPK berapa aja. Semangat yah. Ditunggu di BKF :D

      Delete
  4. skor tkd berapa mbak? persiapan berapa lama ya mbak kalo boleh tahu?hhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, malu saya haha. Kalau dibaca teliti, ada klue-nya kok :p

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Wah, terimakasih mbakk pengalaman dan materi TKD yang diberikan sangat bermanfaat:) Semoga saya bisa seperti mbak juga ya :')

    ReplyDelete
  7. Wah, terimakasih mbakk pengalaman dan materi TKD yang diberikan sangat bermanfaat:) Semoga saya bisa seperti mbak juga ya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Dek. Harus bisa lebih baik ya. Aamiin.

      Delete
  8. Kak, saya calon mahasiswi stan 2016 kaa. Alhamdulillah saya udah bisa lolos tahap 1 . Tahun ini tahun pertama stan memberi tes tkd sebelum berkuliah kaa. Yang ingin saya tanyakan, apakah tingkat kesulitan soal untuk kami calon maba sama dengan soal yang diberikan kepada tamatan stan yang akan diangkat menjadi pns ka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Good for you!

      Feeling aku sih tingkat kesulitannya akan sama. Tes PNS yang reguler pun diikuti oleh anak SMA sampai--bahkan--S2 kan. Tetapi mungkin yang dibedakan adalah passing grade-nya. Lagipula, Materi TKD sudah dipelajari di SMA semua kok.

      Semangat yaa.

      Delete
  9. kaaak!! aku juga alumni sma 47 ehehehee suka bacanyaa kak

    ReplyDelete
  10. Assalamualaikum itu berlaku buat d3 aja ya kak? yg kategori skor tkd nya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wa'alaikumussalam. Saya kurang tahu apakah pola yang sama berlaku untuk anak D1 juga atau ngga, Dek. Maaf yaa.

      Delete
  11. Kak slm kenal kak saya alumni stan d1 medan tahun 2016, yg mau tkd bulan nopember, kira2 ada gag kak anak d1 yg masuk bkf? Oh ia saya jurusan pajak kak, dan kalau boleh tau skor tkd kakak berapa? Makasih banyak sebelumnya kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sukses ya untuk TKD-nya nanti. Untuk penerimaan D1 di BKF, setahu saya pernah ada, tapi itu sudah lamaaa sekali. Di angkatan saya sampai dua angkatan di atas saya, yang diterima hanya anak D3.

      Delete
  12. bermanfaaat sekali luar biasa. skrg stan gak mesti kemeneku mbk, ada perhubungan,eko,sama BPK. dan thn 2016 gak ada form pengisian minat mau diinstansi mana, jadi kayaknya lembaga yang ngatur kita kemana. ijin sedot materinya, semoga menjadi amal jariyah mbk . jazakillah khoiron katsir

    ReplyDelete
  13. Jazakillah kak ilmunya. Semoga bisa jadi amal jariyah 😊😊 btw tipsnya keren 😅😅

    ReplyDelete