بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

TKD STAN 2014: Merencanakan Perjalanan

By 2:30 PM


(Tulisan ini dibuat untuk berbagi dengan adik-adik calon lulusan STAN tersayang *cie* biar bisa mengambil pelajaran dan tidak banyak-banyak tersesat di tengah jalan. Ditulis sekarang karena kalau ntar-ntaran, nunggu kalian TKD, saya bakal keburu lupa.)

Ada yang bilang, masuk Perguruan Tinggi Kedinasan bagai menyelam di lumpur paradoks. Banyak orang yang merasa marah sekaligus lega pada satu titik. Menyesal sekaligus bersyukur pada titik lain. Kehilangan kesempatan sekaligus menemukan kesempatan di titik yang lainnya lagi. Dan begitulah. Paradoks tersebut terus membentuk titik-titik, banyak sekali titik-titik perasaan aneh, hingga membentuk garis perjalanan hidup.

Kuncinya: (1) Untuk kewarasan diri sendiri adalah sabar dan syukur. (2) Untuk kewarasan Indonesia adalah sikap kritis, dan munculkan kekritisan itu sering-sering ketika bercermin. Sehingga yang selalu kita niatkan saat pergi bekerja adalah langkah untuk menciptakan perbaikan-perbaikan.

Sudah dua tahun ini, alumni STAN harus mengikuti tes yang kelulusannya adalah prasyarat penempatan. Jadi, untuk yang ingin masuk STAN, bayangkanlah dulu rangkaian-rangkaian yang akan kalian lalui, sebelum kalian benar-benar mendaftar di kampus ini:
1.)    ikut USM dengan acceptance rate hanya sekitar 4-5 persen.
2.)    harus melewati ranjau drop out sebanyak enam kali (drop out akan diberlakukan jika IP di bawah 2,75, atau ada nilai E, atau karena menyontek, atau perkara absen). Jangan berpikir ini formalitas. Waktu tingkat dua, kalau tidak salah ada 40-an orang yang DO.
3.)    setelah lulus-yudisium-wisuda, harus menghadapi ujian kesabaran (dianggurin, menanti pengumuman) selama hampir setahun. Beberapa orang menyebutnya masa tunggu.
4.)    setelah masa tunggu selesai, ada tes yang harus diikuti untuk menentukan instansi.

Tes keempat itu namanya Tes Kemampuan Dasar (TKD), sistemnya memakai Computer Assisted Test alias CAT (baca: ket, kayak bahasa Inggrisnya kucing) garapan Kemenpan-RB. Tesnya lagi-lagi bukan formalitas. Karena yang tidak lulus benar-benar tidak ditempatkan. Jadi, kalau tidak lulus TKD, kelulusan ujian-ujian dari nomor satu sampai tiga di atas semacam usaha-usaha menegakkan benang basah: sia-sia.

Sederhananya, TKD ini akan membawa kita ke instansi penempatan. Kementerian Keuangan memiliki sebelas unit eselon yang terdiri dari tujuh direktorat, dua badan, satu sekretariat, dan satu inspektorat. Jadi dalam masa registrasi TKD, kita akan disuruh memilih satu atau dua instansi (tergantung spesialisasi) yang kita inginkan dari sebelas unit eselon tersebut.

Instansi yang kita inginkan?


Iya, sesungguhnya seni yang paling sulit dalam TKD adalah menentukan keinginan. TKD ibarat titik percabangan di mana kita harus memutuskan ke mana arah dan tujuan hidup kita selanjutnya. Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun—kecuali kalau kita penyuka tantangan dan berani untuk membentuk titik percabangan lain di usia kita yang 30 atau 40; mungkin dengan keluar dari Kementerian Keuangan dan meloncat ke ladang amal yang lain.


Pun bagi saya, kesulitan saat registrasi instansi TKD adalah merumuskan keinginan, mempertemukannya dengan realitas, dan mendamaikan keduanya.
Setiap spesialisasi memiliki instansinya tersendiri. Ini sih sepertinya akan selalu berubah sesuai kebutuhan Kementerian Keuangan. Tetapi tahun 2014 ini, formasinya pilihannya adalah sebagai berikut:

Spesialisasi Akuntansi: Setjen, Itjen, BPPK, BKF, DJPU, DJP, DJBC, DJPB, DJKN, DJPK, DJA.
Spesialisasi Bea Cukai: DJBC
Spesialisasi Pajak: Setjen, BKF, DJP
Spesialisasi PBB: DJP, DJKN
Spesialisasi Kebendaharaan Negara: Setjen, BPPK, BKF, DJPU, DJP, DJPB, DJPK
Spesialisasi PPLN: Setjen, BKF, DJKN

Spesialisasi dengan semakin banyak pilihan instansi adalah spesialisasi yang, entah beruntung atau tidak, karena peluang untuk kecewa tak diterima di instansi pilihan jadi semakin tinggi. Lagi-lagi kita mengalami paradoks. Tidak enaknya: bingung, galau, deg-degan, mau pura-pura mati aja. Enaknya: punya pilihan.

