بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Balada Less Cash Society

By 12:56 PM



Sampai tadi pagi, saya tidak pernah kepikiran bahwa akan tiba masanya di mana saya meng-goggle frasa "Indomaret Card".

Iya, dari dulu kalau ke Indomaret dan ditawarin kartu-kartuan saya selalu memotong Mas-Mbaknya dengan penolakan, bahkan sebelum si Mas-Mbak Indomaret selesai menjelaskan. Berpikir bahwa saya tidak butuh dan tidak akan pernah butuh kartu seperti itu. Eh ternyata, nasib berkata lain.

Karena sepertinya ada jeda yang cukup lama sebelum BKF buka kantor cabang di Eropa dan saya ditransfer ke sana *bikin isu* saya masih akan terus goler-goler di Jakarta hingga waktu yang tidak diketahui. Dan berbicara tentang Jakarta, kita tak akan luput berbicara tentang transportasi publik yang sedang terus berbenah.

Salah satu poin pembenahannya adalah perihal tiket. Dulu waktu awal diluncurkan, saya ingat sekali kalau Transjakarta pakai tiket kartu macam tiketnya Commuter Line. Saya ingat kartunya masih kinclong dan warna-warni. Waktu bergulir, dan gambar-gambar di kartu tersebut pun hilang akibat seringnya berpindah tangan. Iya, beneran hilang. Dari kartu yang warna-warni sampai benar-benar putih kusam tanpa tulisan.

Setelah itu sistem tiket di Transjakarta berubah lagi menjadi tiket kertas, nyampah di mana-mana. Dan kini, Transjakarta mulai akan menerapkan sistem e-ticketing alias tikel (tiket elektronik *ceritanya tikel itu temannya surel*). Katanya 2015 akan rata di semua koridor. Tidak ada lagi loket-loket yang nominal transaksinya Rp3.500-an per kepala.

Kemarin selepas berpergian di Ciputat, saya pulang menggunakan angkutan jurusan Lebak Bulus. Di angkutan tersebut, saya menemukan penumpang yang turun di depan halte Transjakarta-kemudian menyetop abang angkotnya lagi dan tidak jadi turun karena, "Halte yang ini kayaknya enggak bisa beli tiket kertas, Bang. Saya turun Lebak Bulus aja deh," kata dia.

Dan mungkin tahun depan, tidak akan ada tiket kertas di semua halte.

Entah mengapa, saya merasa beruntung karena di masa-masa saya sedang beradaptasi untuk mengganti preferensi kendaraan umum dengan Commuter Line (CL), pihak CL masih menyediakan opsi Tiket Harian Berjamin. Bayangkan betapa dongkolnya kalau kita baru mau mencoba-coba pakai CL, langsung ditodong untuk beli Kartu Multi Trip (KMT) yang harganya 10-20 kali lipat dari harga tiket harian. Seakan dipaksa untuk pakai CL, setidaknya sampai saldonya habis. Walaupun misal, setelah naik, kita tetap enggak sreg jadi anak kereta.

Galau? Iya, semoga kata-kata "galau" tidak terlalu drama dan berlebihan dalam menggambarkan orang yang sedang pilah-pilah preferensi transportasi. Karena ada kalanya naik kereta cuma setengah jam, tetapi naik angkot bisa empat jam. Atau sebaliknya, naik bus hanya setengah jam, tetapi naik kereta sampai tiga jam. Diakumulasikan dengan pertimbangan-pertimbangan terkait ongkos, pekerja di Jakarta tentulah pejuang-pejuang yang penuh perhitungan.

Belum lagi, di Jakarta ini, sering sekali orang disuruh memilih satu dari dua hal yang sama-sama tidak enak, misal; pilih macet di jalan atau pilih ber-hunger games di CL?

Laman-laman berita beberapa bulan belakangan banyak yang bercerita tentang orang-orang yang lebih memilih meninggalkan loket Transjakarta ketimbang membeli e-tiket yang harganya Rp40.000. Banyak yang dongkol dengan alasan, "Kita kan cuma sekali-sekali doang naik busway."

