بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Survive di Jakarta: Copet!

By 8:56 AM

Alhamdulillah selama seperlima abad hidup, saya tidak pernah kecopetan. Ketipu baru dua kali kayaknya. Yang satu ditipu di masjid, yang satu ditipu oleh ibu-ibu berjilbab lebar. Titik lemah banget ya itu, haha. My Achilles' heel. Ketika tampilan, tempat, dan berbagai alasan membuat saya merasa iba kepada mereka dan membangkitkan sisi-sisi perasaan semacam "ini ada saudaramu datang dan meminta tolong kepadamu". Karena kata "saudara", "saudara seaqidah" lebih tepatnya, mencencang sebuah makna yang lebih dari "orang yang baru dikenal".

Waktu itu pun sebenarnya sudah waspada, sudah berfirasat kalau itu adalah penipuan.

Tetapi saya selalu teringat kisah Umar bin Khaththab, Salman Al-Farisi, dan seorang pemuda (lengkapnya bisa dibaca di link-link ini) ketika saya terjebak di kondisi-kondisi tersebut. Khususnya satu kalimat dari Salman Al-Farisi ini saat ia ditanya mengapa ia melakukan hal-hal yang ia lakukan:

“Agar jangan sampai dikatakan di kalangan Muslimin tak ada lagi saling percaya dan menanggung beban saudara.”

***

Balik lagi ke soal copet, saya sudah beberapa kali menyaksikan korban copet ada di depan mata. Yang pertama di angkutan pakai modus tukang pijat. Yang kedua di kopaja. Dua jam yang lalu.

Saya sadar dia copet karena dia sok-sok sempit gitu, jadi ndusel-ndusel. Kemudian, yang aneh, kalau saya mau turun dari kopaja, saya cenderung mengeluarkan hape dan memegangnya. Nah ini, ada orang, malah masukin hapenya (hape curian, tepatnya) ke kantong belakang. Perilaku "enggak takut dicopet" itu membuat saya yakin kalau dia adalah copet.

Ini ada beberapa cara yang saya lakukan untuk meminimalisasi potensi dicopet, semoga membantu bagi para ukhti-ukhti pengguna transportasi ibu kota:

  1. Pakai tas ransel. Karena tas ransel ini cenderung lebih aman daripada shoulder bags. Kalau pakai shoulder bag, walaupun sudah dipeluk di depan, kalau kita bengong pasti separuh bagian shoulder bag bakal balik lagi ke belakang. Dan ini copetable. Kalau ransel kan ketika sudah digendong di depan, dia enggak akan ke mana-mana. Pakai yang resletingnya banyak. Kalau resletingnya dua, posisikan resleting di ruang kendali *tsah*. Kemudian, sediakan receh/kartu-kartu e-money (untuk ongkos) di kantong tas terdepan, jadi tidak perlu mengeluarkan dompet lagi ketika mau bayar transportasi.
  2. Pakai dompet yang jumbo-sized. Biar susah dicopet. Muehehe.
  3. Kenakan earphone berkabel. Untuk mendengarkan apa saja. Radio kek. Rekaman rapat kek. Karena kalau pakai earphone yang ada kabel-kabelnya, mau dicopet juga ribet kan. Dan ya, earphone wireless adalah penemuan yang kurang mutakhir buat pengguna angkutan publik. Terus, kalau tiba-tiba suaranya mati, kita kan bisa langsung alert.
  4. Kalau ada orang menyarankan hapenya untuk dimasukin ke tas, jangan mau. Atau mau, tapi di tas yang paling dalam dan paling ribet. Dari yang sudah-sudah, si penyaran itu malah copetnya. Lebih mudah mencopet dari tas daripada dari genggaman kan.
  5. Kalau ada orang mepet-mepet, langsung Siaga 3. Lihatin orang itu dengan tatapan aneh, seakan berkata "Hello Mas, di situ masih lega kali bisa guling-guling," sambil tangan kita meraba-raba tas kita sendiri. Biar orang-orang sekeliling juga pada alert. Di kejadian tadi, saya mempraktikkan itu dan orang-orang sekeliling langsung pada mengerti juga. Yang kecopetan jadinya adalah orang yang nun jauh di sana. Kasihan :(
  6. Waspada. Jangan bengong. 

You Might Also Like

0 comments