Spesialisasi yang pilihan instansinya hanya satu pun juga akan merasakan paradoks. Enak: karena enggak perlu bingung milih instansi. Tidak enak: karena yang enak adalah yang punya pilihan.

Kuncinya ya lagi-lagi, sabar dan syukur itu tadi. Pejuang, kan? Hadapi.

***

Instansi yang kita inginkan?

Instansi yang kita inginkan?

Apa yang harus dirumuskan?

Sebagai kalung merah yang cinta sama Indonesia dan DJPb, pertimbangan saya awalnya hanya sederhana: bisa keluar dari kepenatan Jakarta, jalan-jalan, lihat ombak atau gunung setiap hari. Ketemu anak-anak kecil di penjuru Indonesia dan berbagi cerita. Damai banget ngebayanginnya. Maka pilihan awal saya kira-kira akan jatuh ke Ditjen Perbendaharaan atau Ditjen Pajak.

Kenapa keluar Jakarta? Saya pernah PKL di Ditjen Anggaran yang letaknya di pusat. Dan menyaksikan Jakarta yang dipaksa kece khas metropolitan, padahal jeroannya sudah tua, lelah, dengan napas satu-satu, adalah beban tak tampak yang melelahkan.

Tetapi pertimbangan yang demikian—yang hanya pakai perasaan—biasanya rawan membuat saya menyesal di akhir-akhir perjalanan. Jadilah saya memutuskan bergerilya ke kakak tingkat, mencari informasi untuk pertimbangan-pertimbangan lanjutan. (Tips bertanya ke kakak tingkat: mulailah dengan kalimat-kalimat to the point semacam “Kakak aku galau instansi” ditambah minimal tiga emot menangis. Enggak usah pakai berbasa-basi dulu, nanti lupa tujuan dan keterusan ngobrol ngalor ngidul).

Sebenarnya, cara mengonstruksi keinginan akan berbeda bagi setiap orang. Spesialisasi, gender, kedekatan dengan orang tua, prinsip, kemandirian, ambisi, tujuan hidup, teman hidup (atau calon teman hidup) *halah* amat sangat mempengaruhi pilihan-pilihan. Ujung-ujung republik atau tetap di ibukota? Instansi yang ritme kerjanya tenang atau yang gaduh? Yang gajinya tinggi atau kesempatan kuliahnya tinggi?

Karena kita tidak akan bisa mendapatkan gaji tinggi, ritme kerja surgawi, bergelimang kesempatan studi, dan penempatan yang seksi dalam satu paket. Mungkin ada sih, tetapi normalnya, semua punya untung rugi.

Maka sebenarnya TKD adalah titik yang tepat untuk kembali bercermin dan bertanya lagi ke bayangan di depan sana, “Mau kamu apa? Prioritas kamu apa?”

Jakarta Saat Senja. Dari Puncak Wisma BNI.

Ini adalah kelompok keinginan yang coba saya petakan, semuanya akan kita pandang dengan bingkai yang positif:
1.      Cari penghasilan sebanyak-banyaknya. Katrol kualitas hidup. Menyekolahkan adik-adik. Bantu orang tua. Bangun cita-cita untuk meringankan urusan banyak kerabat dan tetangga.
2.      Cepat naik jabatan: agar bisa membenahi hal-hal yang tidak bisa kita benahi ketika cuma jadi bawahan.
3.      Sekolah setinggi-tingginya. Belajar. Cari beasiswa. Keluar negeri kalau perlu, belajar tentang perjalanan-perjalanan manusia. Mencerdaskan kehidupan bangsa.
4.      Dekat dengan rumah. Keinginan yang seindah dan sesederhana menemani ibu dan bapak menyambut senja.
5.      Mencoba sesuatu yang baru, penuh tantangan, jalan-jalan selagi muda.

