بسم الله الرحمن الرحيم

herstory...

just another stories about girl who's trapped in me

Perkara Dinamika

By 3:18 PM



Haloo :D

Sudah hampir dua tahun saya bekerja, dan mengenai tulisan sebelumnya, saya merasa harus banyak melakukan update. Banyak berdiskusi dan mengamati membuat saya punya beberapa sudut pandang baru saat ini.

Ketika saya membaca lagi paragraf ini:


“Iya, sesungguhnya seni yang paling sulit dalam TKD adalah menentukan keinginan. TKD ibarat titik percabangan di mana kita harus memutuskan ke mana arah dan tujuan hidup kita selanjutnya. Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun—kecuali kalau kita penyuka tantangan dan berani untuk membentuk titik percabangan lain di usia kita yang 30 atau 40; mungkin dengan keluar dari Kementerian Keuangan dan meloncat ke ladang amal yang lain.”



“Lokasi kerja di pusat berarti strukturnya itu-itu aja, kantornya itu-itu aja, jadi jenjang karier juga gitu-gitu aja. Tapi lokasi kerja di pusat juga bisa bermakna lain: kepastian. Kepastian adalah mata uang yang sulit didapat kalau kita berbicara menyoal pemerintah.”

Saya merasa menggambarkan organisasi sebagai sesuatu yang ajeg dan jarang sekali mengalami perubahan. Padahal, kenyataannya, organisasi pemerintahan—khususnya Kemenkeu—adalah organisasi yang sangat dinamis. Sangat, sangat dinamis. Di pusat atau di daerah, semuanya dinamis.

Kita akan banyak melihat orang datang dan pergi. Datang ke dan pergi dari kubikel-kubikel di kanan-kiri-depan-belakang kita, maupun ruangan-ruangan atasan di kantor kita. Dan dinamisnya organisasi itu terbukti juga dengan pola penempatan anak STAN yang berubah-ubah. Angkatan yang (per 2016 ini) lagi magang saja, memilih penempatannya sudah bukan lagi memilih “eselon satu Kemenkeu mana yang ingin ditempati”, tetapi memilih “Kementerian mana yang ingin ditempati”.

“Instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD, akan menjadi tempat kita bekerja sampai pensiun…”

Nope. Not really.

Dari tempat saya berdiri sekarang, saya melihat TKD dan pemilihan instansi awal sebagai titik yang sangat kecil—meski titik yang sangat kecil itu cukup berpengaruh banyak khususnya ke pola pikir kita. Jadi, di manapun penempatannya, bertemanlah dengan banyak orang-orang baik dan punya sudut pandang luas. Bertemanlah dengan orang-orang yang tidak cuma bisa mengajak jalan-jalan atau traveling, tetapi juga orang yang tahu, kondisi negara, misalnya. Orang-orang yang sebenarnya punya excuse untuk menginap di Sofitel Bali, tetapi memilih di tempat yang standar saja karena tahu keuangan negara lagi cekak. Orang yang bisa diajak ngobrol kebijakan terbaru kayak amnesti pajak, roadmap cukai rokok, dan sebagainya. Bukan karena sok pintar atau apalah, tetapi karena hal-hal yang seperti itu dapat memperluas sudut pandang kita. Selain karena ngobrol bareng orang yang sudut pandangnya luas itu tidak pernah membosankan, sudut pandang dan pola pikir itu sifatnya jangka panjang. Makanya, bentuk sedini mungkin :)

Lagi pula, ke depannya, ada banyak sekali lelang jabatan, kebutuhan pegawai di luar rekrutmen PNS, dan sebagainya, yang apabila kita mau berusaha untuk mengikuti persyaratannya, bisa membuat kita tidak duduk bekerja di situ-situ saja. Sehingga, instansi yang kita dapatkan berdasarkan hasil TKD/kocokan penempatan, tidak menentukan kita akan pensiun di mana.

Di kantor saya juga banyak sekali kesempatan untuk mencicipi rasanya bekerja di luar Kemenkeu. Bukan hal yang mustahil untuk bekerja dan belajar di kantor IMF, World Bank, ADB, dan sebagainya, selama dua atau tiga tahun untuk nanti kembali lagi ke “rumah”. Bahkan secondment ke pemerintahan/lembaga di Australia pun bisa.

Tinggal sekeras apa usaha dan doa kita saja.

Jadi, meski penempatannya kurang sesuai dengan keinginan, atau ternyata pilihan kita realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi, jangan berlama-lama kecewa dan menatap nanar rumput tetangga. Siapkan tenaga untuk perjuangan baru: kuliah, banyak berdiskusi (yang bukan gosip), menambah skill baru, dan mengikuti dinamika yang ada. Tetap berbuat yang terbaik untuk negara ini. Bekerja, kalau diniatkan ibadah, jatuhnya ibadah juga kan?

Tetap bergerak. Karena, air yang diam mengendap lama itu sumber penyakit. Karena, hanya ikan mati yang ikut saja ke mana air mengalir.

You Might Also Like

2 comments

  1. Makasih banyak mbak. Artikelnya bagus, menginspirasi banget buat menentukan langkah setelah yudisium, tkd, trus wisuda tahun ini. Ditunggu tulisan lainnya yaa mbak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya Dek sudah menyempatkan untuk baca. Semoga sukses untuk setiap keputusan yang diambil :D

      Delete