Dongkol. Kecewa. Susah berubah. Mungkin ini memang kendala terbesar kalau Indonesia mau menuju generasi nontunai alias Less Cash Society. (Saya kurang tahu mengapa Indonesia lebih memilih istilah Less Cash Society daripada Cashless Society seperti yang dikenal internasional). Walaupun, kalau berbicara di sekup dunia, kita jelas tertinggal. Negara maju sudah pada ngetap-ngetap pakai ponsel sendiri, kita masih dalam rangka mengkartukan uang. Tapi tak apalah, mari terus berbenah :))

Less Cash Society adalah wacana selanjutnya jika kita berbicara tataran sosial ekonomi di Indonesia. Mungkin akan ada saat di mana ketinggalan handphone dan kartu-kartu lebih membahayakan nyawa ketimbang ketinggalan uang.

Bank Indonesia sudah mulai ancang-ancang untuk menuju Less Cash Society kira-kira tujuh tahun lalu. Tetapi karena berjuta-juta penduduk Indonesia tersebar di mana-mana, ditambah kendala-kendala emosional macam tadi, langkah Indonesia menuju Less Cash Society memang seperti siput. Target BI, baru 10-15 tahun mendatang, 85% generasi Indonesia sudah biasa bertransaksi nontunai.

Salah satu penyokong untuk menciptakan generasi nontunai adalah uang elektronik. Dan saya baru tahu bahwa Indomaret Card adalah salah satu uang elektronik -_-

Sudah ada beberapa bank yang bikin uang elektronik dengan masing-masing kekurangan dan kelebihannya. Di antaranya adalah Flazz milik BCA, BRIZZI milik BRI, E-Toll Card, E-Money, dan Indomaret Card milik Mandiri, serta Tap Cash milik BNI.

Kartu-kartu tersebut sejauh yang saya tahu sudah bisa digunakan di jalan tol, Transjakarta, Pertamina, dan CL. Memudahkan sih, tinggal tap dan urusan selesai. Tapi tetap aja ada bagian-bagian yang mengesalkan semisal: saldo minimum dan integrasi ke bus selain Transjakarta.

BRIZZI, misalnya, mengharuskan saldo minimum Rp20.000, which is... banyaaak T_T bisa buat makan satu sampai tiga kali itu*mental anak kos* Tentu saja untuk pegawai baru macam saya dengan upah yang buat ngekos tanpa makan-mandi-minum saja masih nombok, saldo minimum ini cukup memberatkan untuk beralih ke uang elektronik. Di saat dengan uang tunai saya masih bisa empat kali bolak-balik Pasar Minggu-Tanah Abang, dengan BRIZZI, saya sudah mesti isi ulang lagi.

E-money lainnya punya saldo minimum bervariasi. Flazz dan BNI, misalnya, bisa dihabiskan sampai saldonya Rp0. Kekurangannya, kita harus punya rekening mereka buat isi ulang. And making bank account right here and right there is not really my hobby. Aku kuno dan konvensional haha.

BNI bisa top up di merchant sih, tapi saya cari-cari, enggak ketahuan merchant-nya di mana aja. Kalau BRIZZI dan E-money/Indomaret Card kan bisa top up di Indomaret yang menjamur di mana-mana.

Kekurangan kedua adalah integrasi bus selain Transjakarta. Tahu kan kopaja-kopaja AC atau bus-bus APTB? Beberapa bulan lalu, saya cukup mengeluarkan uang Rp5.000 untuk pergi ke Lapangan Banteng dengan naik Kopaja AC P20. Sekarang, seiring dengan pemberlakuan e-tiket, saya harus bayar Rp8.500. Rinciannya: Rp3.500 untuk masuk ke halte Transjakarta, dan Rp5.000 untuk dibayar langsung ke abang-abang kopaja. Gimana para pengguna APTB yang tarifnya bisa Rp12.000 ya, pasti kerasa banget itu naiknya.