Dalam kajian-kajian yang saya ikuti, kelompok misi tersebut dibagi menjadi tiga: kasbul ma’isyah, tanmiyatul kafaah, dan nasyrul fikrah wad-da’wah. Dengan ta’biah al-afaqiyyah dan ta’biah al-amudiyyah. Apa artinya? Silakan hubungi akhi-ukhti di IMM Spesialisasi terdekat, ikuti kajian-kajiannya dari sekarang. Suatu saat, di tingkat-tingkat akhir, kalian akan "terjebak" dalam kajian yang pembicaranya orang keren yang mampu membahas ini dengan lebih mumpuni :D #iklan

Dan ini adalah pengelompokkan instansi berdasarkan peta-peta tadi. Urutannya dari yang tertinggi ke yang biasa aja. Saya ambil dari akun Twitter TO CPNS:
1.      Income: DJP, Itjen, DJBC, DJPU, DJPb, DJA, Setjen, DJPK, BKF, DJKN, BPPK
Eselon yang tidak mendapat tunjangan tambahan: DJPK, DJKN, BPPK, BKF
2.      Kesempatan berkarir: DJP, DJBC, DJPb, DJKN, BPPK, DJA, Itjen, BKF, DJPU, DJPK, Setjen
3.      Kesempatan studi: BKF, BPPK, DJP, DJPb, DJA, DJKN, DJPK, DJPU, Itjen, DJBC, Setjen
4.      Lokasi kerja di pusat: BKF, Itjen, DJPU, DJPK, DJA, Setjen
5.      Lokasi se-nusantara: BPPK, DJP, DJKN, DJBC, DJPb

Income akan sejalan dengan beban kerja. DJP income-nya besar, tetapi tanggung jawab dan beban kerjanya juga (katanya) berat. Tapi ini mah lagi-lagi masalah qana’ah dan kecakapan mengatur keuangan. Kayaknya gaji PNS di mana-mana ya kisaran segitu.

Kesempatan berkarir yang bagus biasanya ada di instansi-instansi yang memiliki instansi vertikal—alias memiliki cabang di seluruh nusantara. Instansi yang punya kantor di Tobelo, Toli-toli, Siau Tagulandang Biaro, Sangihe, Manna, Raha, dan tempat-tempat yang masih di Indonesia tetapi jarang sekali terdengar. Tempat-tempat yang kayaknya bikin boros baterai smartphone karena minim sinyal :’)

Nah, kenapa di awal saya bilang cinta sama DJPb? Karena banyak orang-orang hebat yang lahir dari DJPb meskipun instansi itu selalu jadi bahan lucu-lucuan dan bully-bullyan :’)

Petinggi Setjen, Petinggi Itjen, Direktur LPDP, dan banyak lainnya berasal dari DJPb (coba baca ini). Kalau di obrolan anak bengkel, filosofinya begini: Pelaut andal tak datang dari lautan tenang. Dia harus dikasih ombak. Ombaknya di KPPN Nias, Tahuna, Masohi... *literally ombak*

Lokasi kerja di pusat berarti strukturnya itu-itu aja, kantornya itu-itu aja, jadi jenjang karier juga gitu-gitu aja. Tapi lokasi kerja di pusat juga bisa bermakna lain: kepastian. Kepastian adalah mata uang yang sulit didapat kalau kita berbicara menyoal pemerintah.

Ada kakak tingkat yang ayahnya pegawai DJPb, bercerita di blognya tentang ia yang memilih instansi pusat karena mencari ketetapan. Kepastian. Ia ingin settle. Ia sudah paham benar sepak terjang mutasi DJPB (baca di sini).

Trade-off yah? Selamat datang di kehidupan!

Oh ya, ini informasi tambahan buat perempuan:

DJP untuk perempuan penempatannya biasanya homebase atau pusat. Tetapi alangkah untung-untungannya. Kabarnya, tahun lalu (2013) mudah karena yang ngurusin penempatan ini perempuan.

DJKN untuk perempuan rata-rata tempatnya bagus. Solo, Bandung, Jakarta, Bandar Lampung. Yang minta di pelosok mana-mana (misalnya karena mengikuti suami) barulah dilempar.

***
“Hidup kita tidak selalu berbicara tentang apa yang kita mau. Tetapi kemudahan-kemudahan itu tak pernah mustahil bagi Allah. Bisa dengan cara yang paling masuk di logika. Atau paling tidak masuk di logika.”
Seseorang

You Might Also Like

7 comments

  1. terimakasih banyak atas tulisannya kak . dan ya , semakin trade off pilih instansi apa :') . milihnya aja bingung belajarnya jg jadi bingung :"""DDDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Dek. Jangan bingung-bingung. Belajarnya mah kan sama aja materinya haha. Semangat ya, yang terpenting berusaha dengan usaha terbaik. Jangan lupa berdoa :D

      Delete
  2. Kak kira2 selain ipk apa saja variabel lain yg mempengaruhi penempatan kita? Terimakasih sebelumnny kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau untuk penempatan di instansi yang punya kantor vertikal, saya kurang tahu banyak, Dek. Keputusannya kayaknya sangat bergantung pada tiap instansi. IPK yang jelas dipertimbangkan. Mohon maaf ya ga bisa jawab banyak.

      Delete
  3. Kak blh sharing ttg penempatannya? Saya perempuan dan msuk djpb jg, bmasih banyak berkecamuk dan blm bs bersyukur :"

    ReplyDelete