بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Abu-abu

By 8:56 PM

Orang-orang yang usianya lebih tua sering berkata; bahwa kelak, suatu saat, ketika kamu telah dewasa, kamu akan menemukan bahwa dunia ini tidak melulu hitam dan putih, tetapi juga abu-abu. Dan kamu tak dapat mengubah apa-apa. Hanya bisa bercerita kepada generasi di bawahmu, bahwa, "Ketika kalian sudah dewasa, kalian akan tahu kalau dunia ini tidak hitam dan putih melulu, tetapi juga bisa abu-abu."

Orang-orang yang usianya lebih tua juga sering berkata; tak usahlah berharap cepat-cepat jadi dewasa. Karena kelak, suatu saat, ketika kamu mendapati dirimu lebih menua, kamu akan meminta banyak keajaiban dalam tiap kayuhan berlarimu. Agar, entah bagaimana, ada langkah lari yang jeblos, yang kemudian mendamparkan lagi dirimu ke masa kanak-kanak.

Jum'at hari itu, beberapa hari setelah kenaikan harga BBM, saya ke Terminal Senen, hendak pulang dari kantor. Kopaja AC yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Akhirnya saya naik kopaja reguler. Dari keneknya saya tahu, bahwa awak kopaja AC sedang demo. Entah demo karena harga BBM naik, atau demo karena Kopaja S602 berubah trayek; melewati Terminal Senen, yang artinya bisa menjarah sebagian pelanggan mereka.

Kopaja reguler tidak melewati jalur Transjakarta. Maka saya harus menyaksikan segala hingar bingar jalanan, bau kemacetan, gerutuk kelelahan, dan lampu-lampu kendaraan, bergumul jadi satu dalam kilatan yang sangat lambat; karena saya terjebak di keruwetan itu (ingat teori relativitas bahwa waktu akan melambat ketika kita sedang mengalami hal-hal tidak enak).

Berbeda dengan Kopaja AC yang boleh melalui jalur Transjakarta, Kopaja Reguler dengan tarikan yang sudah tak mulus lagi, dengan rem-rem mendadak dan misuh-misuh yang lebih pasar dan lebih nyaring, memang tak boleh masuk busway dan terasa lebih menyiksa. Stress di jalanan itu nyata adanya.

Di suatu titik, sang supir sepertinya mendadak lelah dengan kemacetan. Kopaja yang saya naiki itu kemudian segera masuk ke jalur Transjakarta.

Entah kalian polisi, entah kalian pecinta kebenaran-keadilan-dan-peraturan, berada di Kopaja-Reguler-terjebak-macet-yang-nekat-menerabas-jalur-Transjakarta itu bisa membawa kebahagiaan tersendiri lho. Apalagi kalau kalian tak kebagian kursi.

"Akhirnya lebih cepat sampai rumah. Akhirnya penderitaan rutin segera berlalu." 

Lucu, karena saya pun kerap mengucap hamdalah di sela peristiwa yang sebenarnya melanggar hukum tersebut.

Pada lampu merah di ujung jalur Transjakarta, ternyata ada polisi. Naas bagi supir, lampu merah menyala sehingga ia tidak bisa tancap gas menghindari polisi. Polisi pun langsung menegur supir kopaja yang saya naiki.

"Kenapa kok lewat sini?"
"Macet banget, Pak. Udah keterlaluan macetnya." Pak Supir ngomong begitu sambil ngasih Rp10 ribu. Dan sesederhana itu pulalah polisi tersebut memutuskan berlalu.

"Gila, gue kasih ceban mau!" Pekik si supir setelah polisinya pergi. Mungkin kepada kenek, mungkin kepada penumpang, mungkin kepada lelangit Indonesia atau ranah berantah yang tidak pernah bisa ia raba. Mengejek integritas yang harganya sudah sedemikian murah.

Dan di saat itu, saya lagi-lagi tersadar bahwa dunia memang tidak akan pernah hitam dan putih saja.

Kebijakan mobil murah, armada Transjakarta yang minim dan sering meledak (secara harfiah), KRL yang tumpang tindih, monorel yang gagal lagi gagal lagi, subway yang hampir-hampir mustahil, penduduk dan pendatang yang semakin banyak. Punya kendaraan sendiri susah, naik transportasi umum susah. Peraturan dan kondisi yang amat karut-marut. Perkelindanan benang kusut.

Repotnya lagi, selalu ada sisi-sisi manusia, sisi-sisi emosional, yang mau tak mau jadi objek hunusan bilah-bilah peraturan dan realitas. Apa yang dilakukan oleh orang tua yang dalam posisi mengetahui bahwa anak kecilnya menunggu di rumah, sementara mereka di dalam mobil pribadinya sedang terjebak di tengah kemacetan, kemudian melihat jalur Transjakarta sepi lengang dan berpembatas rendah?

Awalnya saya setuju gerakan-gerakan semacam kick busway. Tetapi lama-lama, setelah merasakan sendiri roda-roda jalanan, saya mahfum. Kita hanya manusia, yang berjuang hidup, yang tinggal di negara berkembang, yang negaranya masih mereka-reka dan membongkar-pasang banyak pengaturan, yang negaranya masih meraba-raba jalan.

Sedangkan secara fitrah, kita ini dari zaman batu sudah dikaruniai rasa lelah, rasa cinta, dan rasa merindukan rumah. Dikaruniai segala kemanusiawian.

Kontradiksi itu (ketika hal-hal yang manusiawi harus hidup di negara yang tak manusiawi), mau tidak mau membuat hati kita selalu bertikai, mencoba menarik garis batas halal-haram dalam substansi-substansi yang paling sepele. Dan memilah halal dan haram ternyata pekerjaan yang cukup membuat limbung. Karena seringnya, kondisi yang idealnya hanya punya satu garis dan dua bagian (halal dan haram), bermetamorfosa jadi dua garis dan tiga bagian (halal-kelabu/syubhat-haram). Sungguh kita ini selemah-lemahnya makhluk.

Saya pernah bertanya ketika kuliah dulu. Seperti yang kita tahu, menikah bisa memiliki beberapa jenis hukum. Bisa jadi ia haram, bisa jadi ia wajib, tergantung kondisi. "Dan ketika nikah sudah mencapai hukum wajib, sedangkan kita terjebak pada kontrak dengan institusi untuk tidak menikah dalam jangka waktu tertentu, mana yang harus kalah? Kewajiban menikah, atau kewajiban untuk tidak menikah?"

Mentor saya tidak menjawab.


Susah memang. Mau mayoritas kek, minoritas kek, menegakkan Islam di diri kita sendiri itu susah. Ketika Allah membolehkan, eh kepentok sama aturan manusia. Ketika Allah melarang, eh malah manusianya yang memboleh-bolehkan (walaupun kalau kondisinya begini, keharamannya sudah lebih jelas). Tapi mungkin di situlah ujiannya, tantangannya. Romantismenya.


Semoga Jakarta (dan daerah-daerah lainnya) dapat sesegera mungkin menjadi kota yang tak lagi menyediakan alternatif-alternatif menyiksa sehingga memaksa penduduknya untuk melanggar banyak peraturan supaya kemanusiawiannya terbela. Semoga Jakarta (dan daerah-daerah lainnya) dapat sesegera mungkin menjadi kota yang manusiawi untuk ditinggali, sehingga kita tak perlu sering-sering berkutat di kubangan abu-abu.

You Might Also Like

0 comments