Sejauh ini, kalau mau berangkat kerja naik kopaja, saya berpikiran untuk berdiri di trotoar (?) tengah jalan--trotoar yang memisahkan busway dan jalanan umum--buat mencegat kopaja AC. Biar bayarnya enggak double haha. Walaupun rada-rada mempertaruhkan keselamatan jika tiba-tiba Transjakarta lewat di depan muka dan metromini mepet di belakang punggung... secara bersamaan... dengan kecepatan kilat yang serupa.

Membayangkannya saja sudah absurd.


Mungkin begini ya rasanya jadi orang-orang zaman dulu di masa-masa awal perkenalan dengan uang koin ketika mereka terbiasa pakai sistem barter. Atau ketika diperkenalkan dengan uang kertas ketika mereka sudah terlanjur nyaman dengan uang koin.

Welcome to the new age!

You Might Also Like

6 comments

  1. Lho kok ga muncul ya komenku sebelumnya -___-
    Aish....
    Ini lho, setting komennya yang URL dihidupin dong biar bisa linkback~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. What? What? Whaaaaaaat? Aku enggak paham :(((( Itu adanya di mana ya?

      Delete
    2. assalamu alaikum wr wb..
      bismillahirrahamaninrahim... senang sekali saya bisa menulis
      dan berbagi kepada teman2 melalui tempat ini,
      sebelumnya dulu saya adalah seorang pengusaha dibidang property rumah tangga
      dan mencapai kesuksesan yang luar biasa, mobil rumah dan fasilitas lain sudah saya miliki,
      namun namanya cobaan saya sangat percaya kepada semua orang,
      hingga suaatu saat saya ditipu dengan teman saya sendiri dan membawa semua yang saya punya,
      akhirnya saya menanggung hutang ke pelanggan-pelanggan saya totalnya 470 juta dan di bank totalnya 600 juta ,
      saya sudah stress dan hampir bunuh diri anak saya 3 orang masih sekolah di smp / sma dan juga anak sememtarah kuliah,tapi suami saya pergi entah kemana dan meninggalkan saya dan anaka-naknya ditengah tagihan hutang yang menumpuk,
      demi makan sehari hari saya terpaksa jual nasi bungkus keliling dan kue,
      ditengah himpitan ekonomi seperti ini saya bertemu dengan seorang teman
      dan bercerita kepadanya, alhamdulilah beliau memberikan saran kepada saya.
      dulu katanya dia juga seperti saya setelah bergabung dengan KH. JAYA hidupnya kembali sukses,
      awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama satu minggu saya berpikir
      dan melihat langsung hasilnya, `
      saya akhirnya bergabung dan mengunjung websiteNya http://hibabdanagaib.logdown.com
      semua petunjuk KH. JAYA saya ikuti dan hanya 1 hari astagfirullahallazim,
      alhamdulilah demi allah dan anak saya,
      akhirnya 5m yang saya minta benar benar ada di tangan saya,
      semua utang saya lunas dan sisanya buat modal usaha,
      kini saya kembali sukses terimaksih KH. JAYA saya tidak akan melupakan jasa aki.
      jika teman teman berminat, yakin dan percaya insya allah,
      saya sudah buktikan demi allah silahkan kunjungi web resmi di http://hibahdanagaib.logdown.com/ atau KLIK DISINI



































































































      Delete
  2. punya info spbu di jakarta yg menerima pembayaran pake brizzi ga ya? thx sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. So sorry, Mas Aditya, saya tidak punya. Tetapi seharusnya semua SPBU di Jakarta sudah bisa menerima pembayaran via uang elektronik. Soalnya, berdasarkan berita, daerah-daerah di luar Jakarta SPBU-nya sudah bisa dibayar dengan uang elektronik.

      Delete
  3. punya info spbu di jakarta yg menerima pembayaran pake brizzi ga ya? thx sebelumnya

    ReplyDelete